TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Mengubah Waktunya Tuhan


Suatu pertanyaan yang hampir tidak masuk akal bagaimana mungkin manusia bisa mengubah waktunya Tuhan? Tuhan senantiasa berjalan dalam rencana dan waktu-Nya di dalam dunia ini, siapakah manusia? yang bisa mengubah waktunya Tuhan. Apakah kita termasuk orang-orang yang menunggu waktunya Tuhan? Sudah ribuan Tahun dunia ini ada, sepanjang itu juga dosa tetap ada. Iblis dan antek-anteknya tidak pernah tertidur untuk menguasai dunia ini dan menyesatkan banyak orang.

Orang percaya bertanya-tanya, kapan hari kedatangan Tuhan itu? Apakah Allah sementara menunda penghakiman? Apakah kita termasuk orang-orang yang sedang mengubah waktunya Tuhan? memperpanjang atau memperpendek waktu-Nya?

Allah punya waktu untuk melaksanakan kehendak-Nya, menggenapi Firman-Nya, Apakah kita juga punya kemampuan untuk mengubah waktunya Tuhan?  Injil Yohanes 2:1-5 menceritakan tentang;  Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. 

Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur, Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat Ku belum tiba. “Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung.Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan mereka pun mengisinya sampai penuh.

Ada 3 hal untuk mengubah waktunya Tuhan:

1). Kasih

Apakah kasih itu? Kasih dalam pengertian insani atau pun ilahi merupakan bentuk ungkapan yang paling dalam dari kepribadian sekaligus hubungan pribadi paling akrab dan paling dekat. Mungkin lebih mudah menulis dan membicarakan tentang kasih ketimbang melaksanakannya. Tapi maria mengajarkan kita bagaimana penerapan kasih dalam imannya itu bisa mengubah rencana Allah. Ketika perkawinan di Kana berlangsung mereka kehabisan anggur, maria ibu Yesus adalah bagian dari keluarga ini dan tentunya demikian juga dengan Yesus, maria tahu siapa Yesus tetapi ada perbedaan kepentingan disini antara Maria dengan Yesus, ketika Maria menyatakan kepada Yesus bahwa mereka kehabisan anggur.

Maria ibu Yesus begitu mengasihi keluarga mempelai ini, dia tidak ingin mereka dipermalukan di depan tamu undangan sehingga dia harus mendorong Yesus untuk menyatakan kemuliaan-Nya, mungkin suatu teguran yang halus untuk ibu-Nya, “Mau apakah engkau dari pada-Ku, Ibu? saat Ku belum tiba”, teguran itu tidak membuat Maria tawar hati. Ayat 3 menyatakan dia datang sebagai seorang ibu yang penuh kasih terhadap keluarga mempelai dan menerima teguran anaknya itu dengan penuh kasih, Yohanes 15:12 katakan: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu, dan ayat 5 menyatakan Maria datang sebagai seorang yang penuh iman percaya kepada Tuhan. Dalam perkataannya kepada pelayan-pelayan; “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” Kita bisa melihat disini bahwa kasih bisa mengubah waktu-Nya Tuhan, ketika Maria mengasihi keluarga mempelai, Yesus mengubah waktu-Nya dan melakukan mujizat yang pertama kali di Kana karena Dia mengasihi ibu-Nya dan keluarga mempelai.

Ada berbagai macam persoalan dalam hidup, yang membuat kita bertanya, kapan waktunya saya dipulihkan? Kapan saya diberkati Tuhan? Kita selalu bertanya kepada Tuhan tapi kita tidak pernah bertanya pada diri kita sendiri kapan kita mengasihi Tuhan. Kita tidak akan bisa mengubah waktu-Nya Tuhan untuk kehidupan kita menjadi lebih baik kalau kita tidak pernah memiliki kasih itu. Dan karakter kasih itu sudah tergambar jelas di dalam Kitab 1 Korintus 13:4-8.

Kejatuhan manusia dalam dosa tidak serta merta menghilangkan kasih Allah kepada manusia, tetapi Allah merancangkan keselamatan manusia secara besar-besaran melalui Yesus. Yohanes 3:16 katakan; Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

2). Percaya

Kata kerja dalam Bahasa Indonesia “PERCAYA” dalam bahasa Ibrani adalah אָמַן – ‘AMAN, verb yang merupakan kata dasar. Dalam bahasa Yunani kata PERCAYA adalah: πιστευω – PISTEUÔ, verba, kata ini berasal dari πεiθω – PEITÔ, verba. Kepercayaan/ keyakinan adalah nomina, dalam istilah religius sering disebut dengan istilah: “IMAN”, kata benda/ noun. Kata IMAN menurut kamus besar bahasa Indonesia, adalah : keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, atau ketetapan hati; keteguhan dan keseimbangan batin.

Dalam hal ini kita melihat bahwa ibu Yesus begitu percaya penuh bahwa Yesus sanggup menyelesaikan persoalan yang terjadi pada waktu itu, hubungan personal antara ibu dan anak ini merupakan salah satu yang memicu Maria memiliki keyakinan teguh, walaupun jawaban yang diterima merupakan suatu bentuk penolakan secara halus, tetapi dasar dari kepercayaan ini membongkar pertahanan Yesus dalam jalur resminya bahwa sebenarnya “saat-Ku belum tiba”.

Salah satu yang dihadapi begitu banyak orang Kristen adalah persoalan “Sebelum aku melihat maka aku tidak mempercayainya”. Sehingga persoalan-persoalan yang dihadapi hanya sampai di logika dan cara berpikir kita yang salah dan tak pernah bisa menyelesaikan persoalan itu, konsep untuk menyerahkan atau berserah penuh kepada Yesus tidak pernah terlaksana, semua hanya terbentur pada logika manusia itu sendiri. Ibrani 11:1 mengatakan; Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Kita tidak perlu pembuktian yang konkrit untuk suatu mujizat bisa terjadi, yang kita butuhkan adalah iman atau dasar kepercayaan yang kita harapkan di mana kita tidak atau belum melihatnya. Mujizat di Kana adalah perbuatan ajaib yang pertama atas dasar iman seorang ibu, untuk mengubah waktunya Tuhan. inilah salah satu hal yang bisa mengubah waktunya Tuhan untuk kita, tidak peduli apa pun persoalan kita saat ini. Tuhan hanya meminta percaya penuh atau berserah penuh pada-Nya, ijinkan Dia menyelesaikan semuanya dan jangan batasi kuasa-Nya dengan logika kita, maka kita akan melihat perkara-perkara yang ajaib akan terjadi di dalam kehidupan kita.

3). Perbuatan

Perbuatan atau tindakan ketika menghadapi persoalan Perkawinan di Kana ini sangat jelas sekali, bahwa tidak cukup sampai mengasihi keluarga ini dan percaya Yesus sanggup menyelesaikan persoalan ini, tetapi ibu Yesus menginstruksikan kepada pelayan-pelayan untuk melakukan apa yang akan diperintah oleh Yesus supaya dilakukan.

Ini persoalan yang cukup gila kalau diukur dengan logika manusia di mana kenyataannya tempayan-tempayan kosong cukup di isi dengan air kemudian dibawa kepada pemimpin pesta dan dihidangkan kepada para undangan, kita melihat di sini iman bekerja bersama perbuatan (Yakobus 2:13), jika saja para pelayan tidak melakukan apa yang diperintahkan Yesus, apakah mujizat itu akan terjadi?

Seringkali kita menjadi kebalikan dari para pelayan itu, begitu banyak kita baca dan dengar tentang kebenaran firman Tuhan tetapi pada kenyataannya untuk menaatinya memerlukan waktu yang sangat lama dan mungkin juga seumur hidup kita tak pernah taat? Jangan heran kalau mujizat tidak pernah terjadi dalam kehidupan kita, kehidupan kita yang biasa-biasa saja, ekonomi dalam keluarga tidak pernah ada peningkatan, yang selalu ada hanya masalah dan masalah yang tak pernah habisnya.

Sadarkah bahwa kita sementara terhanyut meninggalkan Tuhan? hanya karena perbuatan kita yang tidak mau taat kepada Tuhan. Dan mungkin kita berpikir sementara menari-nari menyenangkan hati Tuhan dengan penuh kasih dan iman dalam suatu komunitas gereja atau persekutuan doa atau pun lembaga-lembaga Kristen yang terlindungi secara finansial, sesungguhnya kita tidak pernah melangkah meninggalkan tempat kita dan hanya mencari tempat aman dan nyaman.

Maria ibu Yesus dan para pelayan merasa tidak nyaman dengan persoalan yang sementara berlangsung di hadapan mereka, mereka mengasihi keluarga mempelai, mereka percaya Yesus adalah jalan keluar, dan mereka mau taat apa yang Tuhan Yesus perintahkan, inilah yang akan mengubah waktu-Nya Tuhan bagi kehidupan kita.

Belum Ada Tanggapan to “Mengubah Waktunya Tuhan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: