TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Mei
20

Menjelang malam murid murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa .“ Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi , kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat , lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikanya kepada murid murid-Nya, lalu murid murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak dan mereka semuanya makan sampai kenyang .
Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

Cerita tentang pelayanan Yesus Kristus ini di catat di dalam kitab Injil Matius 14:13-21 dan Injil Yohanes 6:5-15 dan gambaran yang bisa kita ambil di atas bahwa ada 4 tokoh yang mewakili orang Kristen percaya saat ini;
Tokoh yang pertama, adalah Orang Banyak. Injil Yohanes 6:1-2 mencatat: “Sesudah itu Yesus berangkat keseberang danau Galilea yaitu danau Tiberias, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan yang di adakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Kita melihat disini banyak orang mengikuti Yesus tapi dengan motivasi yang salah, motivasi mereka mengikuti Yesus bukan dari iman yang sesungguhnya melainkan hanya karena mereka ingin melihat mujizat.

Dan ada juga begitu banyak orang yang menginginkan mujizat kesembuhan terjadi dalam kehidupannya tapi untuk menerima Dia sebagai Juruselamat/messias adalah hampir tidak masuk akal dalam pikiran mereka. Bagaimana mereka mau menerima Dia sebagai Juruselamat, Dia hanyalah anak seorang tukang kayu tapi kenapa Dia bisa melakukan mujizat? Hal itulah yang menjadi perdebatan sepanjang sejarah, Kebiasaan dari sekelompok orang banyak ini adalah ketika mereka sudah terbentur pada keadaan dimana uang sudah tidak bisa diandalkan lagi, tabib atau dokter sudah angkat tangan tidak bisa berbuat apa-apa, mereka baru mau menyerahkan hidup mereka kepada pilihan terakhir mereka; “Apapun itu sembuhkanlah saya.”
Dimana Tuhan ketika mereka senang? Ketika mereka kaya? Ketika mereka berpangkat? Ketika mereka dalam status sosial yang tinggi? Ketika mereka tercukupi? Tuhan hanya disimpan dalam lemari buku dalam kitab yang kudus, yang hanya bisa di buka sekali seminggu atau sekali setahun itupun kalau ada waktu senggang dan sukacita dalam hati.

Tokoh yang kedua, adalah Filipus. Injil Yohanes 6:5-7 mencatat: “Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Dimanakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Hal ini dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.”

Filipus adalah salah satu murid Yesus yang dalam urutan rasul-rasul namanya menempati urutan kelima sesudah Yohanes (Lukas 6:12-16), dan dia juga yang telah membawa orang-orang Yunani datang pada Yesus (Yohanes 12:20-22). Tapi kita melihat disini Iman Filipus adalah Iman yang penuh dengan logika, dia mengukur harga Iman itu hanya sampai di bilangan dua ratus dinar, dan itu tidak akan cukup pikirnya.

Dalam pikirannya bagaimana bisa memberi makan 5 ribu orang laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak (Matius 14:21). Dinar atau denarius (Yunani: denarion) adalah mata uang perak Romawi pada waktu itu dan satu dinar adalah upah pekerja harian dalam satu hari. Apabila kita memakai kurs sekarang ini, misalnya upah pekerja harian satu hari adalah Rp. 50.000 x 200 dinar = Rp. 10.000.000. Logikanya Filipus, lima ribu laki-laki dan istri mereka juga anak-anaknya mungkin sekitar lima belas ribu orang yang harus diberi makan. Dia tidak bisa memberi makan dengan uang Rp. 10.000.000 : 15000 orang = Rp. 667/orang
Karena itu dia katakan : “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Paling tidak dia membutuhkan uang Rp. 150.000.000 atau 3000 Dinar untuk makan Rp. 10.000/orang dari lima belas ribu orang.

Iman yang dipenuhi dengan logika tidak akan bisa melihat mujizat Tuhan. Kita mungkin tidak mengalami keadaan seperti Filipus untuk memberi makan sejumlah banyak orang dengan uang yang terbatas, tapi kita mungkin menghadapi masalah keuangan dalam keluarga kita dimana kita harus berjuang ditengah perokonomian yang sulit, kita mungkin kehilangan pekerjaan, kita mungkin harus membayar tunggakan-tunggakan hutang perusahaan kita sementara keuangan kita tidak mencukupi, kebutuhan akan masa depan anak-anak kita dalam studi atau apapun itu, dan kita merasa bahwa mustahil kita bisa keluar dari persoalan tersebut.

Yesus dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang kita hadapi. Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan Firman Allah. Ia melihat dua perahu ditepi pantai, nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik kedalam salah satu perahu itu, yaitu perahu simon dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.
Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukanya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya diperahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.

Filipus dan simon menghadapi seperti juga yang kita hadapi sekarang ini tetapi mereka mau taat kepada perintah. Tuhan ingin kita mau bertolak lebih dalam lagi dalam mengenal akan kebenaran Firman Tuhan karena Dia ingin memberkati kita, apakah kita mau memakai logika atau Iman ketaatan dalam masalah yang kita hadapi? Berkat sedang menunggu kita dalam ketaatan.

Tokoh yang ketiga, adalah Andreas. Injil Yohanes 6:8-9, mencatat: “Seorang dari murid murid-Nya, yaitu Andreas saudara Simon Petrus berkata kepada-Nya: “Disini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan, tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”
Banyak perkara mujizat yang Tuhan buat dihadapan para murid-murid tetapi dimata Andreas, lima roti jelai dan dua ikan hanyalah makanan yang tidak berarti untuk lima belas ribu orang, jika kita tidak memakai mata iman dalam hidup ini maka segala sesuatu yang yang kita kerjakan kelihatan tidak akan ada harapan dan mungkin kita akan melihat bayang-bayang hidup yang tidak jelas karena kita kurang percaya kepada Dia.

Gelombang kehidupan mungkin menghantam hidup kita, dan kita akan berkata saya akan jatuh Tuhan…!! Apakah yang tersisa pada kita sekarang? setitik Iman? Setitik percaya? setitik pengharapan? setitik talenta? Atau sekalipun yang terkecil dalam hidup kita. Tuhan mau pakai itu untuk perkara yang luar biasa untuk kemuliaan nama-Nya tapi sampai dimanakah kepercayaan kita kepada Dia.

Petrus dalam ketakutannya mulai tenggelam ketika dia merasakan tiupan angin ketika dia berjalan diatas air untuk menemui Yesus. Apa yang dikatakan Tuhan Yesus? “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Matius 14:30-31). Badai boleh datang, gelombang boleh menerpa kita tapi biarlah pandangan Iman kita itu tetap fokus pada Yesus dan kita akan melihat perkara ajaib dan luar biasa, Tuhan akan kerjakan bagi kita.

Tokoh yang keempat, adalah Anak kecil, Injil Yohanes 6:9, mencatat: “Disini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan, tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”. Pelayanan Yesus tidak terbatas pada usia, status sosial, atau salah satu suku bangsa tapi mencakup pelayanan yang universal. Dan anak kecil ini memberikan gambaran tentang ketulusan hati, tidak egois dan percaya dalam iman yang sejati.
Dia mempercayai Yesus dan memberikan semua miliknya untuk bisa memberkati banyak orang dan dia percaya bahwa dia tidak akan kehilangan apapun apabila dia memberikan apa yang Yesus minta. Kenapa anak kecil yang memberikan lima roti jelai dan dua ikan kepada Yesus, apakah orang-orang dewasa tidak membawa bekal, selain anak kecil tersebut?

Kadang kala rasa tidak percaya dan takut kehilangan milik sendiri sering menjadikan kita egois sehingga menutup mata hati kita untuk memberkati orang lain, bahkan mungkin kita lebih percaya kepada uang atau harta benda kita dari pada kita mempercayai Yesus sebagai sumber berkat.
Hari semakin larut malam, kehidupan dunia ini akan lenyap dengan segala keinginannya, dunia sedang menangis dalam kehancurannya dan masih banyak orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita, entah mungkin mereka lapar akan Firman Tuhan ataupun mereka diam dalam keegoisan mereka, yang jelas Tuhan tetap mengasihi mereka dan Tuhan membutuhkan hati seperti seorang anak kecil untuk melayani mereka. Apakah kita memiliki hati itu?

Apr
18

Gospel of Luke 4:1-13: “Jesus, full of the Holy Spirit, returned from Jordan and was led by the Spirit into the wilderness. There being forty days tempted of Satan. Over there he did not eat anything and after that time he was hungry.
Then the devil said unto him, If thou be the Son of God, command that these stones become bread. ”
Jesus answered him: “It is written, Man shall not live by bread alone.”

Then he took him to a high place and in a trice he showed Him all the kingdoms of the world. The devil said to him: “All that power and glory will I give thee, for all these things have been handed over to me and I give it to anyone who want to do. So if you worship me, all will be Yours. “But Jesus said to him:” It is written, Thou shalt worship the Lord thy God, and him only shalt thou serve! ”

Then he brought him to Jerusalem and put him on the pinnacle of the temple, and said unto him, If thou be the Son of God, throw Yourself down from here, for it is written: About You, He will command His angels to protect you, and they will hold you in his hands, so your feet do not stumble on stones. “Jesus answered, saying:” There shall not tempt the Lord thy God! ”

When the devil had ended every temptation, he departed from Him and waiting for a good time. Perhaps we imagine there were three separate incidents that spread within forty days in the wilderness, but in reality, the temptation was coming nonstop. When the full forty days used Satan to tempt Jesus, Satan did not want to let go of this golden opportunity every step Jesus is whispering back and every turn of his journey there is a sprinkling of doubt.

To be sure, Jesus Man experience inner struggle but that does not make He resigned, he never ceased to fulfill the Father’s plan to save mankind. Hebrews 12:2 presents an interesting statement, ‘Since we have many witnesses, like a cloud that surrounds us, let us lay aside every weight and sin which clings so closely, and run with patience the race that is set before us.

Let us do it with eyes that turned to Jesus, who leads us in faith, and who brought it to the perfection of our faith, which by ignoring diligently carried the cross dressing humiliation joy reserved for him who now sits on the right hand of the throne of God ‘.
Jesus does not care that dying on the cross it is a shameful thing.
The shame of it like a disgrace, an insult! Can we imagine the horror that we feel if anyone knows and played it again an embarrassing incident in a videotaped and watched by many people. That’s what Jesus felt. Why? He never did anything embarrassing, but we are embarrassing.
And because the cross God made Him to be sin, 2 Corinthians 5:21 says: “He who knew no sin has made him become sin for us, so that in him we are justified by God.”
Jesus was filled with shame. He was humiliated in front of his family. Stripped naked in front of the mother and in front of all humans. Forced to take up the cross to stumble because of the weight. Humiliated in front of his church. The pastors and elders of his day mocking him.
Humiliated in front of the city of Jerusalem, Condemned to death as criminals.

But a sense of shame in front of people is not worth the embarrassment in front of His Father. Shame we each feel is too much to bear, perhaps we are willing to die for a righteous man but can we willing to die for the guilty and a sin? Can we imagine the collective shame of the whole human race which is borne by one person? Wave after wave of shame overwritten to Jesus, though He never deceive He was sentenced as a cheater, even if he never stole, he is considered a thief, although he never lied, he considered a liar.
Although he was never anxious, he must bear the shame of people who commit adultery, though he always believed, he must bear the shame of people who do not believe.
How is it bravely bear the shame like that? What gave Jesus the strength to bear the embarrassment the whole world? All because He loves us! Like Jesus, we too experienced the trials, like Jesus we are also accused, like Jesus we too embarrassed, but not like Jesus we admit defeat, we escaped.
How can we have a heart like Jesus? What should we do? Focus!
Hebrews 12:2 says, “let us do it with eyes that turned to Jesus, who leads us in faith, and who brought it to the perfection of our faith, which by ignoring diligently carried the cross dressing humiliation joy reserved for him who now sits on the right hand of the throne of God. ”

Apr
14

PengorbananInjil Lukas 4:1-13: “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar.
Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.”
Jawab Yesus kepadanya: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.”

Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus menjawabnya, kata-Nya: “Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”

Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik. Mungkin kita membayangkan ada tiga peristiwa terpisah yang tersebar dalam waktu empat puluh hari di padang gurun, tapi dalam kenyataannya, pencobaan itu datangnya nonstop. Waktu yang penuh empat puluh hari dipakai Iblis untuk menggoda Yesus, Iblis tidak mau melepaskan kesempatan emas ini setiap langkah Yesus ada bisikan mundur dan setiap belokan perjalanan-Nya ada taburan keraguan.

Yang pasti, Manusia Yesus mengalami pergumulan batin tapi itu tidak membuat Ia mundur, Ia tidak pernah berhenti untuk menggenapi rencana Bapa dalam menyelamatkan umat manusia. Ibrani 12:2 menyajikan pernyataan yang menarik sekali, ‘Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah’.
Yesus tidak peduli bahwa mati di kayu salib itu adalah suatu hal yang memalukan.
Rasa malu itu seperti arang di muka, suatu penghinaan! dapatkah kita membayangkan kengerian yang kita rasakan kalau ada yang tahu dan di putar lagi peristiwa yang memalukan itu dalam suatu rekaman video dan ditonton oleh banyak orang. Itulah yang dirasakan Yesus. Mengapa? Ia tidak pernah melakukan sesuatu yang memalukan, melainkan kita yang memalukannya.
Dan karena di kayu salib Allah membuat Dia menjadi dosa, 2 Korintus 5:21 mengatakan: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”.
Yesus dipenuhi malu. Ia dipermalukan di depan keluarga-Nya. Ditelanjangi di depan ibu dan didepan semua manusia. Dipaksa memikul salib sampai tersandung karena beratnya. Dipermalukan di depan gereja-Nya. Para gembala dan penatua zaman-Nya mengejek Dia.
Dipermalukan didepan kota Yerusalem, Dihukum mati sebagai penjahat.

Tapi rasa malu didepan manusia tidak sebanding rasa malu dihadapan Bapa-Nya. Aib kita masing-masing terasa terlalu berat untuk ditanggung, mungkin kita rela mati untuk seorang yang benar tapi dapatkah kita rela mati untuk seorang yang bersalah dan berbuat dosa? Dapatkah kita membayangkan aib kolektif dari seluruh umat manusia yang ditanggung oleh satu orang? Gelombang demi gelombang rasa malu ditimpa kepada Yesus, sekalipun Ia tidak pernah menipu Ia divonis sebagai penipu, sekalipun Ia tidak pernah mencuri, Ia dianggap pencuri, meskipun Ia tidak pernah berbohong, Ia dianggap pembohong.
Meskipun Ia tidak pernah bernafsu, Ia harus menanggung malu orang yang berzinah, meskipun Ia selalu percaya, Ia harus mananggung malu orang yang tidak percaya.

Bagaimana Ia dapat dengan tabah menanggung malu seperti itu? Apa yang memberi Yesus kekuatan untuk menanggung malu seluruh dunia? Semua hanya karena Dia mengasihi kita! Seperti Yesus, kitapun mengalami pencobaan, seperti Yesus kita juga dituduh, seperti Yesus kita juga malu, tetapi tidak seperti Yesus kita mengaku kalah, kita melarikan diri.
Bagaimana kita dapat memiliki hati seperti Yesus? Apa yang harus kita lakukan? Fokus!

Ibrani 12:2 mengatakan; “marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah”.

%d blogger menyukai ini: