TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Sekte-Sekte dalam Agama Yahudi



1. Parisi (Pharisees)

Parisi secara bahasa artinya sekte yang menyendiri dan berpecah. Penamaan ini diberikan oleh musuh-musuh mereka. Orang-orang Parisi sendiri menyebut diri mereka dengan “Godly Ones”, yang berarti pendeta-pendeta agama atau saudara-saudara pada jalan Tuhan.

Adapun ajaran-ajaran dan sikap hidup orang-orang Parisi:  

  • Meyakini bahwa Taurat dengan the Five Books of Moses telah diciptakan sejak zaman azali, sebagaimana tertulis pada papan-papan suci yang kemudian diwahyukan kepada Musa.
  • Meyakini kedatangan hari Kebangkitan (hari Kiamat), dan kebangkitan manusia setelah mati.
  • Mempercayai keberadaan Malaikat dan hari Akhirat.
  • Kebanyakan mereka hidup zuhud/sederhana, tidak menikah, dan untuk memelihara keturunan mereka mengambil anak angkat.
  • Tidak mempersembahkan korban/sembelihan di rumah ibadah.
  • Umat Yahudi harus mengikuti Taurat dan Talmud.
  • Otoritas menafsirkan teks-teks suci dipegang oleh Hakham (Rabbi). Ini adalah uraian Laurence Browne dalam bukunya From Babylon to Betlehem yang dikutip oleh Ahmad Syalabi dalam bukunya “Agama Yahudi” halaman 223. Syalabi, Ahmad. 1996. Agama Yahudi. Halaman 223-224.
  • Mempercayai kehadiran kembali negara Yahudi dan kedatangan Messiah yang akan mendirikan kerajaan Tuhan di dunia.
  • Mengedepankan pemikiran daripada gerakan revolusioner.
  • Kejadian yang menimpa manusia bukanlah disebabkan takdir Tuhan, tetapi perbuatan manusia bisa merubah takdir Tuhan atas dirinya.
  • Kaum Pharisi bercita-cita agar orang-orang Yahudi memegang teguh kepercayaan lama yang dianut oleh nenek moyang mereka sebelum kejatuhan kerajaan di Palestina.

2. Sadduki (Sadducees)

Menurut Guignebert, penulis the Jewish World in the Time of Jesus, sebagaimana dikutip oleh Prof. Ahmad Syalabi, penamaan Sadducees merupakan pelabelan yang diberikan oleh musuh-musuh mereka dikarenakan sekte ini mengingkari banyak hal. Nama Sadduki berarti yang amat membenarkannya.  Di antara keyakinan dan sikap hidup kelompok ini adalah;

  • Mengingkari hari Kebangkitan, kehidupan sesudah mati, perhitungan amal di akhirat (karena menurut mereka semua pembalasan Tuhan selesai di dunia), termasuk mengingkari keberadaan surga dan neraka.
  • Menolak Talmud dan tidak menganggap Taurat memiliki kesucian mutlak.
  • Mengingkari keabadian manusia
  • Menolak keberadaan Malaikat dan Setan.
  • Tidak mempercayai takdir, tetapi meyakini adanya otonomi manusia untuk memilih.
  • Tidak meyakini kemunculan Messiah.
  • Tidak memiliki kecenderungan pada gerakan revolusioner dan pengambilan tindakan kekerasan.
  • Mereka berasal dari kaum Aristrokrat, memiliki kekayaan, kekuasaan dan kedudukan dalam masyarakat Yahudi.

3. Yudaisme Konservatif (Conservative JudaismMasorti Judaism)

Rabbi Elliot N Dorf dalam United Synagogue Review mengatakan:

“… the point of this form of Judaism is to make Judaism live in our own lives and in those of our descendants by balancing and mixing the traditional with the modern.” (… Point penting dari aliran Yudaisme ini adalah menjadikan semangat Yudaisme integral dengan kehidupan kita dan anak cucu kita dengan keseimbangan dan perpaduan hal-hal tradisional dengan realita modern).

Hatch End Masorti Synagogue yang berkedudukan di Inggris mendefiniskan:

“Masorti is traditional Judaism practised in a spirit of open-minded enquiry and tolerance.” (Masorti adalah praktek Yudaisme tradisional dengan semangat keterbukaan pikiran dan toleransi).

Prinsip-prinsip aliran ini dirancang oleh Zecharia Frankel (1801-1875), seorang pendiri the Jewish Theological Seminary of Breslau Prusia pada tahun 1854 dan Solomon Schechter, kepala the Jewish Theological Seminary (1849 -1915) di Amerika Serikat. Padasaat Schecter mendirikan the United Synagogue of America yangmembawahi 22 Sinagog pada tahun 1912, gerakan ini memilikisuara yang diperhitungkan di Amerika Serikat. Pada tahun 1992organisasi ini berubah menjadi the United Synagogue of Conservative Judaism dan sekarang memiliki 760 aliansi jemaat.

Yudaisme Konservatif memiliki beberapa nilai-nilai utama, antara lain:

  • Keyakinan terhadap Tuhan
  • Centrality of Modern Israel: orang-orang Konservatif memandang Israel tidak hanya tempat kelahiran bangsa Yahudi, tapi juga takdir akhir bangsa Yahudi.
  • Hebrew – Bahasa Yahudi yang tak tergantikan: menguasai bahasa Hebrew merupakan kunci memahami Yudaisme, teks-teks suci, perjalanan bangsa Yahudi, hubungan Tuhan dan bangsa Israel.
  •  Kesetiaan kepada cita-cita Klal Yisrael (komunitas Yahudi di seluruh dunia): komunitas Yahudi di seluruh dunia merupakan satu kesatuan dan setiap orang Yahudi memiliki kedudukan utama.
  •  Melukiskan hukum-hukum Taurat untuk mengasah kembali Yudaisme: Taurat merupakan teks suci tertinggi dalam agama Yahudi. Di dalamnya tertera wahyu Tuhan kepada bangsa Yahudi dan menjadi dasar pemahaman tentang bagaimana menjadi seorang Yahudi.
  • Study of Torah: Orang-orang Yahudi modern harus mempelajari Taurat dalam keadaan selaras dengan keadaan dunia, dan tidak semata-mata menuruti perspektif nenek moyang.
  • Kehidupan yang dipimpin oleh Halakhah (hukum-hukum Yahudi): Halakhah merupakan pusat dan sumber wewenang yang menentukan pandangan hidup dan tingkah laku orang-orang Yahudi.

4. Yudaisme Humanis (Humanistic Judaism)

Aliran ini didirikan oleh Rabbi Sherwin Wine (1928-2007) dengan kehadiran jemaat Jewish Humainistic pertama pada tahun 1962. Kemudian pada tahun 1969, Sherwin Wine mengukuhkan

kelompok yang dipimpinnya dengan membentuk the Society for Humanistic Judaism.

Yudaisme Humanistik merupakan aliran non theistik. Keyakinan mereka dibangun atas dua pondasi dasar yakni,

  • Yudaisme bukanlah sekedar sebuah agama, tetapi merupakan kultur (budaya) bangsa Yahudi.
  • Kekuatan utama untuk memecahkan permasalahan kemanusiaan berada di tangan manusia itu sendiri.

Meskipun menolak keberadaan Tuhan dan hal-hal supranatural, kelompok ini menemukan kepuasan spiritual melalui upacara-upacara sekuler seperti Jewish Holidays, mempelajari dan mendiskusikan isu-isu mengenai bangsa Yahudi termasuk persoalan kemanusiaan secara umum,  dan melakukan aksi-aksi pembelaan terhadap keadilan sosial. Kepedulian terhadap masalah-masalah kemanusiaan ini terinspirasi dari nilai-nilai Yudaisme yang ada pada negara-negara yang mengaplikasikan bahasa Hebrew, sejarah bangsa Yahudi, budaya, dan etika Yudaisme.

5. Yudaisme Liberal (Liberal Judaism)

BBC menyebutkan Yudaisme Liberal sebagai, “a progressive form of Judaism that aims to bring Judaism and modernity together” (sebuah gerakan progresif Yudaisme yang bertujuan membawa Judaisme dan modernitas secara beriringan). Averbach, Susan. 2006. Humanistic Judaism.

Orang-orang Yahudi Liberal mengaplikasikan keyakinan dan tradisi Yudaisme dalam bingkai pemikiran dan moralitas modern. Mereka beraktivitas berdasarkan cita-cita kenabian dengan menegakkan keadilan, cinta dan kasih sayang, serta meninggikan keberadaan Tuhan.

Bagi mereka Tuhan bersifat, “One and indivisible, transcendent and immanent Creator and sustainer of the universe, Source of the Moral Law, a God of Justice and mercy who demands that human beings shall practice justice and mercy in their dealings with one another.” (Esa dan tak dapat dibagi, pencipta yang transenden sekaligus imanen, dan menopang alam semesta, sumber hukum moral, adil dan murah hati kepada siapa saja yang menegakkan keadilan dan berbaik hati dalam pergaulan sesama manusia).

Aliran ini bermula dari Inggris pada tahun 1902 lewat pendirian the Jewish Religious Union oleh Lily Montagu, dan Claude Montefiore. Berbagai terobosan dilakukan sebagai perlawanan mereka terhadap aturan-aturan tradisional Yahudi. Perayaan Sabbath dilakukan dengan dengan bahasa Inggris bukan dengan bahasa Hebrew, diiringi alunan musik, serta laki-laki dan perempuan diperbolehkan duduk bersebelahan. Ritual dengan konsep baru ini dilakukan pertama kali pada 18 Oktober 1992 di Great Central Hotel, London.

Sinagog Yudaisme Liberal pertama yang didirikan di Inggris dibuka pada tahun 1911. Sementara itu Rabbi Liberal pertama dikukuhkan pada tahun 1912. Pembukaan sinagog Yudaisme Liberal di luar London pertama kali dilakukan di Liverpool pada tahun 1928. Aliran ini semakin kuat dengan kehadiran the Union of Liberal dan Progressive Synagogues pada tahun 1944, dimana pada tahun 2005 membawahi 31 sinagog. Saat ini, Liberal Judaism merupakan kelompok Yahudi terbesar se dunia.

6. Ortodoks Modern (Modern Orthodoxy)

Pada akhir abad 18 dan abad 19, pencerahan dan modernitas menggiring beberapa kelompok Yahudi memutuskan meninggalkan adat kebiasaan dan prinsip-prinsip hukum Yahudi. Ada yang kemudian mengikuti tradisi orang-orang non Yahudi di tempat mereka berdiam. Sementara sebagian yang lain mengabaikan sekolah-sekolah sekuler dan memfokuskan diri mempelajari Taurat.

Aliran Ortodoks modern lahir dalam konteks ini, mereka meyakini bahwa sangat mungkin bagi orang-orang Yahudi untuk memegang hukum-hukum, ritual dan adat kebiasaan Yahudi seiring interaksi mereka dengan pengetahuan sekuler, ilmu, dan ide-ide modern. Menurut kaum Ortodoks Modern, terdapat jembatan penghubung antara tradisi dan keyakinan Yahudi dengan modernitas.

Ortodoks Modern dibangun oleh Samson Raphael Hirsch (1808-1888), seorang Rabbi dan filsuf Yahudi pada abad ke 19. Diamendirikan orthodox community di kota Frankfurt Jerman. Iamencoba merespon pertumbuhan gerakan reformasi di Jerman dankedudukan Yahudi Ortodoks. Hirsch percaya terhadap kemungkinanmengkompromikan antara hukum-hukum Yahudi dengan ilmu-ilmusekuler. Filsafatnya dikenal dengan sebutan Torah im Derekh Eretz (Torah with the ways of the world).

7. Yudaisme Ortodoks (Orthodox Judaism)

Yudaisme Ortodoks percaya bahwa bangsa Yahudi telah diselamatkan Tuhan dari perbudakan di Mesir, kasih sayang Tuhan kepada bangsa Yahudi ditunjukkan pertemuan Musa dengan Tuhan di Bukit Sinai. Taurat diajarkan Musa kepada bangsa Yahudi baik itu makna maupun penjelasan-penjelasan yang terkandung di dalamnya melalui lisan. Kegiatan ini diteruskan secara terus menerus, sampai peristiwa kehancuran Kuil di Jerusalem yang diserang oleh Kerajaan Romawi pada tahun 70 M, sehingga para Rabbi merasa perlu menuliskan Talmud (penjelasan Taurat Lisan) untuk menjaga keutuhan wahyu Tuhan ini.

Seluruh orang-orang Yahudi yang meyakini inti kepercayaan Yudaisme dikenal sebagai kelompok Yudaisme Ortodoks. Namun, dalam perjalanan sejarah, keteguhan kaum Ortodoks ini mendapatkan ujian berat, yakni sikap permusuhan Anti Semit abad pertengahan lewat inkuisisi yang begitu kejam. Meski diburu dan dipaksa pindah agama, sebagian kaum Yahudi tetap teguh menjaga keimanannya.

Setelah melewati masa-masa sulit, saat ini aliran Yudaisme Ortodoks semakin berkembang. Mereka telah mendirikan berbagai macam institusi-institusi pendidikan Yahudi. Bahkan the Jewish Learning Exchange yang berkedudukan di London Utara menerima lebih dari 1000 pemuda tiap minggu untuk mendengarkan ajaran-ajaran Yudaisme Ortodoks mulai dari level dasar sampai tingkat lanjut. Rubinstein, YY. 2009. Orthodox Judaism: Introduction. Rubinstein, YY. The Orthodox community in the UK.

8. Yudaisme Rekonstruksionis (Reconstructionist Judaism)

Yudaisme Rekonstruksionis adalah sekte Yahudi Amerika yang didirikan pada akhir abad 20. Aliran ini mencoba menyatukan sejarah, tradisi, budaya, dan keimanan Yahudi dengan ilmu pengetahuan modern dan gaya hidup masa kini. Bagi mereka, agama Yahudi diciptakan oleh bangsa Yahudi, bukan wahyu dari Tuhan. Sebagian besar penganut Rekonstruksionis menolak ide seputar supernatural being, wahyu Tuhan, dan doktrin the Chosen People.

Namun, aliran ini bukanlah penganut paham sekuler. Dalam pencarian makna hidup, mereka menekuni kegiatan spiritual Yahudi lewat pengendalian hati dan emosi. Aliran ini bergerak sesuai dengan perubahan zaman, bagi mereka, masa lalu tidak bisa diabaikan. Namun, harus ada upaya merelevansikan tradisi masa silam dengan keadaan sekarang. Mereka mengatakan, “the past has a vote, not a veto” (masa lalu memiliki suara, namun tidak punya kuasa).

9. Yudaisme Reformis (Reform Judaism)

Gerakan ini dimulai di Jerman pada tahun 1819, kemudian berkembang pesat di Inggris dengan kehadiran the West London Synagogues pada tahun 1842. Berbagai jemaat Reformasi bergabung dengan the Reform Synagogues of Great Britain yang membawahi 42 jemaat. Sekarang, satu dari 6 orang Yahudi di Inggris adalah anggota kelompok ini.

Adapun isu-isu perubahan yang digaungkan oleh Yudaisme Reformasi adalah sejauh mana gaya hidup dan kebiasan baru diperbolehkan, serta siapakah yang memiliki otoritas menafsirkan teks-teks agama. Di antara perubahan-perubahan nyata yang dilakukan oleh aliran ini adalah tidak terpaku pada penggunaan bahasa Hebrew dalam penyampaian khutbah agama, dan tidak memberikan ruang yang sempit bagi wanita di Sinagog (dengan memperbolehkan wanita duduk berdampingan dengan laki-laki).

Iklan

Belum Ada Tanggapan to “Sekte-Sekte dalam Agama Yahudi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: