TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Analisis Kata, Kalimat, Paragraf dan Aturan Dasar dalam Melakukan Hermeneutik


hermeneutika-untuk-awam

1. Membuat Sintaks (Diagram Menurut Tata Bahasa) :                          Banyak bagian Alkitab, terutama yang berbentuk surat, memakai kalimat-kalimat yang panjang dan sukar dimengerti. Contohnya Efesus 1:3-14, dalam bahasa aslinya merupakan satu kalimat yang terdiri dari 202 kata; Roma 1:1-7 juga merupakan satu kalimat panjang yang terdiri dari 93 kata.

Oleh sebab itu kita menggunakan satu metode untuk menganalisa kalimat panjang, yaitu membuat Diagram Menurut Tata Bahasa atau Sintaks dari kalimat tersebut.

Dengan membuat sintaks kita mudah mengerti mana kalimat inti dan mana kalimat penjelas. Dan dengan demikian bisa terhindar dari kesalahan penafsiran yang disebabkan oleh kesalahan dalam melihat hubungan antar kata/kalimat.

Untuk membuat sintaks, kita harus mengerti mana pokok utama dari kalimat panjang itu (Induk kalimat) dan mana yang menjadi hal-hal sekunder (Anak Kalimat, Ungkapan, dll.).

Langkah pertama untuk membuat sintaks adalah mencari pokok kalimat.Contoh dari Yakobus 1:12. Pokok kalimatnya adalah “Berbahagialah orang”. Maka sintaksnya dimulai dengan pokok yang ditulis pada awal satu baris utama, seperti di bawah ini :

Berbahagialah orang

Langkah kedua, anak kalimat, ungkapan dan hal-hal lain ditulis  di bawah baris utama dengan posisi menjorok masuk ke dalam, seperti berikut :

       Berbahagialah orang

                                        yang bertahan dalam pencobaan,

Ungkapan “yang bertahan” memberi keterangan tentang orang. Kata “yang” adalah penghubung dan kata “bertahan” adalah kata keterangan.

Sedangkan “dalam pencobaan” merupakan ungkapan yang menerangkan “bertahan” karena ungkapan ini menjelaskan situasi/kondisi di mana orang harus “bertahan”.  Kata “pencobaan” adalah kata keterangan dan kata “dalam” adalah kata penghubung.

Diagram di atas adalah diagram sistem kasar. Kita bisa membuat diagram sistem murni untuk bisa melakukan analisis yang lebih detail, seperti di bawah ini :

   Berbahagialah orang

                                                yang

                                                         bertahan

                                                                   dalam

                                                                             pencobaan,

Bila kita lanjutkan, maka diagram lengkapnya adalah :

  Berbahagialah orang

                                                yang bertahan dalam pencobaan,

                       sebab

      apabila ia sudah tahan uji

                     ia akan menerima mahkota kehidupan

                            yang dijanjikan Allah

                                     kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

 

Untuk mendapatkan hasil yang baik, sebaiknya pembagian kalimat dibuat tidak lebih dari 6 kata.

2. Berpikir secara Paragraf :                                                                                             Mencari point utama dari setiap paragraf (baik yang di dalam perikop maupun yang ada sebelum dan sesudah perikop), dan hubungan dari setiap paragraf tersebut, sehingga kita bisa memahami alur argumen yang disampaikan penulis.

Dalam berpikir secara paragraf, ada 3 hal yang harus dilakukan :

  • Secara singkat dan padat nyatakan isi dari tiap paragraf.
  • Dalam 1 atau 2 kalimat, coba jelaskan mengapa penulis menyatakan hal tersebut dalam paragraf itu.
  • Setelah tiap paragraf diketahui point utamanya, cari hubungan antar paragraf.

Ingatlah : Tidak semua kata atau ungkapan merupakan kata kunci yang harus diselidiki dengan intensif.

Pikirkanlah dengan cermat, kata/ungkapan mana yang akan diselidiki lebih dalam.

Sebagai patokan, yang perlu dianalisa secara mendalam adalah :

  • Kata/ungkapan yang tidak/kurang kita mengerti.
  • Kata/ungkapan yang mengandung makna teologis.
  • Kata/ungkapan yang diberi penekanan khusus oleh penulis (biasanya dengan cara pengulangan, membandingkan, mempertentangkan, memberikan proporsi ruang yang lebih besar atau mempergunakan kata-kata khusus).

Contoh :

  • Dalam I Korintus 1-3, ada 26 kata “hikmat”, maka perlu diselidiki “hikmat” apa yang dimaksudkan penulis, mengapa itu menjadi sorotannya, dll.
  • Dalam I Korintus 3:10, Paulus menyebutkan dirinya sebagai “seorang ahli bangunan yang cakap”. Dalam RSV diterjemahkan sebagai “an expert master builder”, dan di NIV “an expert builder”. Jelas bahwa penulis mempergunakan kata khusus, jadi perlu dianalisis secara mendalam.

Berdoalah senantiasa; minta Tuhan menunjukkan kata/kalimat mana yang perlu kita selidiki secara mendalam.

3. Analisis harus dilakukan sesuai dengan konteksnya.                                             Sebab itu perhatikanlah selalu hubungan antar kata, kalimat, paragraf, pasal dan kitabnya berdasarkan konteksnya. Sebuah kata bisa memiliki makna yang berbeda-beda pada konteks yang berbeda. Dan walaupun sebuah kata dapat memiliki beberapa pengertian, pada umumnya penulis hanya ingin menyampaikan satu maksud saja.

Jadi, jangan melakukan analisis secara terpisah dari konteksnya.

Contoh :

  • Dalam menafsirkan “kawan sekerja Allah” di I Korintus 3:9, kita harus memperhatikan kalimat “Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang…” di ayat 5.
  • Dalam menginterpretasikan “rahasia Allah” dalam I Korintus 4:1, harus dilakukan dengan memperhatikan 2:7 karena di sana terdapat keterangan tentang hal tersebut. Demikian pula dalam menyelidiki kata atau kalimat lainnya di pasal 4 tersebut, harus memperhatikan 1:10-3:23, karena pasal 1-4 membahas satu pokok yang sama.

Ibrani 1:1 tidak dapat dianalisis secara terpisah dari ayat ke 2. Sebab menurut LAI, kalimat di ayat itu baru selesai pada ayat 2. Bahkan jika melihat bahasa Yunaninya, kalimat itu baru akan selesai pada ayat ke 4, sehingga harus dilakukan analisis hingga sampai ayat 4.

4. Sebuah kata harus ditafsirkan berdasarkan konotasi zamannya. Demikian pula suatu ungkapan.

Contoh :

  • I Timotius 4:12 : “Janganlah seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda.”

Dari kata “muda” tersebut tidak bisa serta merta ditafsirkan bahwa Timotius adalah seorang pemuda yang berumur belasan atau duapuluhan seperti pengertian zaman ini.

Itu karena kata yunaninya, “neotes”, dapat mengindikasikan usia hingga sampai 40 tahun, dan umumnya digunakan untuk menunjukkan usia dimana seseorang sedang berada pada puncak kekuatan dan kematangannya, serta merupakan usia untuk mengikuti wajib militer.

Berdasarkan itu, beberapa ahli berpendapat bahwa usia Timotius adalah sekitar 30 tahun. Pada zaman itu, posisi sebagai gembala jemaat tidak biasa dipegang oleh orang semuda itu, sehingga tampaknya ada orang-orang yang mempertanyakan usia Timotius.

  • Ungkapan “membagi segala sesuatu yang ada padanya” (NIV: share all good things) dalam Galatia 6:6 merupakan suatu ungkapan yang berarti memberikan bantuan keuangan. Dalam ayat tersebut, Paulus menggunakannya untuk menasehatkan jemaat Galatia agar memberikan bantuan keuangan bagi guru-guru rohani mereka, yang kemungkinan adalah beberapa orang dari jemaat Yerusalem yang saat itu sedang mengalami kemiskinan.

5. Perhatikan surat lain yang berhubungan erat, yaitu surat-surat yang ditulis oleh penulis yang sama atau ditulis pada masa yang dekat.

6. Perhatikan kronologi surat-surat Perjanjian Baru dan peristiwa yang dicantumkan di dalamnya.

7. Untuk membantu memahami dengan lebih baik lagi argumen-argumen yang disajikan penulis, adalah perlu bagi kita untuk juga mempelajari latar belakang penulis dan ajaran-ajarannya, khususnya menyangkut topik yang dibahas.

8. Lakukanlah integrasi :                                                                                                     Setelah selesai melakukan analisis kata, kalimat dan parafgraf, kita harus mengintegrasikan data-data hasil analisis menjadi suatu tafsiran yang utuh, jelas, tepat dan mudah dimengerti. Jangan biarkan hasil penyelidikan kita hanya sekedar menjadi tumpukan data yang tidak jelas apa hubungan dan maknanya.

Melakukan integrasi bukan berarti membuat suatu laporan yang mencantumkan semua data hasil penyelidikan. Kita harus memilih, menyusun, menguraikan dan menuliskannya menjadi suatu tafsiran yang utuh, jelas, tepat dan mudah dimengerti.

Untuk membantu, bandingkan dengan beberapa commentary (tafsiran) yang baik. Tetapi ingatlah bahwa buku tafsiran adalah buku penolong bukan buku pedoman. Jangan jadikan tafsiran anda hanya sekedar kumpulan kutipan-kutipan dari buku-buku tafsiran.

Aturan Dasar dalam Melakukan Hermeneutik :

  1. Sebuah teks tidak mungkin mengandung arti di luar arti yang sesungguhnya yang diinginkan penulis bagi penerimanya.

Contohnya, Filipi 1:27-30 :

Bila kita analisis dengan seksama, maka kita dapati bahwa “hidup berpadanan dengan Injil Kristus” yang Paulus perintahkan bagi jemaat memiliki arti bahwa mereka harus bersatu dan berani berjuang bagi iman yang timbul dari berita Injil, dan untuk itu mereka harus berani menderita bagi Injil.

Maka arti teks itu bagi kita tidak mungkin berada di luar arti tersebut; kita harus berani berjuang dan menderita demi Injil. Sama sekali salah bila kita menafsirkan bahwa “hidup berpadanan dengan Injil Kristus” di luar arti tersebut, misalnya kita harus berjuang melawan kedagingan kita tanpa ada kaitannya dengan pemberitaan Injil.

  1. Bila kita mendapatkan suatu perkara atau situasi kehidupan yang spesifik pada penerima surat, dan perkara atau situasi itu sebanding dengan perkara atau situasi kita, maka arti firman Tuhan kepada kita adalah sama dengan arti firman tersebut bagi mereka.

Contoh  Kolose 3: 5, 12 :

“…matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan…”

“Kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran.”

  1. Bila kita mendapatkan suatu perkara atau situasi dalam surat yang tidak sebanding dengan perkara atau situasi yang kita hadapi, maka ada 2 hal yang harus dilakukan:
  • Melakukan eksegesis dengan teliti, sehingga kita mendapatkan suatu prinsip yang dinyatakan dalam teks, yang akan mengatasi kekhususan sejarah di mana prinsip itu diterapkan. Dan prinsip tersebut juga dinyatakan/didukung oleh bagian-bagian lain Alkitab.
  • Kemudian terapkan prinsip tersebut pada situasi-situasi yang benar-benar sebanding.

Contoh :

  • Bila menyelidiki I Korintus 9:1-27, akan kita dapati bahwa para rasul berhak menerima upah dalam pelayanan pemberitaan Injil. Memang saat ini kita tidak lagi mempunyai rasul yang hidup di antara kita. Tetapi prinsip bahwa mereka yang memberitakan Injil harus hidup dari pemberitaan itu (ayat 14), bisa diterapkan pada pemberita Injil atau pelayan firman masa kini. Bagian-bagian lain Alkitabpun mendukung hal ini (misalnya I Tim 5:17-18).
  • Bila membaca I Timotius 2:11-12, akan kita dapati bahwa Paulus melarang perempuan mengajar dan memerintah laki-laki. Apakah makna ayat-ayat ini bagi kita adalah kita harus melarang perempuan mengajar dan memerintah laki-laki?

Pembahasan kedudukan dan partisipasi perempuan dalam kehidupan dan pelayanan di jemaat Efesus sangat mungkin ditujukan kepada para perempuan yang terlibat dalam pengajaran sesat, dan yang telah menyalahgunakan kekuasaan dalam jemaat dengan merampas kekuasaan serta mendominasi jemaat dan guru laki-laki di Efesus.

Dan perintah ini hanya khusus diberikan bagi mereka; Paulus tidak memerintahkan hal ini kepada perempuan-perempuan di jemaat lain. Bagi kita, prinsip yang dapat diambil dan diterapkan adalah kita harus tunduk kepada para pemimpin rohani yang Tuhan tempatkan di atas kita.

 

 

Iklan

Belum Ada Tanggapan to “Analisis Kata, Kalimat, Paragraf dan Aturan Dasar dalam Melakukan Hermeneutik”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: