TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Feb
23

Kepemimpinan adalah suatu konsep yang sama dipakai oleh gereja maupun dunia, namun kita tidak boleh asumsikan bahwa paham orang Kristen dan paham dunia mengenai konsep itu adalah identik.
Juga kita tidak boleh menganut model-model manajemen sekuler tanpa menelitinya terlebih dahulu secara seksama, apakah sesuai dengan Kekristenan atau tidak. Sebab Yesus mengajarkan suatu gaya kepemimpinan yang sama sekali baru yang belum pernah ada sebelumnya.
Ia menyatakan perbedaan antara kepemimpinan yang lama dan yang baru itu dalam arti sebagai berikut; “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
Tidaklah demikian diantara kamu, barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:42-45).

Bagi pengikut-pengikut Yesus, menjadi pemimpin itu tidak sinonim dengan menjadi tuan. Panggilan kita ialah untuk melayani, bukan untuk menguasai. Panggilan kita ialah menjadi hamba dan bukan menjadi raja di raja. Memang benar, kepemimpinan mustahil tanpa otoritas tertentu. Tanpa itu siapapun tak bisa memimpin, tidak terkecuali para rasul, mereka diberikan Yesus otoritas dan mereka menjalankan otoritas itu dalam mengajar dan mendidik ketaatan pada gereja.

Juga kepada para pendeta jemaat masa kini, meskipun mereka bukan rasul dan tidak memiliki otoritas rasuli, harus dihormati karena kedudukan mereka sebagai “pemimpin” jemaat, 1 Tesalonika 5:12 mengatakan: “Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu; dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain.

bahkan dalam kitab Ibrani 13:17 harus ditaati : “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya………”
Namun, titik berat yang diletakkan Yesus bukanlah atas otoritas pemimpin-penguasa melainkan atas kerendahan hati pemimpin-hamba. Otoritas dengan mana pemimpin Kristiani itu memimpin bukanlah kekuasaan melainkan kasih, bukan kekerasan melainkan teladan, bukan paksaan melainkan persuasi.
Pemimpin-pemimpin memiliki kekuasaan, tapi kekuasaan hanya aman dalam tangan mereka yang merendahkan dirinya untuk melayani. Bahaya utama yang terkandung dalam kepemimpinan adalah keangkuhan. Model kepemimpinan gaya farisi tak ada tempatnya dalam masyarakat baru yang sedang dibangun Yesus. Mereka senang sekali akan perbedaan tingkat, seperti misalnya terungkap dalam gelar “Bapak, Guru, Rabi” padahal ini suatu penghinaan, baik terhadap Allah, satu-satunya yang berhak atas gelar itu, maupun terhadap persaudaraan Kristiani, yang oleh pengadaan pembedaan menjadi terpecah belah.

Dalam Injil Matius 23:1-12 mengatakan: Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.
Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.
Marilah kita menggunakan jubah kerendahan hati, dan saling melayani dalam kasih, tidak ada kepemimpinan Kristiani yang dapat disebut autentik, kalau bukan ditandai oleh roh kerendahan hati dan pelayanan dengan sukacita.

Feb
19

“Therefore shall a man leave his father and mother and be united to his wife: and they shall become one flesh.” (Genesis 2:24).
Based on this verse we can conclude, that the God of marriage is when a man broke away from her parents for one with his wife and become one flesh with him.
‘Breakaway’ and ‘integrated’ is included in a proposition, and should take place in that order. This means the replacement of the human ties that a (child-parent) with other human bond (husband-wife). There are some similarities in the two ties, the relationship is the same for both complex and contains several elements.

There is the physical element (the one in the form conceived, born and breastfed and the other in the form of intercourse), the emotional elements (to grow, as the process of development of dependency relationships during childhood into adulthood with a partner relationship for ever), and social elements ( children inherit an existing family unit, the husband-wife created a new unit).

But there is also an essential inequality between the two, because the biblical phrase ‘one flesh’ indicates that the unity of husband and wife are physically, emotionally and socially are much more profound and mysterious personal nature of the relationship between the children with their parents, so that it can say: ” failure to achieve a minimum of emotional independence is one of the main embryo destruction of marriage.

Genesis 2:24 implies that the bond of marriage is an exclusive (a man … and … his wife) with the consent of the people (his father and mother), permanent (together with his wife) has fulfilled through sexual intercourse (become one flesh).
Thus, the biblical definition of marriage sounds as follows: “Marriage is a promise of an exclusive bond between a man and heterosexual men and one woman, ordained and endorsed by God, is preceded by the departure of leaving the parents with the knowledge of the people, achieve fulfillment fully in sexual intercourse, become a permanent partner support each other, and often crowned with the award of the children ‘.

Anything not to cancel the marriage, but the reality of divorce (marriage decision) from year to year, the higher, the sociological causes of this increase in the number of divorces are many and varied kinds. Included in the emancipation of women, and changes in search patterns of maintenance (both parents work).
Pressures on family life due to financial difficulties because of unemployment also has triggered a number of divorces and of course also a facility that provided the law of marriage to divorce getting a divorce swing freely past the limits of religious law.

But above all things, the most important reason for the collapse of marriage is the image of backwardness of the Christian faith is fading along with his commitment to the Christian understanding of the sacredness and permanence of marriage.
Divorce is allowed in certain extreme circumstances, but if it is allowed, it remains a binding determination of the deviation from the intent and will of God, in principle, marriage is a bond for life and divorce is a breach of contract, an act of treason.
As it says … God hates … “And the second is that you do: You cover the altar of the LORD with tears, with weeping and groaning, because he no longer turn to the presentation and was not pleased to receive from your hand. And you ask: “Why?” Because the Lord is witness between you and the wife of your youth with whom you have faith, though she is your partner and spouse.
Is not the One God made them flesh and spirit? And if the union is required? Sons of the divine! So take care of yourself! And let none deal treacherously against the wife of his youth.
For I hate divorce, says the Lord, the God of Israel – as well as those who cover up his clothes by force, says the LORD of hosts. So keep yourself and do not sell out! (Malachi 2:13-16).

Feb
16

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”. (Kejadian 2:24).
Berdasarkan ayat ini kita dapat menarik kesimpulan, bahwa bagi Allah perkawinan adalah kalau seorang laki-laki memisahkan diri dari orangtuanya untuk menyatu dengan istrinya dan menjadi sedaging dengan dia.
‘memisahkan diri’ dan ‘menyatu’ ini termasuk dalam satu ikhwal dan harus berlangsung dalam urutan itu. Maknanya adalah penggantian dari ikatan manusiawi yang satu (anak-orangtua) dengan ikatan manusiawi yang lain (suami-istri). Ada beberapa kesamaan dalam kedua ikatan itu, sebab kedua relasi itu sama kompleks dan mengandung berbagai unsur.

Ada unsur fisik (yang satu dalam bentuk dikandung, dilahirkan dan disusui dan yang lain dalam bentuk persetubuhan), unsur emosional (bertumbuh, selaku proses perkembangan dari hubungan ketergantungan semasa kanak-kanak ke hubungan kedewasaan dengan mitra sehidup semati), dan unsur sosial (anak-anak mewarisi suatu unit keluarga yang sudah ada, suami-istri menciptakan unit yang baru).

Namun ada ketidaksamaan yang esensial juga antara keduanya, sebab ungkapan Alkitabiah ‘satu daging’ menandakan bahwa kesatuan suami istri secara fisik, emosional dan sosial adalah jauh lebih mendalam dan misterius sifat personalnya daripada relasi antara anak-anak dengan orangtua, sehingga dapat di katakan: “kegagalan mencapai suatu minimum kemandirian emosional merupakan salah satu cikal bakal utama kehancuran perkawinan.
Kejadian 2:24 mengimplikasikan bahwa perkawinan adalah ikatan ekslusif (seorang laki-laki…dan…istrinya) dengan sepengetahuan orang banyak (meninggalkan ayahnya dan ibunya), permanen (bersatu dengan istrinya), mencapai kegenapannya melalui persetubuhan (menjadi satu daging).

Dengan demikian maka definisi perkawinan yang Alkitabiah bunyinya sebagai berikut: ‘Perkawinan adalah suatu ikatan janji yang ekslusif dan heteroseksual antara satu orang laki-laki dan satu orang perempuan, ditahbiskan dan dikukuhkan oleh Allah, didahului oleh kepergian meninggalkan orangtua dengan sepengetahuan orang banyak, mencapai kegenapan yang sepenuhnya dalam persetubuhan, menjadi suatu pasangan yang permanen saling menopang, dan biasanya dimahkotai dengan penganugerahan anak-anak’.

Suatu apapun tak dapat membatalkan perkawinan, namun kenyataannya perceraian (pemutusan ikatan perkawinan) dari tahun ke tahun semakin tinggi, sebab musabab sosiologis peningkatan angka perceraian ini banyak dan beragam macam. Termasuk di dalamnya emansipasi kaum wanita, dan perubahan dalam pola pencarian nafkah (kedua orangtua bekerja).
Tekanan atas hidup kekeluargaan akibat kesulitan financial karena pengangguran juga semakin memicu angka perceraian dan tentu juga kemudahan yang diberikan undang-undang perkawinan untuk perceraian semakin membuat perceraian itu melenggang dengan bebas melewati batas-batas hukum agama.

Namun diatas segala-galanya itu, alasan yang paling menentukan bagi ambruknya citra perkawinan ialah kemunduran iman Kristen bersamaan dengan itu memudarnya komitmen terhadap pemahaman Kristiani tentang kesucian dan keabadian perkawinan.
Perceraian diperbolehkan dalam keadaan-keadaan ekstrim tertentu namun jika itu diperbolehkan, pemutusan ikatan itu tetap merupakan penyimpangan dari maksud dan kehendak Allah, pada prinsipnya perkawinan adalah suatu ikatan seumur hidup dan perceraian adalah pelanggaran perjanjian, suatu tindakan penghianatan.
Seperti dikatakan Allah… dibenciNya… “Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan: Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu. Dan kamu bertanya: “Oleh karena apa?” Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.
Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.
Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel — juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!” (Maleakhi 2:13-16).

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 915 pengikut lainnya.