TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Feb
16

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”. (Kejadian 2:24).
Berdasarkan ayat ini kita dapat menarik kesimpulan, bahwa bagi Allah perkawinan adalah kalau seorang laki-laki memisahkan diri dari orangtuanya untuk menyatu dengan istrinya dan menjadi sedaging dengan dia.
‘memisahkan diri’ dan ‘menyatu’ ini termasuk dalam satu ikhwal dan harus berlangsung dalam urutan itu. Maknanya adalah penggantian dari ikatan manusiawi yang satu (anak-orangtua) dengan ikatan manusiawi yang lain (suami-istri). Ada beberapa kesamaan dalam kedua ikatan itu, sebab kedua relasi itu sama kompleks dan mengandung berbagai unsur.

Ada unsur fisik (yang satu dalam bentuk dikandung, dilahirkan dan disusui dan yang lain dalam bentuk persetubuhan), unsur emosional (bertumbuh, selaku proses perkembangan dari hubungan ketergantungan semasa kanak-kanak ke hubungan kedewasaan dengan mitra sehidup semati), dan unsur sosial (anak-anak mewarisi suatu unit keluarga yang sudah ada, suami-istri menciptakan unit yang baru).

Namun ada ketidaksamaan yang esensial juga antara keduanya, sebab ungkapan Alkitabiah ‘satu daging’ menandakan bahwa kesatuan suami istri secara fisik, emosional dan sosial adalah jauh lebih mendalam dan misterius sifat personalnya daripada relasi antara anak-anak dengan orangtua, sehingga dapat di katakan: “kegagalan mencapai suatu minimum kemandirian emosional merupakan salah satu cikal bakal utama kehancuran perkawinan.
Kejadian 2:24 mengimplikasikan bahwa perkawinan adalah ikatan ekslusif (seorang laki-laki…dan…istrinya) dengan sepengetahuan orang banyak (meninggalkan ayahnya dan ibunya), permanen (bersatu dengan istrinya), mencapai kegenapannya melalui persetubuhan (menjadi satu daging).

Dengan demikian maka definisi perkawinan yang Alkitabiah bunyinya sebagai berikut: ‘Perkawinan adalah suatu ikatan janji yang ekslusif dan heteroseksual antara satu orang laki-laki dan satu orang perempuan, ditahbiskan dan dikukuhkan oleh Allah, didahului oleh kepergian meninggalkan orangtua dengan sepengetahuan orang banyak, mencapai kegenapan yang sepenuhnya dalam persetubuhan, menjadi suatu pasangan yang permanen saling menopang, dan biasanya dimahkotai dengan penganugerahan anak-anak’.

Suatu apapun tak dapat membatalkan perkawinan, namun kenyataannya perceraian (pemutusan ikatan perkawinan) dari tahun ke tahun semakin tinggi, sebab musabab sosiologis peningkatan angka perceraian ini banyak dan beragam macam. Termasuk di dalamnya emansipasi kaum wanita, dan perubahan dalam pola pencarian nafkah (kedua orangtua bekerja).
Tekanan atas hidup kekeluargaan akibat kesulitan financial karena pengangguran juga semakin memicu angka perceraian dan tentu juga kemudahan yang diberikan undang-undang perkawinan untuk perceraian semakin membuat perceraian itu melenggang dengan bebas melewati batas-batas hukum agama.

Namun diatas segala-galanya itu, alasan yang paling menentukan bagi ambruknya citra perkawinan ialah kemunduran iman Kristen bersamaan dengan itu memudarnya komitmen terhadap pemahaman Kristiani tentang kesucian dan keabadian perkawinan.
Perceraian diperbolehkan dalam keadaan-keadaan ekstrim tertentu namun jika itu diperbolehkan, pemutusan ikatan itu tetap merupakan penyimpangan dari maksud dan kehendak Allah, pada prinsipnya perkawinan adalah suatu ikatan seumur hidup dan perceraian adalah pelanggaran perjanjian, suatu tindakan penghianatan.
Seperti dikatakan Allah… dibenciNya… “Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan: Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu. Dan kamu bertanya: “Oleh karena apa?” Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.
Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.
Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel — juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!” (Maleakhi 2:13-16).

Feb
06

Then Jesus began to speak and taught them, saying,
“Blessed are the poor in spirit, because they were the owner of the kingdom of heaven.
Blessed are they that mourn, for they shall be comforted.
Blessed are the meek, for they shall inherit the earth.
Blessed are those who hunger and thirst for righteousness, for they shall be satisfied.
Blessed are the cheapest in heart: for they shall obtain mercy.
Blessed are the pure in heart: for they shall see God.
Blessed are the peacemakers, for they shall be called children of God.
Blessed are they who are persecuted because of righteousness, for they were the owner of the kingdom of heaven.
Blessed are you when you heckled and abused me and you on it all the evil slander.
Rejoice and be glad, for your reward is great in heaven: for so persecuted they the prophets which were before you. “(Matthew 5:2-12).
happy … happy … happy and rejoice … how we should practice what the preach on the Mount and at the same time supporting the use of military force?
Violence, rape, oppression, looting which we have felt almost make us participate bitterness trees flourish along with the time, so the gap between those who believe and do not trust deepened.
That’s a reasonable question, for example, also disputes the border between our country and neighboring countries who would not want to make us as Christians who are involved directly as a means of defense or state only as an ordinary citizen who loves this country will certainly have a desire great to be able to defend or at least maintain this state.
But Jesus taught we should love our enemies, repay evil with goodness. Is this realistic in a world where crime is very often win?
When Jesus says of the Kingdom of God, He gave the standard radical who should run the citizens of the citizens are happy and rejoice in any circumstance, and this standard is almost no sense.
He knows how to live like that is difficult and complicated, but it will give the testimony the values of the Kingdom of God even in the midst of this evil world. Christ did not say the Christians who obey will be able to deliver the kingdom of God to earth, only Christ himself who will do that when He returns. But for the period between the two stages – the announcement of the kingdom of God and its final perfection – God gave the structure to prevent crime in this world.
State even allowed to take up the sword if necessary, and Christians are commanded to obey and respect the State authorities as instruments of God, in the Book of Romans 13:1-7, says:
“Everyone must submit himself to the governing authorities on it, because no government, which is not of God, and the governments that exist, established by God. So whoever against the government, she resisted the ordinance of God and who do, will bring punishment upon themselves. For if a do good, he do not fear the government, only if he do evil.
Would you like to live without fear of government? Do what is good and you shall receive praise from him. Because the government is the servant of God for your good. But if thou do evil, be afraid of him, because the government does not bear the sword in vain. Government is the servant of God to avenge God’s wrath upon those who do evil.
Because it must needs be subject, not only for punishment but also because of conscience. That is also why you pay taxes. Because those who care about it are the servants of God.
Pay to everyone what should you pay: taxes to the person entitled to receive the taxes, duties to the person entitled to receive tax; fear to those who deserve fear and respect to people who deserve respect. ”
So there are two important commands should be noted, namely: to live according to the teachings of Christ in the Sermon on the Mount, which gives examples of the values of the Kingdom of God which has not yet come in its fullness and at the same time supporting the role of government to maintain order as a witness to God’s authority over the kingdoms of the world today.
So even though Christians should not repay evil with evil – instead he had to forgive, and to break the cycle of crime – he may participate in a structure that allowed God to prevent crime and disorder in the world using the power of government.
How many of us are already taking part in this? Or we never care about this? As long as we still feel safe in our place, maybe we never would think to break the cycle of crime that, until the crime is coming upon us.

Feb
03

Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Matius 5:2-12).
berbahagialah…berbahagialah…berbahagialah dan bersukacitalah…bagaimana kita harus menjalankan apa yang di khotbahkan di atas Bukit dan sekaligus mendukung penggunaan kekuatan militer?
Kekerasan, pemerkosaan, penindasan, penjarahan yang kita telah rasakan hampir-hampir membuat pohon kepahitan kita ikut tumbuh subur bersama dengan waktu, sehingga kesenjangan antara orang yang percaya dan tidak percaya semakin dalam.
Itu suatu pertanyaan yang masuk akal, sebagai contoh juga perselisihan batas antara Negara kita dengan negara tetangga yang mau tidak mau membuat kita sebagai orang Kristen yang terlibat langsung sebagai alat pertahanan Negara ataupun hanya sebagai warga Negara biasa yang mencintai akan Negara ini sudah pasti mempunyai keinginan yang besar untuk setidaknya dapat membela atau mempertahankan Negara ini.

Tetapi Yesus mengajar kita harus mengasihi musuh-musuh kita, membalas kejahatan dengan kebaikan. Apakah ini realistis dalam dunia di mana kejahatan sangat sering menang? Ketika Yesus menyatakan tentang Kerajaan Allah, Ia memberikan standar radikal yang harus dijalankan warga-wargaNya yaitu berbahagialah dan bersukacitalah dalam keadaan apapun, dan standar ini hampir tidak masuk akal.
Ia tahu cara hidup seperti itu sulit dan rumit, tapi itu akan memberikan kesaksian nilai-nilai Kerajaan Allah bahkan di tengah kejahatan dunia ini. Kristus tidak mengatakan orang-orang Kristen yang taat akan bisa mengantarkan kerajaan Allah ke bumi, hanya Kristus sendiri yang akan melakukan itu ketika Ia kembali. Tapi untuk periode di antara kedua tahapan ini – pengumuman tentang Kerajaan Allah dan penyempurnaan finalnya – Allah memberikan struktur untuk menghambat kejahatan di dunia ini.

Negara bahkan di ijinkan untuk mengangkat pedang bila perlu, dan orang Kristen diperintahkan untuk taat pada Negara dan menghormati pihak berwenang sebagai alat-alat Allah, di dalam Kitab Roma 13:1-7, mengatakan:
“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat.

Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.
Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita. Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah.
Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat”.

Jadi ada dua perintah penting yang harus kita perhatikan yaitu; hidup sesuai ajaran Kristus dalam Kotbah di Bukit, yaitu memberi contoh nilai-nilai dalam Kerajaan Allah yang belum tiba dalam kepenuhannya dan pada saat yang sama mendukung peran pemerintah untuk mempertahankan ketertiban sebagai saksi otoritas Allah atas kerajaan-kerajaan dunia saat ini.
Jadi walaupun orang Kristen tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan – sebagai gantinya ia harus memaafkan, dan untuk memutuskan lingkaran kejahatan – ia boleh berpartisipasi dalam struktur yang diijinkan Allah untuk menghambat kejahatan dan kekacauan di dunia ini dengan menggunakan kekuatan pemerintah.
Seberapa banyak dari kita yang sudah mengambil bagian dalam hal ini? Ataukah kita tak pernah peduli akan hal ini? Selama kita masih merasa aman di tempat kita, mungkin kita tidak pernah akan berpikir untuk memutuskan lingkaran kejahatan itu, sampai kejahatan itu datang menimpa kita.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 893 pengikut lainnya.