TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Mar
12

1 Petrus 3:1-2 mengatakan: “Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.”
Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.
Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya,

Perhatian Rasul Petrus disini adalah mengenai laki-laki dan wanita yang telah menikah dan yang baru menerima Kristus, dan yang mengalami masalah mengenai bagaimana mereka harus bersikap terhadap suami atau istri yang masih belum percaya dan menentang iman mereka.
Nasihat Rasul Petrus kepada para istri Kristen adalah:
Ia harus tunduk, peran istri secara Alkitabiah adalah untuk tunduk kepada pimpinan suaminya, dalam Kitab 1 Korintus 11:3 mengatakan: “Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.”

Kitab Efesus 5:22-24 juga mengatakan: “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.”
Ini tidak menunjukkan bahwa istri mempunyai karakter, kepandaian atau kerohanian yang lebih rendah. Dalam kenyataannya, bahkan dalam militer, tidak perlu seorang pemimpin itu lebih tinggi kemampuannya dari seorang bawahannya. Tetapi otoritasnya sangat penting dalam menjalankan tugasnya secara efisien.

Para istri harus tunduk kepada ‘suamimu’ dan bukan pada semua laki-laki, kepatuhan istri kepada suaminya merupakan ungkapan kasihnya yang indah dan komitmennya kepada dia.
Ketika seorang suami yang bukan Kristen memilih untuk ‘tidak taat kepada Firman’, istrinya yang percaya harus tunduk kepada suaminya agar suaminya boleh dimenangkan kepada Kristus ‘tanpa perkataan.’
Ini tidak berarti bahwa Firman Allah tidak penting bagi keselamatan manusia. Ini hanya berarti bahwa jika seorang suami menolak Firman Tuhan, istrinya harus menarik suaminya kepada Tuhan melalui kerendahan hatinya dan hidup saleh. Sikap murah hati, lemah lembut, tunduk, dan penuh kasih merupakan salah satu cara penginjilan yang paling efektif yang dapat dilakukan istri untuk membawa suaminya kepada Tuhan.

Ia harus setia, “Murni dan saleh” (ayat 2), memiliki arti menghormati.
Istri dengan sifat murni dan hormat kepada suaminya adalah istri yang setia, ini merupakan kewajiban semua istri Kristen, yaitu agar mereka tetap harus murni dan saleh di hadapan Allah dan suami mereka.

Ia harus sederhana, Petrus memperingatkan para wanita yang sibuk dengan mempersolek diri (Ayat 3), banyak wanita di kalangan masyarakat Romawi mewarnai rambut mereka dengan warna yang aneh dan mengepangnya secara berlebihan. Mereka juga menyukai perhiasan yang mahal, pakaian yang indah dan juga kosmetik yang mahal. Hasrat untuk cantik dan mentereng seperti ini tidak konsisten dengan rancangan Allah bagi wanita Kristen.
Dalam Kitab Yesaya 3:18-24, TUHAN berfirman: Oleh karena wanita Sion telah menjadi sombong dan telah berjalan dengan jenjang leher dan dengan main mata, berjalan dengan dibuat-buat langkahnya dan gemerencing dengan giring-giring kakinya, maka Tuhan akan membuat batu kepala wanita Sion penuh kudis dan TUHAN akan mencukur rambut sebelah dahi mereka.

Pada waktu itu Tuhan akan menjauhkan segala perhiasan mereka: gelang-gelang kaki, jamang-jamang dan bulan-bulanan; perhiasan-perhiasan telinga, pontoh-pontoh dan kerudung-kerudung; perhiasan-perhiasan kepala, gelang-gelang rantai kaki, tali-tali pinggang, tempat-tempat wewangian dan jimat-jimat; cincin meterai dan anting-anting hidung; pakaian-pakaian pesta, jubah-jubah, selendang-selendang dan pundi-pundi; cermin-cermin, baju-baju dalam dari kain lenan, ikat-ikat kepala dan baju-baju luar.
Maka sebagai ganti rempah-rempah harum akan ada bau busuk, sebagai ganti ikat pinggang seutas tali, sebagai ganti selampit rambut kepala yang gundul, sebagai ganti pakaian hari raya sehelai kain kabung; dan tanda selar sebagai ganti kemolekan.

Petrus menasehatkan kepada mereka untuk memberikan perhatian mereka atas “manusia batiniah yang tersembunyi.” yaitu keindahan sejati karakter, kebajikan, kerohanian dalam diri orang Kristen. Kata “sederhana” merujuk pada kerendahan hati dan kelemah lembutan. Ini adalah sifat orang yang menolak melakukan pembalasan, tetapi selalu menunggu tindakan Allah.
“Roh yang tenteram” menunjuk pada sifat damai dan lembut dari seseorang.
Sikap sederhana dan lembut menunjukkan keindahan rohani yang sangat berharga di hadapan Allah. Perhatian utama dari wanita yang saleh bukanlah penampilan luarnya, tetapi keindahan karakternya di hadapan Allah.

Mar
10

“Because of faith, Noah built the ark in the middle of dry land … .. Book of Hebrews 11:7 says: By faith, then Noah – with God’s instructions about things not yet seen – with prepared an ark to save his family, and because faith he condemned the world, and he determined to accept the truth, according to the faith.
We can imagine a situation where on one day God came to Noah and said, “I’m disappointed with mankind. Around the world, no one but you are thinking about me. But Noah …, when I saw you, I began to smile. I’m happy with your life, so I’ll cover the world with a flood and start over with your family life. I want you to build a giant boat which will save their animals. ”

Actually in human logic, there are problems that can cause Noah to be indecisive. First he must pass his inner conflicts in obedience by faith, Noah had never seen rain, because before the flood, God irrigate the earth from the bottom of the earth (Genesis 2:5). Second, Noah lived hundreds of miles from the nearest ocean. Although he could learn to build the ark, how he could bring the ark into the water? Third, there is a problem in collecting all the animals and then maintain it. In addition, he must show his authority as head of the family to be followed every member of his family, where the future of his family will be taken?

Maybe one time we are faced with circumstances such as full, thanks to which we will receive demand full compliance with the full faith and firmness in obedience to God as the head of the family to be able to take major decisions to bring our families into a covenant with God, where by we receive renewal of life and the abundance of God’s blessing.
The problem will not end as long as we still are in the world and God wants to see the attitude of our hearts. The problems that come it may be confiscated the years of our lives, sometimes makes us feel very heavy to pass through but we still have to pass with thanksgiving.

Noah did not complain or make excuses. He trust God completely, and it makes God to smile. Trusting God completely means having faith that He knows what is best for our lives. We hope that He keep His promises, to help us in every problem and do the impossible when necessary.
The Bible says, “God’s love to those who fear Him, to those who hope to His unfailing love (Psalm 147:11). Noah require 120 years to build the ark. We imagine that he faced many a long day, with no sign of rain year after year. They criticized him harshly as’ a madman who thinks that God speaks to him. ”

We imagine the children of Noah are often embarrassed by the giant boat being built in front of them, but Noah still believe in God. Believing is an act of worship, just as parents pleased when the children believe their love and wisdom, our faith makes God happy. The Bible says: “But without faith it is impossible person acceptable to God. For whoever would draw near to God must believe that God exists and that God rewards those who earnestly seek Him. (Hebrews 11:6)

Saving the population of animals from the flood all the world needs great attention to logistics and details. Everything must be done exactly as God chooses. And Noah is one who obeyed, he obeyed exactly (in the manner and time that God wants for the ark was finished).

If God asks us to build a big boat, we might have some questions, objections, or reluctance. But Noah was not, he is obeying God with all heart, it means doing whatever God asked without reluctance and hesitation. When Noah obeyed God’s command to build an ark that almost did not make sense in human thinking that moment he had begun dealing with conflict.
God does not owe us an explanation or reason for everything that He asks us to do. Understanding can wait, but obedience can not, adherence to which will soon teach us about the smile of God than the Bible discussion lifetime.

Mar
08

“Karena Iman, Nuh membangun bahtera di tengah-tengah tanah kering…..Kitab Ibrani 11:7 mengatakan: Karena iman, maka Nuh — dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan — dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.

Kita bisa membayangkan situasi dimana pada suatu hari Allah mendatangi Nuh dan berkata, “Aku kecewa dengan umat manusia. Di seluruh dunia, tidak seorang pun kecuali kau yang memikirkan-Ku. Tetapi Nuh…, ketika Aku melihatmu, Aku mulai tersenyum. Aku senang dengan hidupmu, jadi Aku akan meliputi dunia dengan air bah dan memulai kembali kehidupan ini dengan keluargamu. Aku ingin kau membangun sebuah perahu raksasa yang akan menyelamatkanmu beserta binatang-binatang.”

Sebenarnya dalam logika manusia, ada masalah-masalah yang bisa menyebabkan Nuh bimbang.
Pertama, dia harus melewati konflik batinnya dalam ketaatan karena iman,, Nuh tidak pernah melihat hujan, Karena sebelum air bah, Allah mengairi bumi dari dasar bumi (Kejadian 2:5 “belum ada semak apa pun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu”).
Kedua, Nuh hidup ratusan mil dari samudera terdekat. Meskipun dia bisa belajar membangun bahtera, bagaimana dia bisa membawanya ke air?
Ketiga, ada masalah dalam mengumpulkan seluruh binatang dan kemudian memeliharanya. Selain itu dia harus menunjukkan otoritasnya sebagai kepala keluarga yang harus diikuti setiap anggota keluarganya, kemana masa depan keluarganya akan dibawa?

Mungkin suatu waktu kita diperhadapkan keadaan seperti Nuh, berkat yang akan kita terima menuntut ketaatan penuh dengan iman dan ketegasan dalam ketaatan kepada Allah sebagai kepala keluarga untuk bisa mengambil keputusan-keputusan yang besar untuk membawa keluarga kita ke dalam perjanjian dengan Allah, dimana kita menerima pembaharuan hidup dan kelimpahan berkat Tuhan.
Masalah tidak akan berakhir selama kita masih berada di dalam dunia dan Tuhan ingin melihat sikap hati kita. Masalah-masalah yang datang itu mungkin akan menyita tahun-tahun kehidupan kita, kadang membuat kita terasa sangat berat untuk melewatinya tapi kita tetap harus melewatinya dengan ucapan syukur.

Nuh tidak mengeluh atau membuat alasan. Dia mempercayai Allah sepenuhnya, dan hal tersebut membuat Allah terseyum. Mempercayai Allah sepenuhnya berarti memiliki iman bahwa Dia tahu apa yang terbaik bagi kehidupan kita. Kita berharap bahwa Dia memelihara janji-janjiNya, membantu kita dalam setiap masalah dan melakukan hal yang mustahil bila perlu.
Alkitab berkata, “Tuhan senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya (Mazmur 147:11). Nuh memerlukan 120 tahun untuk membangun bahtera tersebut. Kita membayangkan bahwa dia menghadapi banyak hari yang melelahkan, tanpa adanya tanda hujan tahun demi tahun. Dengan kasar mereka mengkritik dia sebagai ‘seorang yang gila yang berpikir bahwa Allah berbicara kepadanya.’

Kita membayangkan anak-anak Nuh sering kali malu dengan perahu raksasa yang sedang dibangun didepan mereka, namun Nuh tetap mempercayai Allah. Percaya adalah tindakan penyembahan, sama seperti orang tua disenangkan ketika anak-anak mempercayai kasih dan hikmat mereka, iman kita membuat Allah senang. Alkitab berkata: “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. (Ibrani 11:6)

Menyelamatkan populasi binatang dari air bah seluruh dunia membutuhkan perhatian besar terhadap logistic dan rincian. Segala sesuatu harus dikerjakan sama seperti yang Allah tentukan. Dan Nuh adalah orang yang taat, dia menaati dengan tepat (dengan cara dan waktu yang Allah inginkan agar bahtera itu selesai).
Andaikata Allah meminta kita untuk membangun sebuah perahu besar, kita mungkin memiliki beberapa pertanyaan, keberatan, ataupun keengganan. Tetapi Nuh tidak, dia menaati Allah dengan segenap hati, itu berarti mengerjakan apapun yang Allah minta tanpa keengganan dan keraguan. Ketika Nuh menaati perintah Allah dengan membangun sebuah bahtera yang hampir tidak masuk akal dalam pemikiran manusia saat itu pula dia sudah mulai menghadapi konflik.
Allah tidak berhutang pada kita suatu penjelasan atau alasan untuk segala sesuatu yang Dia minta untuk kita lakukan. Pemahaman bisa menanti, tetapi ketaatan tidak bisa, ketaatan yang segera akan mengajar kita tentang senyuman Allah daripada diskusi Alkitab seumur hidup.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 964 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: