TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Des
04

“Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus. Sebab kalau firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal, bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang besar itu…….”(Ibrani 2:1-3).

Inilah dosa yang busuk dan memalukan dari daftar dosa yang lain, dosa ini telah menjatuhkan ribuan orang yang percaya kepada Kristus yang dahulu adalah pengikut Kristus tetapi telah terhanyut meninggalkan kehidupan rohaninya.
Sebagian orang mungkin kita kenal yang penuh dengan kasih yang lembut, memuji dan menyembah Tuhan, setia datang kerumah Tuhan dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial dan kerohanian, tapi pada saat sekarang kita mengenal mereka sebagai orang yang berbeda.
Tiap hari mereka hanyut makin lama makin jauh dari apa yang pernah mereka kenal, meninggalkan Yesus dan menuju kearah yang berlawanan.

Kebanyakan orang yang sedang terhanyut tidak melihat dirinya sebagai yang jahat atau sedang dalam keadaan bahaya. Mereka merasa bahwa mereka tidak pernah berubah dan tetap berinteraksi dengan orang-orang yang ada disekelilingnya, mereka merasa mengasihi Tuhan dengan cara mereka sendiri tapi mereka menghindari pertemuan-pertemuan ibadah, mereka merasa hidup jujur dan bekerja keras, mereka biasanya baik dan suka menolong orang.
Tetapi mereka tidak melihat bahaya di depan dan tidak pernah terpikir dalam benak mereka bahwa mereka telah meninggalkan Yesus.

Semua itu tidak terjadi dalam satu malam, melainkan secara perlahan-lahan, yang akhirnya segala pengajaran dan pengalaman yang pernah dipunyainya bersama Yesus hanya merupakan kenangan yang samar-samar saja, bahkan kelihatannya ingin di lupakannya.
Ini adalah seperti seorang yang sedang hanyut di sebuah perahu di suatu sungai menuju ke arah air terjun. Ia mengayuh pelan-pelan, sambil menikmati suatu hari minggu sore di atas air yang dengan pikiran bebas menikmati alam disekitarnya dan tak pernah memikirkan bahwa bahaya sedang mengintai di depannya.

Pada saat yang sama orang-orang yang berada di sekelilingnya berteriak dari tepi sungai: “berhenti! lekas kayuhkan perahumu ketepi…kamu dalam bahaya! cepat bertindak!” mereka bahkan melemparkan tali penolong untuk menolongnya. Tetapi orang itu dengan tersenyum berkata; “Jangan kuatir, aku tidak apa-apa. Tidak ada masalah di depanku, semuanya beres!”

Jika keadaan kita seperti orang dalam perahu yang sedang terhanyut maka sesungguhnya kita sementara terhanyut meninggalkan Yesus, tidak peduli menurut kita semuanya beres atau tidak, tetapi kita sebenarnya sedang berada dalam keadaan bahaya! Kita sedang terhanyut menuju kebutaan rohani dan kehancuran.
Mungkin kita harus melihat bahwa, sungai dari penelantaran sedang membawa kita  semakin lama semakin jauh dari Tuhan. Dan makin kehilir kita sampai, sungai itu menjadi makin deras dan makin berbahaya! Kita mungkin tidak tahu, tetapi ada air terjun yang ganas di depan kita, suatu tempat di mana ada kekuatan-kekuatan yang tidak dapat kita kendalikan lagi, suatu tempat tanpa titik balik, yang akan berakhir dengan pecahnya perahu kehidupan kita!

Rasul Paulus katakan dalam Alkitab kepada jemaat di Efesus: “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.

Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. (Efesus 4:17-24).

Kita sebagai orang yang percaya kepada Kristus dan telah diselamatkan oleh-Nya jangan biarkan diri kita terhanyut dengan perkara-perkara dan kepentingan duniawi. Kita harus percaya bahwa kita sementara dipelihara Allah untuk menantikan keselamatan yang telah tersedia dan akan dinyatakan pada pada zaman akhir. (1 Petrus 1:5).

Nov
30

The Old Testament is talking about physical circumcision as a sign or seal the agreement, between God and Abraham and his descendants, upon granting the truth of God, where God chooses and marks his own people.

“And God said unto Abraham, Thou shalt keep my covenant therefore, thou, and thy seed after thee in their generations. This is my covenant, which ye shall keep, between Me and you and thy seed after thee; Every man child among you shall be circumcised. And ye shall circumcise the flesh of your foreskin; and it shall be a token of the covenant between Me and you. “(Genesis 17 :9-11)

“And he received the sign of circumcision, a seal of the righteousness of the faith which he had yet being uncircumcised: that he might be the father of all them that believe, though they be not circumcised; that righteousness might be imputed unto them also: And the father of circumcision to them who are not of the circumcision only, but who also walk in the steps of that faith of our father Abraham, which he had being yet uncircumcised.” (Romans 4:11-12).

In addition each member is required to express it outwardly agreement with obeying the law of God, with the firm are also required to Abraham: “I am the Almighty God; walk before me, and be thou perfect.”(Genesis 17:1).

Circumcision is outwardly manifest, implement the promise and called on people to live in obedience based on the agreements that have made expensive demands of God, which is demanding the reality of its application according to the sign of circumcision, the Word of God says … .. I will punish the people who have been circumcised foreskin … .. because all nations are not circumcised and all the people of Israel uncircumcised heart (Jeremiah 9:25-26).
Can we on the demands it?
Therefore the Lord Jesus came to fulfill the law, “Think not that I am come to destroy the law, or the prophets: I am not come to destroy, but to fulfill.” (Matthew 5:17).
The New Testament clearly and definitely say that without obedience, physical circumcision is futile. In Romans 2:23-29 says: “You boast in the law, do you dishonor God by breaking the law? As it is written: “because of you the name of God is blasphemed among the Gentiles.”

Circumcision is of no use, if you obey the law, but if you break the law, your circumcision you no longer use. So if the uncircumcised attention to the demands of the law, would not he be considered the same as people who have been circumcised? If so, then the person who is not circumcised, but that the law, will judge you who have written law and circumcision, but who violate the law.

Because the so-called Jews are not the ones who outwardly Jewish, and the so-called circumcision, circumcision is not the place it outwardly. But the true Jew is he who does not look Jewish and circumcision is circumcision of the heart, spiritually, not literally. And the praise is not from men but from God. “

Circumcision is of no use, if you obey the law, but if you break the law, then your circumcision is no longer any good. Outward sign of fade without meaning when compared to obey God’s commandments. “If a state is called in uncircumcision, he must not try to negate the sign of circumcision. And if a call in a state not circumcised, he must not want to be circumcised. For neither circumcision nor uncircumcision important. The important thing is to obey the laws of God. “(1 Corinthians 7:18-19).

Long before the New Testament, the Word of God had said in Deuteronomy 10:16, “Therefore circumcision is your heart and do not you rigid neck again.”
So the heart circumcision is not a new command in the New Testament but already since the time of the Old Testament when Moses received the command of God to the Israelites.
Therefore we need a “Circumcision of Christ” or the circumcision of the calendar will be the body’s heart is sinful that is a spiritual act that was not done by human hands but a relationship with Christ in His death and resurrection.

The Word of God in Colossians 2:13 says: “You too, although you were dead by the offense and therefore is not circumcised outwardly, has turned God along with Him, after He forgave all our sins, by eliminating debt, which by legal provisions to charge and threaten us. And that eliminated him by nailing on the cross. “

All were sealed by the regulatory acceptance of new agreements, “In Him you were circumcised, not with a circumcision done by humans, but with the circumcision of Christ, which consists of the calendar will be the body of sin, (Colossians 2:11-12).

So a Christian is one who circumcised himself, “It is we the people circumcised hearts, who worship by the Spirit of God and glory in Christ Jesus and put no confidence to the flesh. “Therefore circumcision is your heart and you do not anymore rigid neck” (Deuteronomy 10:16).

Nov
26

Perjanjian lama berbicara tentang sunat lahiriah ialah sebagai tanda perjanjian atau meterai, antara Allah dan Abraham serta keturunannya, atas pemberian kebenaran dari Allah, dimana Allah memilih dan menandai orang-orang milikNya.

“Firman Allah kepada Abraham: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.

Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu”.( Kejadian 17:9-11)

“Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka, dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat”. (Roma 4:11-12).

Selain setiap anggota perjanjian diwajibkan menyatakannya secara lahiriah dengan menaati hukum Allah, dengan tegas juga dituntut kepada Abraham “Hiduplah dihadapan-Ku dengan tidak bercela”. (Kejadian 17:1).

Sunat lahiriah menjelmakan, menerapkan janji dan menghimbau orang untuk hidup dalam ketaatan sesuai perjanjian bahwa ada tuntutan yang mahal yang dibuat Allah, yaitu menuntut realitas penerapannya sesuai tanda sunat itu, Firman Tuhan katakan…..Aku menghukum orang-orang yang telah bersunat kulit khatannya…..sebab segala bangsa tidak bersunat dan segenap kaum Israel tidak bersunat hatinya (Yeremia 9:25-26).
Mampukah kita atas tuntutan itu?
Oleh karena itu Tuhan Yesus datang untuk menggenapkan hukum Taurat, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau Kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5:17).
Perjanjian Baru dengan tegas dan pasti mengatakan bahwa tanpa ketaatan, sunat lahiriah adalah sia-sia. Dalam Roma 2:23-29 katakan: “Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu? Seperti ada tertulis: “Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain.”

Sunat memang ada gunanya, jika engkau mentaati hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanya. Jadi jika orang yang tak bersunat memperhatikan tuntutan-tuntutan hukum Taurat, tidakkah ia dianggap sama dengan orang yang telah disunat? Jika demikian, maka orang yang tak bersunat tetapi yang melakukan hukum Taurat, akan menghakimi kamu yang mempunyai hukum tertulis dan sunat, tetapi yang melanggar hukum Taurat.

Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah”.

“Sunat memang ada gunanya, jika engkau mentaati hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak lagi ada gunanya.
Tanda lahiriah pudar tanpa arti jika dibandingkan dengan menaati perintah-perintah Allah. “Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.” (1 Korintus 7:18-19). Jauh sebelum Perjanjian Baru, Firman Tuhan telah katakan dalam Ulangan 10:16 “Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk”.

Jadi sunat hati bukan suatu perintah yang baru dalam Perjanjian Baru tapi sudah sejak zaman Perjanjian Lama ketika Musa menerima perintah Tuhan untuk bangsa Israel .
Oleh karena itu kita membutuhkan “Sunat Kristus” atau sunat hati berupa penanggalan akan tubuh yang berdosa yakni suatu perbuatan rohani yang tidak dilakukan oleh tangan manusia tapi suatu hubungan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya.

Firman Tuhan  dalam Kolose 2:13 katakan: “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib”.

Semua itu dimeteraikan oleh peraturan penerimaan atas perjanjian baru, “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, (Kolose 2:11-12).

Sehingga orang Kristen adalah orang yang bersunat hati, “Kitalah orang-orang bersunat hati, yang beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya kepada hal-hal lahiriah.  “Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk” (Ulangan 10:16).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.