TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Jun
01

Teladan Seorang Rasul

Matahari kehidupan Paulus sang rasul Kristus Yesus mulai terbenam di langit Barat. “… saat kematianku sudah dekat,” katanya kepada Timotius (II Timotius 4:6). Masa hidupnya tidak lama lagi. Bagi kebanyakan manusia, inilah saatnya untuk berhenti bekerja. Beristirahat sambil menikmati seluruh hasil keringat, tetapi bagi sang rasul tidak.
Di balik teralis penjara yang tanpa belas kasihan memisahkan dirinya dengan dunia luar, dengan rantai-rantai yang dengan kejam membatasi ruang geraknya, di hadapan kenyataan ditinggalkan oleh rekan-rekan sekerjanya justru pada saat-saat dia sangat membutuhkan kehadiran mereka, serta dalam kesepian yang benar-benar menyengsarakan jiwa, si tua Paulus belum juga berhenti memperhatikan kepentingan orang lain.
Dia belum juga mulai memperhatikan kepentingannya sendiri. Tubuhnya jauh dari manusia-manusia yang dikasihinya, tetapi hati dan pikirannya selalu tertuju kepada mereka.

Seiring mulai terbenamnya matahari kehidupan sang rasul, kegelapan mulai menyelimuti gereja-gereja di Propinsi Asia, termasuk kumpulan orang-orang percaya di Efesus, tempat Timotius melayani. Krisis iman dan sekaligus krisis keteladanan, serta krisis ajaran mulai melanda perjalanan hidup umat Allah di sana.
Kengerian menyaksikan penderitaan demi nama dan pekerjaan Tuhan yang dialami oleh sang rasul, ketakutan membayangkan bagaimana bila hal yang sama menimpa diri sendiri, serta mundur secara teraturnya para pemimpin umat dari tanggung jawab menjadi teladan hidup beriman bagi orang-orang yang mereka pimpin, benar-benar siap menghancurkan visi dan misi Kristiani di dunia ini.
Belum lagi menyusupnya ajaran baru yang membuka peluang bagi gereja untuk menjalani hidup dengan semangat hedonis, membiarkan diri dikuasai oleh berbagai nafsu jahat. Ajaran macam ini akan menghasilkan generasi pecinta diri, pecinta harta, pecinta nafsu dan bukan pecinta Allah (II Timotius 3:2-5).
Bagaimana mengusir kegelapan yang mulai menyelimuti gereja tersebut? Tidak ada jalan lain, “terang dunia” harus tetap hadir. Selama ini, Rasul Paulus telah menjadi terang bagi dunia yang gelap. Kepada Herodes Agripa II, raja beberapa wilayah di bagian Timur Laut Palestina, dia mengisahkan panggilannya.
Kristus Yesus Tuhan yang bangkit, mengutusnya kepada bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain “untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah …” (Kis 26:18). Panggilan itu merupakan awal dari perjuangannya memberitakan kepada bangsa-bangsa “bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu” (Kis 26:20).
Hidup sang rasul sudah berakhir. Tetapi itu bukan berarti berakhirnya kehadiran “Terang Dunia”. Masih ada Timotius, murid Kristus hasil gemblengan sang rasul. Di dalam dirinya, Rasul Paulus telah menginvestasikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan hidupnya. Di dalam dirinya, sang rasul telah melipat gandakan dirinya (bdk. II Timotius 3:10: “… engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku”).
Matahari mulai terbenam, tetapi Allah Pencipta dan Pemelihara jagad raya belum pernah tertidur dan berhenti bekerja. Matahari masih akan terbit lagi. Rasul Paulus sudah mati, tetapi Allah yang adalah Pemilik dan Penguasa ladang belum berhenti berkarya. Pekerja baru akan dibangkitkan-Nya. Timotius sang murid, yang di dalam jantung dan pembuluh-pembuluh darahnya mengalir jiwa dan semangat sang rasul, juga telah menerangi dunia yang gelap ini.
Kita adalah murid Kristus yang sama seperti Timotius, dipanggil untuk menjadi “Terang Dunia”. Dipanggil untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus dan mengajak manusia berdosa untuk bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu, demi orang-orang pilihan Allah … mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.

Mei
25

4 Characteristics Of Christian

Towards evening His disciples came to Him and said: “This place is quiet and it was already night. Send the crowds away so they can buy food in the villages. “But Jesus said to them:” No need for them to go, you have to feed them. “They said:” What is to us here only five loaves and two fish, Jesus looked up into the sky and give thanks and break bread and give it to His disciples, and His disciples passed them out to the crowd and they all ate and were satisfied.
Then the person collecting the pieces of meat that was left, twelve baskets full. Who ate were about five thousand men not including women and children.

The story of the ministry of Jesus Christ was on record in the book of Matthew 14:13-21 and the Gospel of John 6:5-15 and the picture that we can take the above that there are 4 characters that represent the Christian believers today;
The first figure, is The Most. Gospel of John 6:1-2 notes: “After that He went out the other side of the lake of Galilee Lake Tiberias, the crowds followed him in droves, because they saw the miracles of healing that is held against his people sick. We see here a lot of people to follow Jesus but with wrong motives, their motivation to follow Jesus instead of the true faith but only because they want to see miracles.

And there are also so many people who want healing miracles occur in his life but to accept Him as Savior / messiah is almost no sense in their minds. How can they accept Him as Savior, He is the son of a carpenter but why He can perform miracles? That’s what a debate throughout the history, habits of a group of people a lot of this is when they’ve hit on the state where money is no longer reliable, physician or physicians have raised their hands can not do anything, they just want to give up their lives to the choice Their last; “Whatever it heal me.”
Where is God when they are happy? When they are rich? When they rank? When they were in high social status? When they fulfilled? God only stored in a cupboard in the book of the holy book, which can only be opened once a week or once a year if they have any free time and joy in the heart.

The second figure, is Philip. Gospel of John 6:5-7 noted: “When Jesus looked around Him and saw that the people in droves to come to Him, He said to Philip,” Where are we going to buy bread, so they can eat? “This is He said to test him, for He Himself knew what he would do. Philip answered him, “two hundred denarii worth of bread would not be enough for them, that each may take a little.”

Philip is one of the disciples of Jesus are in the order of the Apostles is the fifth named after John (Luke 6:12-16), and he also had brought the Greeks came to Jesus (John 12:20-22). But we see here is Philip Faith Faith filled with logic, he measures the prices of Faith was only reached the number two hundred dinars, and he thought it would not be enough.
In his mind how could feed five thousand men, not including women and children (Matthew 14:21). Dinars or denarius (Greek: denarion) is a Roman silver currency at that time and one dinar is a daily wage worker in one day. If we use the current exchange rate, such as daily wage worker a day is IDR 50,000 x 200 dinars = IDR 10,000,000 Logically Philip, five thousand men and their wives are also his children may be about fifteen thousand people who must be fed. He could not feed with the money of IDR 10 million : 15,000 people = IDR 667 each person
Because it he says: “two hundred denarii worth of bread would not be enough for them, that each may take a little.” At least he needs money IDR 150 million or 3000 Dinars, for to eat IDR 10,000 each person than fifteen thousand people.

Faith is filled with logic will not be able to see the glory of God. We may not have a state like Philip to feed a lot of people with money are limited, but we may face financial problems in our families where we have to struggle amid a difficult economy we may lose jobs, we may have to pay the arrears-overdue debt us while our finances are not sufficient, the need for the future of our children in the study or whatever it is, and we feel that it is impossible to get out of the question.

Jesus can solve problems that we face. And it came to pass, that, as the people pressed upon him to hear the word of God, He stood by the lake of Gennesaret, and saw two ships standing by the lake: but the fishermen were gone out of them, and were washing their nets.
And He entered into one of the ships, which was Simon’s, and prayed him that He would thrust out a little from the land. And He sat down, and taught the people out of the ship. when He had left speaking, He said unto Simon, Launch out into the deep, and let down your nets for a draught.
And Simon answering said unto Him, Master, we have toiled all the night, and have taken nothing: nevertheless at thy word I will let down the net. And when they had this done, they inclosed a great multitude of fishes: and their net brake. And they beckoned unto their partners, which were in the other ship, that they should come and help them. And they came, and filled both the ships, so that they began to sink.
Philip and Simon face as well that we are facing today but they want to obey the command. God wants us to want to leave deeper in knowing the truth of the Word of God because He wants to bless us, whether we want to use logic or faith adherence to the problems we face? Thanks are waiting for us in obedience.

The third figure, was Andrew. Gospel of John 6:8-9, noting: “One of his disciples, Andrew brother of Simon Peter said to him:” Here there is a child who has five barley loaves and two fishes, but what are they among so many ? ”
Many things which God created miracles before the eyes of the disciples but Andrew, the five barley loaves and two fish is food that does not mean to fifteen thousand people, if we do not wear eye of faith in this life and all things that we do not look there will be hope and maybe we will see the shadows of life that are not clear because we do not believe in Him.

Waves of life may be hitting our lives, and we’ll say I will fall God …! What is left to us now? speck of Faith? Speck believe? a speck of hope? a speck of talent? Or even the smallest of our lives. God wants to use it for exceptional cases to the glory of his name but to where do we trust to Him.
Peter in his fear began to sink when she felt the breeze as he walked on water to meet Jesus. What does this say of the Lord Jesus? “Men who lack confidence, why do you hesitate?” (Matthew 14:30-31). Storms may come, the waves may hit us but our faith views let it stay focused on Jesus and we will see the miraculous and extraordinary things, God will do for us.

The fourth character, is a small child, the Gospel of John 6:9, notes: “Here there is a child who has five barley loaves and two fishes, but what are they among so many?”. The ministry of Jesus is not limited by age, social status, or one ethnic group but includes a universal service. And this kid give an idea of sincerity, not selfish and believe in the true faith.
He believes Jesus and give all his property to be able to bless many people and he believes that he will not lose anything if he gives what Jesus asked. Why would a small child that gives the five barley loaves and two fish to Jesus, whether the adults did not bring lunch, in addition to small children?

Sometimes distrust and fear of losing one’s own selfish often makes us so shut the eyes of our hearts to bless others, we may even have more confidence to the money or our possessions than we believe in Jesus as a source of blessing.
Day night wore on, the life of this world will disappear with all its desires, the world is crying in its destruction and many people who need our help, whether maybe they were hungry for the Word of God or they are silent in their selfishness, which is obviously God still loves them and God requires the heart like a child to serve them. Do we have a heart?

Mei
20

Menjelang malam murid murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa .“ Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi , kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat , lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikanya kepada murid murid-Nya, lalu murid murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak dan mereka semuanya makan sampai kenyang .
Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

Cerita tentang pelayanan Yesus Kristus ini di catat di dalam kitab Injil Matius 14:13-21 dan Injil Yohanes 6:5-15 dan gambaran yang bisa kita ambil di atas bahwa ada 4 tokoh yang mewakili orang Kristen percaya saat ini;
Tokoh yang pertama, adalah Orang Banyak. Injil Yohanes 6:1-2 mencatat: “Sesudah itu Yesus berangkat keseberang danau Galilea yaitu danau Tiberias, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan yang di adakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Kita melihat disini banyak orang mengikuti Yesus tapi dengan motivasi yang salah, motivasi mereka mengikuti Yesus bukan dari iman yang sesungguhnya melainkan hanya karena mereka ingin melihat mujizat.

Dan ada juga begitu banyak orang yang menginginkan mujizat kesembuhan terjadi dalam kehidupannya tapi untuk menerima Dia sebagai Juruselamat/messias adalah hampir tidak masuk akal dalam pikiran mereka. Bagaimana mereka mau menerima Dia sebagai Juruselamat, Dia hanyalah anak seorang tukang kayu tapi kenapa Dia bisa melakukan mujizat? Hal itulah yang menjadi perdebatan sepanjang sejarah, Kebiasaan dari sekelompok orang banyak ini adalah ketika mereka sudah terbentur pada keadaan dimana uang sudah tidak bisa diandalkan lagi, tabib atau dokter sudah angkat tangan tidak bisa berbuat apa-apa, mereka baru mau menyerahkan hidup mereka kepada pilihan terakhir mereka; “Apapun itu sembuhkanlah saya.”
Dimana Tuhan ketika mereka senang? Ketika mereka kaya? Ketika mereka berpangkat? Ketika mereka dalam status sosial yang tinggi? Ketika mereka tercukupi? Tuhan hanya disimpan dalam lemari buku dalam kitab yang kudus, yang hanya bisa di buka sekali seminggu atau sekali setahun itupun kalau ada waktu senggang dan sukacita dalam hati.

Tokoh yang kedua, adalah Filipus. Injil Yohanes 6:5-7 mencatat: “Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Dimanakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Hal ini dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.”

Filipus adalah salah satu murid Yesus yang dalam urutan rasul-rasul namanya menempati urutan kelima sesudah Yohanes (Lukas 6:12-16), dan dia juga yang telah membawa orang-orang Yunani datang pada Yesus (Yohanes 12:20-22). Tapi kita melihat disini Iman Filipus adalah Iman yang penuh dengan logika, dia mengukur harga Iman itu hanya sampai di bilangan dua ratus dinar, dan itu tidak akan cukup pikirnya.

Dalam pikirannya bagaimana bisa memberi makan 5 ribu orang laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak (Matius 14:21). Dinar atau denarius (Yunani: denarion) adalah mata uang perak Romawi pada waktu itu dan satu dinar adalah upah pekerja harian dalam satu hari. Apabila kita memakai kurs sekarang ini, misalnya upah pekerja harian satu hari adalah Rp. 50.000 x 200 dinar = Rp. 10.000.000. Logikanya Filipus, lima ribu laki-laki dan istri mereka juga anak-anaknya mungkin sekitar lima belas ribu orang yang harus diberi makan. Dia tidak bisa memberi makan dengan uang Rp. 10.000.000 : 15000 orang = Rp. 667/orang
Karena itu dia katakan : “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Paling tidak dia membutuhkan uang Rp. 150.000.000 atau 3000 Dinar untuk makan Rp. 10.000/orang dari lima belas ribu orang.

Iman yang dipenuhi dengan logika tidak akan bisa melihat mujizat Tuhan. Kita mungkin tidak mengalami keadaan seperti Filipus untuk memberi makan sejumlah banyak orang dengan uang yang terbatas, tapi kita mungkin menghadapi masalah keuangan dalam keluarga kita dimana kita harus berjuang ditengah perokonomian yang sulit, kita mungkin kehilangan pekerjaan, kita mungkin harus membayar tunggakan-tunggakan hutang perusahaan kita sementara keuangan kita tidak mencukupi, kebutuhan akan masa depan anak-anak kita dalam studi atau apapun itu, dan kita merasa bahwa mustahil kita bisa keluar dari persoalan tersebut.

Yesus dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang kita hadapi. Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan Firman Allah. Ia melihat dua perahu ditepi pantai, nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik kedalam salah satu perahu itu, yaitu perahu simon dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.
Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukanya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya diperahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.

Filipus dan simon menghadapi seperti juga yang kita hadapi sekarang ini tetapi mereka mau taat kepada perintah. Tuhan ingin kita mau bertolak lebih dalam lagi dalam mengenal akan kebenaran Firman Tuhan karena Dia ingin memberkati kita, apakah kita mau memakai logika atau Iman ketaatan dalam masalah yang kita hadapi? Berkat sedang menunggu kita dalam ketaatan.

Tokoh yang ketiga, adalah Andreas. Injil Yohanes 6:8-9, mencatat: “Seorang dari murid murid-Nya, yaitu Andreas saudara Simon Petrus berkata kepada-Nya: “Disini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan, tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”
Banyak perkara mujizat yang Tuhan buat dihadapan para murid-murid tetapi dimata Andreas, lima roti jelai dan dua ikan hanyalah makanan yang tidak berarti untuk lima belas ribu orang, jika kita tidak memakai mata iman dalam hidup ini maka segala sesuatu yang yang kita kerjakan kelihatan tidak akan ada harapan dan mungkin kita akan melihat bayang-bayang hidup yang tidak jelas karena kita kurang percaya kepada Dia.

Gelombang kehidupan mungkin menghantam hidup kita, dan kita akan berkata saya akan jatuh Tuhan…!! Apakah yang tersisa pada kita sekarang? setitik Iman? Setitik percaya? setitik pengharapan? setitik talenta? Atau sekalipun yang terkecil dalam hidup kita. Tuhan mau pakai itu untuk perkara yang luar biasa untuk kemuliaan nama-Nya tapi sampai dimanakah kepercayaan kita kepada Dia.

Petrus dalam ketakutannya mulai tenggelam ketika dia merasakan tiupan angin ketika dia berjalan diatas air untuk menemui Yesus. Apa yang dikatakan Tuhan Yesus? “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Matius 14:30-31). Badai boleh datang, gelombang boleh menerpa kita tapi biarlah pandangan Iman kita itu tetap fokus pada Yesus dan kita akan melihat perkara ajaib dan luar biasa, Tuhan akan kerjakan bagi kita.

Tokoh yang keempat, adalah Anak kecil, Injil Yohanes 6:9, mencatat: “Disini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan, tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”. Pelayanan Yesus tidak terbatas pada usia, status sosial, atau salah satu suku bangsa tapi mencakup pelayanan yang universal. Dan anak kecil ini memberikan gambaran tentang ketulusan hati, tidak egois dan percaya dalam iman yang sejati.
Dia mempercayai Yesus dan memberikan semua miliknya untuk bisa memberkati banyak orang dan dia percaya bahwa dia tidak akan kehilangan apapun apabila dia memberikan apa yang Yesus minta. Kenapa anak kecil yang memberikan lima roti jelai dan dua ikan kepada Yesus, apakah orang-orang dewasa tidak membawa bekal, selain anak kecil tersebut?

Kadang kala rasa tidak percaya dan takut kehilangan milik sendiri sering menjadikan kita egois sehingga menutup mata hati kita untuk memberkati orang lain, bahkan mungkin kita lebih percaya kepada uang atau harta benda kita dari pada kita mempercayai Yesus sebagai sumber berkat.
Hari semakin larut malam, kehidupan dunia ini akan lenyap dengan segala keinginannya, dunia sedang menangis dalam kehancurannya dan masih banyak orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita, entah mungkin mereka lapar akan Firman Tuhan ataupun mereka diam dalam keegoisan mereka, yang jelas Tuhan tetap mengasihi mereka dan Tuhan membutuhkan hati seperti seorang anak kecil untuk melayani mereka. Apakah kita memiliki hati itu?

%d blogger menyukai ini: