TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Sejarah Trinitas (1)


hqdefaultAjaran Trinitas atau Tritunggal yang dipercayai umat Kristen sering dijadikan batu sandungan. Sejak kehadiran Yesus, agama Yahudi menolak dengan tegas ke’tuhan’an maupun ke’alah’an Yesus, Arius pada abad ke-4 menolak menyetarakan Yesus dengan Allah, dan pada akhir abad ke-19 ajaran anti-trinitarian Arianisme muncul kembali dalam Saksi-Saksi Yehuwa yang bukan hanya sangat anti-trinitarian, namun juga menganggapnya sebagai ajaran yang dipengaruhi dewa-dewi Babel & Mesir, Plato, bahkan disebut sebagai berasal dari setan, dan dikembangkan oleh susunan Kristen pada abad ke-4. Benarkah bahwa ajaran Trinitas itu baru muncul di abad ke-4?

Kelihatannya soal ini cukup simpang siur karena orang-orang lebih menilainya dari sudut prasangka. Bila kita menyimak ajaran gereja sejak awalnya, ajaran mengenai Tuhan yang esa (shema) yang menyatakan diri dalam Bapa, Anak dan Roh Kudus, sebenarnya sudah ada sejak Perjanjian Lama sekalipun tidak diungkapkan sebagai suatu rumusan doktrin tertentu, lagipula istilah Trinitas tidak ada dalam Alkitab baik PL maupun PB. Kalau begitu, mengapa soal ini kemudian berkembang dan memuncak di abad ke-4 sebagai suatu doktrin yang disebut Trinitas?

Bila kita mempelajari Alkitab Perjanjian Lama dengan hati terbuka, memang disitu keesaan Allah jelas ditekankan, namun di banyak bagian dapat dilihat adanya ungkapan pernyataan lainnya selain Allah Bapa, misalnya Malaekat Allah, firman Allah dan juga Roh Allah. Dalam Perjanjian Baru pernyataan mengenai keesaaan Allah juga masih terus didengungkan, namun sejalan dengan itu soal penyataan Allah dalam firman (Logos) maupun Roh Kudus (Parakletos) makin jelas terungkap. Jadi, sekalipun dalam PL maupun PB tidak dirumuskan dalam bentuk doktrin Trinitas, keyakinan mengenai Tuhan yang Esa yang menyatakan diri itu menjadi bagian pengakuan iman umat percaya sejak awalnya.

Praktis jemaat pertama menerima ketritunggalan itu tanpa mempersoalkan dan mereka dalam upacara pembaptisan anggota jemaat yang baru selalu mengulang-ulang perintah Tuhan Yesus yang menyuruh mereka membaptis dalam nama ‘Bapa, Anak dan Roh Kudus’ (Mat.28:9), ini mencakup pengakuan seperti yang diutarakan oleh Thomas yaitu ‘Tuhanku dan Allahku’ (Yoh.20:28).

Sekitar abad pertama, pengaruh luar mulai mempersoalkan keyakinan soal hakekat Allah yang diterima tanpa reserve oleh jemaat pertama itu. Pada waktu itu ada pengaruh kuat kepercayaan mistik gnostik yang berkembang disekitar Laut Tengah. Gnostik mengajarkan bahwa ada dua asal yang menghasilkan segala sesuatu, yaitu Allah yang menciptakan roh dan Demi Urgos yang menciptakan dunia materi. Disini kekuatan Allah dibatasi kekuasaan demi-urgos itu, dan Allah tidak pernah menyatakan diri. Allah Anak yang kemudian menjadi manusia, dalam gnostik dianggap termasuk dalam dunia roh, yang diciptakan oleh Allah. Kepercayaan ini ada juga pengaruhnya di kalangan Kristen dan kelihatannya merangsang timbulnya aliran Arianisme pada abad ke-4.

Sebenarnya sejak abad ke-2 sudah ada usaha untuk merumuskan hakekat Allah, misalnya dalam diri Theofilus dari Antiokhia (ca.180) yang menyebut istilah ‘triad’ dan kemudian Tertulianus menyebut soal Trinitas namun belum dalam perumusan doktrin tertentu. Timbulnya usaha untuk merumuskan soal ketritunggalan itu dalam perumusan Trinitas sebenarnya dipicu oleh adanya gagasan berbeda yang dilontarkan oleh Arius (ca.320), seorang penatua gereja di Alexandria.

Arius mengemukakan bahwa Anak Allah adalah ciptaan dan sebagai firman (logos) ia bukanlah Allah dan juga bukan manusia biasa. Firman adalah ciptaan yang berada di antara Allah dan manusia, ia lebih rendah dari Bapa, namun diangkat sebagai ‘anak angkat’ dengan gelar ‘Anak Allah.’ Firman itu diciptakan pertama dan paling besar dari semua ciptaan, kemudian firman itu menciptakan yang lainnya. Menurut Arius ada saatnya dimana firman itu tidak ada, kemudian diciptakan oleh Allah dan disebut ‘Allah’ juga.

Pada umumnya mayoritas bapak gereja menolak ajaran Arius yang dianggap tidak sesuai dengan Alkitab.  Alexander, uskup Alexandria menolak pemikiran Arius dan karena menjadi perdebatan di kalangan beberapa pimpinan jemaat, raja Konstantin mengadakan Konsili Nicaea pada tahun 325 untuk membahas kontroversi ajaran Arius ini. Mayoritas yang hadir dari 300 peserta dalam konsili itu menolak ajaran Arius dan menganggapnya tidak sesuai dengan firman Tuhan dan meneguhkan kepercayaan semula mengenai ke’Allah’an Yesus yang setara dan sehakekat dengan Allah Bapa.

Tanpa adanya doktrin trinitas pun mayoritas jemaat pada abad-abad itu mengaminkan ada kejamakan dalam keesaan Allah. Namun karena Konstantin ingin netral, hasil Konsili tidak ditindak lanjuti olehnya apalagi anaknya bersimpati kepada Arius. Apalagi, kala itu Eusebius, uskup Konstantinopel, kawan dekat Arius dan yang berpegang teologi Origen dalam usahanya mencari pengaruh di Roma memfitnah Athanasius sehingga Athanasius beberapa kali harus masuk keluar penjara. Namun, iman Athanasius tetap teguh dan ia terus berjuang memperjuangkan kebenaran.

Dengan kematian Alexander (328) Athanasius menggantikannya, dan ia tetap teguh mempertahankan imannya dan sekali lagi dalam Konsili Konstantinopel (381), ajaran ke’Allah’an Yesus kembali diteguhkan dan ketritunggalan Allah dirumuskan sebagai ajaran Trinitas, akibatnya Arianisme mengalami kemunduran hingga menghilang pada tahun 650. Dari sejarah ini kita mengetahui bahwa doktrin ‘tritunggal’ bukanlah kepercayaan yang berkembang pada abad ke-4 yang dihasilkan oleh gereja Kristen tetapi dalam menghadapi bidat Arius maka gereja merasa perlu memberikan perumusan yang jelas akan kepercayaan yang sudah ada sejak awal kekristenan itu.

Sekalipun Arianisme sudah usai, secara sporadis ada juga kelompok-kelompok kecil yang mempercayai faham keesaan Allah semacam Arianisme, mereka biasanya disebut sebagai Unitarian. Salah satu kelompok unitarian dibentuk oleh John Thomas yang lahir di London pada tahun 1805 dan kemudian berimigrasi ke Amerika pada tahun 1832 dan bergabung dengan kelompok Cambelit. Karena bentrok ia mendirikan sendiri aliran Christadelphian pada tahun 1838.

Christadelphian menganut Arianisme, yang tidak mengakui trinitas sebab yang ada hanya Allah saja. Yesus dipercayai bukan sebagai Anak Allah namun sebagai manifestasi roh Allah dalam diri manusia. Kristus baru ada setelah Yesus lahir, dan Yesus bukan Tuhan. Roh Kudus hanya alat kuasa yang keluar dari Allah. Kematian Yesus hanya merupakan ekspresi kasih Allah yang perlu dalam penebusan dosa, penebusan Yesus untuk menebus dosa manusia tidak diterima. Benyamin Wilson, seorang tokohnya, menerjemahkan Alkitab dari bahasa asli secara kata demi kata dan kemudian deretan kata itu ditafsirkan menjadi kalimat. Terjemahan ini disebut The Emphatic Diaglott (1864).

Pada tahun 1872 Charles Taze Russel mendirikan kelompok penyelidikan Alkitab yang mengacu pada beberapa ajaran Christadelphian dan menggunakan terjemahan Emphatic Diaglott sebagai acuan dan kemudian dasar untuk terjemahan mereka ‘The New World Translation of the Holy Scripture’ (NW, 1950-1961). Kelompok ini kemudian menamakan dirinya Saksi-Saksi Yehuwa sejak 1931. SSY merupakan kebangunan kembali semangat anti-trinitarian Gnostik dan Arianisme.

Aliran penganut anti-trinitarian Arianisme yang kuat saat ini dan sangat agresif dalam menentang ajaran Trinitas adalah Saksi-Saksi Yehuwa. Dalam buku-buku dan literatur SSY lainnya, kita dengan mudah menjumpai sikap yang menentang Trinitas, dan bahwa Yesus disebut Ciptaan yang lebih rendah dari Bapa, dan bahwa Roh Kudus adalah sekedar tenaga aktif atau kekuatan dari Allah. Bahkan lebih dari itu pengajaran Trinitas dianggap sebagai ciptaan Setan (Karena Allah Itu Benar Adanya, h.105).

Kelihatannya SSY pendiri SSY mempunyai pengalaman traumatis yang pahit dengan gereja yang disebutnya susunan Kristen sehingga pada masa modern ini masih mengungkapkan rasa kebencian sebagai luapan emosi yang menghasilkan ucapan yang sarkastis seperti gereja disebut “babel Besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi” (Saksi-Saksi Yehuwa Pemberita Kerajaan Allah, h.51-52), karena itu setiap SSY diharuskan melepaskan diri dari keanggotaan gereja Kristen.

Umat Kristen dianggap sebagai “memuja Allah yang kusut, yang rupanya ganjil serta mempunyai tiga kepala. … sesungguhnya seorangpun belum pernah melihat seorang mahluk manusia berkepala tiga” (Karena Allah Itu Benar Adanya, h.106-107) disebut SSY merujuk manusia sebagai gambar Allah. Trinitas bahkan diasosiasikan dengan tritheis Horus-Osiris-Isis atau Rameses II – Amon-Ra – Nut (keduanya dari Mesir), Istar-Sin-Samas (Babel), Trimurti (India), dan gambaran artis tentang Allah berkepala tiga.  (Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?, h.2,10).

Tidak dapat disangkal, bahwa selain adanya pengaruh Gnostik dan Arianisme, Charles Taze Russel, pendiri SSY, juga tanpa sadar dipengaruhi konsep Buddhisme ketika ia belajar agama-agama Timur (Saksi-Saksi Yehuwa Pemberita Kerajaan Allah, h.122). Konsepnya mengenai kematian roh dan roh sebagai kekuatan ilahi, dan ditolaknya siksaan kekal adalah khas ajaran mistik agama timur Zen Buddhisme.

Kita perlu kritis dalam membaca literatur SSY sekalipun kelihatannya bersifat ilmiah karena mengutip banyak sumber. Dalam buku promosi SSY berjudul ‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, dikemukakan bahwa ajaran Tritunggal adalah ajaran kafir yang dipengaruhi Mesir dan Plato (h.3-12) dan SSY mengutip pernyataan tokoh-tokoh gereja yang anti-trinitarian (h.7) seperti Justin Martir, Ireneus, Clement dari Alexandria, Tertulianus, Hypolitus dan Origen. Ini justru menunjukkan argumentasi kontradiktif yang rancu.

Dari sejarah kita mengetahui bahwa perumusan Trinitas dikemukakan baik oleh uskup di Mesir (Alexander & Athanasius) juga oleh Eropah (Irenius dan umumnya bapak-bapak gereja Roma) untuk menghadapi Arius. Berbeda dengan mitologi Babel dan Mesir yang men’tiga’kan Tuhan, tokoh-tokoh ini justru menekankan ke’Tunggal’an Allah. Justru Ariuslah (penatua Alexandria) yang menekankan ke’tiga’an itu dimana yang kedua dianggap lebih rendah dari yang pertama. Kutipan seakan-akan diucapkan Irenius diragukan, karena bersama-sama Alexander dan Athanasius, Irenius sebenarnya menekankan ‘keesaan Logos adalah Allah baik dalam penciptaan maupun penebusan manusia.’

Yang menarik, faktanya contoh tokoh lainnya yang disebutkan itu justru mereka yang mengawinkan filsafat Plato (Logos lebih rendah dari Allah) dengan Alkitab, terutama Justin Martir, Clement dari Alexandria dan muridnya Origen, dan mereka ditentang oleh tokoh-tokoh Gereja yang ingin membebaskan Alkitab dari pengaruh Yunani. Pada Konsili Nicaea dan Konstantinopel, selain Arius, ide tokoh-tokoh contoh itu ditentang oleh mayoritas, bahkan pada tahun 362 setengah pengikut Origen tidak setuju dengannya mengenai perendahan Logos dan pemisahan Logos dari Allah, dan kemudian bergabung dengan Athanasius. Pada tahun 399 ajaran Origen ditolak gereja.

Contoh-contoh di atas menunjukkan argumentasi yang bersifat kontradiktif. Di satu segi penganut Trinitas dituduh dipengaruhi Plato, padahal di segi lain justru penganut Platolah yang dijadikan contoh untuk menentang penganut Trinitas (yang notabene menentang Plato).

Contoh manipulasi fakta lainnya dalam buku itu adalah ucapan mengenai hadirin Konsili Nicaea yang disebut “Yang hadir kira-kira 300, sebagian kecil dari jumlah keseluruhan” (h.8), ini memberi kesan bahwa penganut Trinitas adalah minoritas. Padahal, fakta sejarah menyebutkan jumlah itu adalah mayoritas uskup yang ada pada saat itu dan mayoritas dari jumlah itu menolak gagasan Arius. Kalau 300 dianggap sebagian kecil berarti saat itu mestinya sudah ada ribuan uskup di sekitar laut Tengah!

Buku itu dan literatur SSY lainnya sama sekali tidak menyebut adanya tokoh ‘Arius’ yang menyebabkan diadakannya Konsili itu dan yang justru mereka anut ajarannya.

Rekayasa data buku itu juga ditunjukkan dalam argumentasi mengenai ayat Yohanes 1:1 (Firman itu adalah Allah) yang diterjemahkan oleh SSY menjadi ‘Firman itu adalah suatu allah’. Untuk mendukungnya dikutip beberapa kutipan terjemahan Alkitab yang senada (lihat ‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, h.27 dan ‘Kitab-Kitab Yunani Kristen terjemahan Dunia Baru’, h.414), padahal bila kita teliti kita mengetahui bahwa contoh-contoh itu umumnya ditulis oleh pengikut Unitarian, Christadelphian dan SSY sendiri, termasuk The Emphatic Diaglott

dan New World Translation of the Holy Scripture yang notabene turunan dari Diaglott. Alkitab versi bahasa Inggeris yang digunakan mayoritas umat Kristen seperti KJV, AV, RSV, NIV maupun Douay (RK) semua menerjemahkan “The Word Was God’ (bukan a god) demikian juga terjemahan baru dalam bahasa Indonesia “firman itu adalah Allah.” (LAI. Mengenai ini sudah dibahas dalam artikel ‘Saksi-Saksi Yehuwa dan Alkitab’)

Dari rekayasa data buku itu kita dapat melihat bahwa penerjemahan Alkitab secara linear (Diaglott, yang artinya dua bahasa) juga dilakukan dengan rekayasa. Yang mencolok adalah memasukkan ajaran anti-trinitarian Arianisme dalam  penerjemahan Alkitab tersebut, sesuatu yang dalam bahasa Yunani disebut ‘eisegese’ (memasukkan kedalam) dan bukan ‘exegese’ (menggali keluar). yang kemudian menciptakan ciptaan ‘yang lain’ padahal kata itu tidak ada dalam naskah aslinya.

Selain contoh ayat Yoh.1:1 (dalam 18 ayat pertama Injil Yohanes fasal 1 ada 6 kata ‘Theos’ yang tidak didahului oleh kata sandang ‘ho’ [dhi. Yoh.1:1 = ton], satu [ayat 1] ditujukan kepada Yesus dan lima lainnya [ayat 6,12,13 dan dua kali dalam 18] ditujukan kepada Allah. Bila konsekwen, maka 5 kali itu menunjukkan bahwa Allah Yehuwa adalah ‘a god’ juga). Ayat Kol.1:16-18 dalam terjemahan NW ditambahkan kata ‘other’ atau ‘yang lain’ sehingga menimbulkan kesan bahwa Yesus ciptaan

Contoh rekayasa lainnya adalah penerjemahan kata ‘Kurios’. Dalam Septuaginta kata itu terjemahan kata Ibrani ‘YHWH’ dan ‘Adonai’, YHWH nama diri Tuhan, Adonai dalam Perjanjian Lama digunakan sebagai ‘nama diri’ dan ’sebutan Tuhan’ tetapi secara terbatas juga berarti ‘tuan’. Perjanjian Baru juga menggunakan kata ‘Kurios’, namun dalam terjemahan SSY (NW) terlihat rekayasa yang mencolok. Bila kata ‘Kurios’ dalam konteksnya berkaitan dengan Allah, maka diterjemahkan Yehuwa, namun bila dikaitkan dengan Yesus diterjemahkan ‘Tuan Yesus!’ Contohnya ucapan Thomas yang mengatakan “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh.20:28) diterjemahkan menjadi “Tuanku dan Allahku” (NW), padahal ucapan ini adalah pengakuan jemaat pertama yang sesuai dengan ucapan pemazmur “ya Allahku dan Tuhanku” (Mzm.35:32) yang dalam Mazmur ditujukan kepada YHWH.

Biasanya, Yesus selagi direndahkan yang bersifat sementara, dianggap bersifat tetap (permanen), dan ayat-ayat yang menunjukkan Yesus sebagai ‘manusia’ itulah yang dipakai sebagai argumentasi untuk menunjukkan bahwa Yesus lebih rendah dari Allah. Contoh pemotongan ayat yang dilepaskan dari konteks adalah penafsiran bahwa Yesus “lebih rendah dari malaikat-malaikat” (Ibr.2:9) dengan komentar “Bagaimana mungkin suatu bagian keilahian yang mahakuasa-Bapa, Anak, atau roh kudus-dapat lebih rendah daripada malaikat-malaikat?” (Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal, h.15).

Padahal, ayat lengkapnya berbunyi “tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat” (Ibr.2:9) dan ayat sebelumnya berbunyi: “Dan ketika Ia membawa pula AnakNya yang sulung ke dunia, ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.” (Ibr.1:6). Bahkan disebutkan pula oleh YHWH bahwa Yesus adalah Allah sampai dua kali (Ibr.1:8,9).

Bila memang Alkitab tidak menyebutkan Yesus sebagai ‘Tuhan’ dan ‘Allah’ tentu penerjemahan sesuai kaidah bahasa yang digunakan umat Kristen (yang diterjemahkan para ahli teologi dan bahasa asli) tentu akan mengungkapkan hal itu dan kita tinggal menunjukkan ayat-ayat yang mana. Justru karena SSY memasukkan doktrinnya ke dalam penerjemahan, maka dalam Alkitab SSY (NW, yang diterjemahkan bukan oleh ahli teologia dan ahli bahasa asli) dibuat sedemikian rupa sehingga kedua jabatan Kristus itu tidak diberikan kepadanya melainkan dijadikan sekedar ‘tuan’ dan ‘suatu allah.’

Belum Ada Tanggapan to “Sejarah Trinitas (1)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: