TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Paralelisme dan Imageri dalam Puisi Ibrani


odb_300716

Paralelisme

Paralelisme adalah penyesuaian yang terdapat antara beberapa kata dari sebuah kalimat puisi. Sebuah paralelisme lengkap disebut sebuah baris. Setiap baris berisi 2, kadang 3, 4 atau lebih (jarang sekali) anak kalimat puisi. Ayat yang memiliki 2 anak kalimat disebut bicolon; 3 anak kalimat disebut tricolon. Kalimat puisi dengan 1 anak kalimat juga ada dan disebut monocola.

Ketika kita membaca baris-baris puisi Ibrani dengan teliti, kita akan melihat bahwa anak kalimat berhubungan dengan arti dari induk kalimat. Tetapi, secara unik anak kalimat selalu membawa lagi pikiran yang terdapat dalam induk kalimat.

Paralelisme mempunyai persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan di antara anak-anak kalimat dalam sebuah baris.  Persamaan-persamaan membuat kita membaca dua anak kalimat sekaligus. Dan variasi yang terdapat dalam anak kalimat kedua memyebabkan pengertian mazmur berkembang.

Paralelisme Semantik (berhubungan dengan arti kata-kata) :

      1. Paralelisme Sinonim :

Memakai sinonim. Pikiran di anak kalimat kedua merupakan sinonim pikiran yang ada di anak kalimat pertama. Anak kalimat kedua/anak kalimat berikutnya mengulangi atau memperkuat pikiran dalam baris pertama.

Aku akan   membagi-bagikan mereka   di antara anak-anak Yakub

         dan          menyerakkan mereka           di antara anak-anak Israel.  (Kejadian 49:7b)

Langit       menceritakan         kemuliaan Allah,

     dan cakrawala    memberitakan    pekerjaan tanganNya; (Mazmur 19:2)

     2. Paralelisme Antitetik :

Memakai antonim (sebuah kata yang artinya berlawan dengan sebuah kata lainnya : kurus/gemuk, lemah lembut/kasar). Pikiran yang sama diutarakan dari 2 perspektif yang berbeda bahkan seringkali berlawanan.

Anak kalimat kedua atau berikutnya berkontras dengan pikiran di anak kalimat pertama. Pernyataan pada anak kalimat pertama diteguhkan oleh lawannya yang ada di baris kedua.

Orang  yang bijak    akan mewarisi kehormatan,

tetapi orang   yang bebal   akan menerima cemooh.  (Amsal 3:35)

Terhadap   orang yang suci  Engkau berlaku suci,

terhadap   orang yang bengkok    Engkau berlaku belat-belit. (Mazmur 18:27)

    3. Paralelisme Sintetik :

Pikiran di anak kalimat pertama diteruskan dan dikembangkan di baris kedua. Jadi isi di anak kalimat kedua atau berikutnya menambahkan pada anak kalimat pertama untuk memberikan informasi lebih lanjut atau menjadikannya sempurna.

Maka sekarang tegaklah kepalaku,

mengatasi musuh sekeliling aku. (Mazmur 18:27)

Penyelamat-penyelamat akan naik ke atas gunung Sion

       untuk menghukumkan pegunungan Esau;

maka TUHANlah yang akan empunya kerajaan itu. (Obaja 21)

   

    4. Paralelisme Lambang (Emblematik) :

Paralelisme ini dengan jelas membuat sebuah analogi. Dalam paralelisme ini dipakai sebuah kata perbandingan (seperti, serupa) demi menyatukan 2 pikiran dari 2 dunia kehidupan yang berbeda. Kata perbandingan ini dipakai untuk memberikan iluminasi bagi sebuah ajaran teologi atau ajaran yang bersifat mendidik.

Seperti burung pipit mengirap dan burung layang-layang terbang,

demikianlah kutuk tanpa alasan tidak akan kena. (Amsal 26:2)

                Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair,

demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. (Mazmur 42:2)

   

     5. Paralelisme Repetitif (Tangga/Yang Mencapai Klimaks) :

Sebagian dari anak kalimat pertama diulang di anak kalimat-anak kalimat berikutnya dan ditambah dengan unsur baru sehingga mencapai klimaks.

        Ascribe to the LORD, O mighty ones,

ascribe to the LORD glory and strength.

Ascribe to the LORD the glory due His name;

worship the LORD in the splendor of His holiness. (Psalm 29:1-3, NIV)

                Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN,

bersorak-sorai untuk gunung batu keselamatan kita.

                Biarlah kita menghadap wajahNya dengan nyanyian syukur,

bersorak-sorai bagiNya dengan nyanyian mazmur.

                Sebab TUHAN adalah Allah yang besar,

dan Raja yang besar mengatasi segala allah.  (Mazmur 95:1-3)

     

      6. Paralelisme Pola Poros (Pivot Pattern) :

Memiliki sebuah kata atau kalimat majemuk yang terletak di tengah kalimat, dan disebut poros kalimat. Kata tersebut harus dibaca dengan kalimat A dan kalimat B.

Di hadapan TUHAN,                (A)

        gemetarlah hai bumi,   

      di hadapan Allah Yakub.           (B)

(Mazmur  114:7, mengikuti terjemahan Dr. Longman)

Frase “gemetarlah hai bumi”, harus dibaca dengan kalimat A dan dengan kalimat B :

Di hadapan TUHAN, gemetarlah hai bumi.

        Di hadapan Allah Yakub, gemetarlah hai bumi.

   

     7. Paralelisme Chiasme (Introvert) :

Dinamakan demikian karena huruf Yunani “Chi” yang berbentuk dua garis bersilang (sebuah X yang besar). Bila dibuat diagram, sebuah garis chiasme akan berbentuk sebuah X :

Have mercy on me, O God,

according to your unfailing love;

        according to Your great compassion

blot out my transgressions.  (Psalm 51:1, NIV)

In His hand are the depths of the earth,

and the mountain peaks belong to Him.  (Psalm 95:4, NIV)

Chiasme juga dapat ditemui pada sebuah struktur tingkat yang lebih tinggi dalam mazmur. Contohnya Mazmur 2 yang terdiri atas 4 stanza yang tersusun sebagai chiasme. Stanza I (ayat 1-3) dan terakhir (ayat 10-12) berhubungan dengan raja-raja dunia dan perbuatan-perbuatan yang terjadi di dunia. Stanza II (ayat 4-6) dan III (ayat 7-9) menceritakan apa yang terjadi di sorga.

Kebanyakan dari contoh-contoh yang kita lihat tadi merupakan paralelisme lengkap (complete parallelism). Maksudnya, setiap bagian anak kalimat pertama paralel dengan setiap bagian yang terdapat dalam anak kalimat yang kedua.

Terkadang anak kalimat kedua tidak memakai sebagian kata dari anak kalimat pertama, dengan pengertian bahwa bagian anak kalimat pertama yang tidak dipakai akan dibaca dalam anak kalimat kedua. Biasanya yang tidak dipakai ialah kata kerja.

Engkau telah menaruh aku dalam liang kubur yang paling bawah,

                    dalam kegelapan, dalam tempat yang dalam. (Mazmur 88:7)

Kata kerja tidak ada dalam anak kalimat kedua, tetapi kita mengerti bahwa pengertian anak kalimat kedua :

(Engkau telah menaruh aku) dalam kegelapan, dalam tempat yang dalam.

Sarana puisi semacam itu disebut elipsis. Gunanya adalah untuk menyatukan secara lebih erat 2 anak kalimat, dan untuk mengungkapkan sesuatu secara ringkas.

Imageri

Selain paralelisme, sarana puisi Ibrani yang menonjol adalah imageri. Puisi-puisi Perjanjian Lama kaya dengan image-image (gambaran/lukisan). Sebagai contoh dalam kitab mazmur Tuhan dilukiskan dengan banyak macam cara : Ia adalah perisai, benteng, batu karang, awan gelap, gembala, pahlawan, pemanah, pengemudi kereta perang, raja, dll.

Dengan demikian, jika kita tidak mengerti cara kerja imageri, kita akan kehilangan banyak berita mazmur maupun bagian Alkitab lainnya yang berbentuk puisiImageri berbicara melalui lukisan kata-kata dengan sebuah perbandingan.

Kadang-kadang perbandingan tersebut secara langsung dan disebut Simile. Sebuah simile ialah sebuah perbandingan yang dibuat menjadi jelas dengan memakai kata seperti. Contohnya :

Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair,

 demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.  (Mazmur 88:7)

Ya TUHAN, Allahku, padaMu aku berlindung;

selamatkanlah dan lepaskanlah aku dari semua orang yang mengejar aku,

supaya jangan mereka seperti singa menerkam aku

dan menyeret aku, dengan tidak ada yang melepaskan. (Mazmur 7:2-3)

Jenis imageri yang kedua adalah Metafora, yaitu suatu perbandingan yang tidak langsung, tanpa memakai kata seperti. Sebuah metafora mengkomunikasikan sebuah image yang lebih jelas daripada sebuah simile sebab metafora memberikan perbandingan tidak langsung dan melukiskan perbandingan yang lebih dekat. Contoh :

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.  (Mazmur 23)

Bagaimana sebuah image berfungsi?

Sebuah image membandingkan 2 hal yang sama dalam beberapa sudut pandang, tetapi juga memiliki ketidaksamaan dalam sudut pandang yang lain. Ketidaksamaan ini menimbulkan rasa heran dan membuat kita memperhatikannya. Kemudian kita akan memperhatikan persamaan yang ada dan menarik pelajaran daripadanya.

Sebagai contoh, bacalah Mazmur 127:3-5.

Di situ anak-anak lelaki adalah seperti busur panah di tangan seorang pahlawan. Untuk mengerti simile ini kita harus bertanya : Dalam hal apa anak-anak lelaki adalah seperti panah? Kita juga harus bertanya : Dalam hal apa anak-anak lelaki berbeda dengan anak panah?

Kita mulai menjawab dengan hal yang jelas kita ketahui : pemazmur tidak membandingkan rupa fisik anak-anaknya dengan anak panah. Tidak ada hubungan harfiah atau fisik antara anak-anak lelaki dengan anak panah. Inilah perbedaannya.

Tetapi bagaimana mereka dapat menjadi sama? Bagaimana perbandingan dengan anak panah dapat menerangkan maksud pemazmur bahwa anak-anak lelaki merupakan berkat bagi ayah mereka?

Jawabannya : Anak panah adalah milik seorang tentara. Anak panah adalah senjata yang membantu tentara itu dalam perang. Demikian juga dengan anak-anak lelaki yang dapat menjadi sumber kekuatan bagi seorang ayah ketika ia berjuang dalam dunia ini; anak-anaknya akan mendukung dia.

Saran-saran dalam menyelidiki imageri :

  • Identifikasikan perbandingan yang ada.
  • Pikirkan baik-baik perbandingan yang ada. Dalam hal apa mereka sama dan dalam hal apa mereka tidak sama?
  • Ingatlah bahwa imageri puisi Ibrani berasal dari kebudayaan kuno Israel dan bukan kebudayaan modern.

Jadi kita harus mempelajari latar belakang kebudayaan tersebut untuk dapat menafsirkan dengan benar. Untuk keperluan ini kita bisa menggunakan referensi-referensi yang baik sebagai alat bantu.

Selain paralelisme dan imageri, penyair kuno Yahudi “memperindah” dan mengembangkan puisi ciptaan mereka dengan pelbagai sarana lain yang agak kurang penting karena jarang terdapat. Diantaranya yang  paling menarik dan paling menonjol serta cukup penting untuk memahami mazmur adalah Inclusio, yaitu sebuah pengulangan yang membuka dan menutup sebuah syair. Contohnya :

  • Mazmur 8, di ayat pembukaan dan ayat penutup, yaitu ayat 2 dan 10 :

            Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya namaMu, di seluruh bumi!

  • Mazmur 106, dibuka dan ditutup dengan kata ibrani Hallelluyah, yang diterjemahkan menjadi Puji TUHAN!

Sebuah Inclusio membuat sebuah mazmur mempunyai kesatuan, dan yang lebih penting lagi, menentukan mood seluruh mazmur. Dalam Mazmur 8, Inclusio membangkitkan suatu sikap hormat kepada Tuhan.

Bahasa Ibrani memiliki karakter emosional sehingga ide abstrak dapat disampaikan dengan istilah-istilah yang konkrit, indah dan hidup. Ini dapat dibuktikan dari seruan langsung kepada obyek mati dengan penuh perasaan (mis. Zak 11:1-2). Atau memakai kata-kata yang bersifat antropomorfisme atau antropopathisme kepada Allah (mis. Maz 10:12). Bahkan dapat menyampaikan kata-kata yang kelihatannya kejam (mis. Maz 137:9).

Karena itu kita harus berhati-hati. Jangan melakukan eksegesis (mencari arti asal) dengan berusaha mencari arti khusus dalam setiap kata atau frase, yang sebenarnya tidak dimaksudkan penulisnya. Sebagai contoh :

  • Allah kita benteng yang teguh”.

Ini bukan berarti Allah adalah sejenis perbentengan atau gedung/tembok yang tidak bisa ditembus, melainkan ini adalah cara berpikir tentang Allah.

  • Dalam dosa aku dikandung ibuku” (Mazmur 51).

Pemazmur sama sekali tidak sedang berusaha membangun doktrin bahwa mengandung itu dosa, atau bahwa ibunya adalah seorang pendosa, atau “original sin” berlaku pada anak-anak yang belum dilahirkan, dll.

Dia sedang memakai hiperbola untuk mengekspresikan secara kuat dan jelas bahwa dia adalah seorang pendosa.

  • Sebab Engkaulah yang …, menenun aku dalam kandungan ibuku” (Mazmur 139).

Ada yang menghubungkan kata “menenun” dengan jalinan DNA manusia.

Pendapat seperti itu tidak bisa diterima, karena sebenarnya ini adalah metafora yang dipakai pemazmur untuk menggambarkan bagaimana Allah terlibat secara pribadi dalam proses penciptaan dirinya.

Belum Ada Tanggapan to “Paralelisme dan Imageri dalam Puisi Ibrani”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: