TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Perlukah Primordialisme dalam Gereja?


gereja-simultan-2Perkembangan penduduk dan khususnya penduduk perkotaan di Indonesia telah mengubah banyak tatanan sosial termasuk tatanan kehidupan berjemaat, khususnya jemaat perkotaan (urban parish). Di tengah-tengah perubahan cepat demikian yang menimbulkan dampak luar biasa, mau tidak mau gereja juga diperhadapkan dengan perubahan strategi dan misi pelayanannya yang membutuhkan penyesuaian dan juga antisipasi menghadapi hal itu.
Secara psikis dan spiritual kita melihat bahwa masyarakat perkotaan makin individualistis dan kepeduliannya kepada tetangga makin menipis, rumah tangga banyak yang berantakan dan kurangnya ikatan kasih antar orang tua dan anak menimbulkan banyak korban.

Pelayanan rohani makin kurang dirasakan “menggigit” karena tekanan karir menimbulkan kurangnya perhatian manusia pada agama. Stress pekerjaan, karir dan kejenuhan hidup modern cenderung menghasilkan masyarakat kota yang kosong rohani yang menjadi sasaran empuk ibadat-ibadat emosional tanpa memiliki dampak berarti bagi kehidupan spiritual.
Di samping banyak gereja, yang makin suam dan kosong, banyak “persekutuan” menjamur di kota-kota besar termasuk di kantor-kantor, restoran-restoran, dan gedung-gedung umum lainnya, banyak pengusaha, orang kaya, orang penting menghadirinya, tetapi apakah kegairahan spiritual perkotaan itu menghasilkan kehidupan yang bertobat? Hal ini perlu dipertanyakan, sebab sekalipun banyak orang hadir dalam persekutuan-persekutuan demikian kelihatannya para pengusaha itu umumnya tetap tidak menunjukkan perubahan dalam cara dagangnya sekalipun ia mulai rajin memberikan persembahan atau persepuluhan.
Moralitas kota makin merosot tajam, hukum rimba makin menjadi etika kota dan etika bisnis, dan manusia kota akan makin menjadi alat produksi dan makin kehilangan identitas diri dan sadar hukumnya lemah. Gejala demikian menunjukkan fakta spiritualitas perkotaan yang semu di mana agama memang dicari dan bermanfaat secara emosional tetapi tidak berdaya mentransformasikan manusia modern di kota.

Agama bertumbuh secara kuantitatif tetapi secara kualitatif masih dipertanyakan.
Penduduk kota modern makin sekular, individualistis dan materialistis dan juga mereka cenderung mencari kelompok-kelompok “primordial” seperti SARA, itulah sebabnya di kota-kota besar kecenderungan untuk berkelompok secara kesukuan atau sekampung menjadi lebih kuat sebagai rem pengaman kecenderungan modernisasi yang makin menghilangkan identitas diri manusia.

Disisi lain bahayanya Primordialisme adalah perasaan kesukuan yang berlebihan, dimana ikatan seseorang pada kelompok yang pertama dengan segala nilai yang diperolehnya melalui sosialisasi akan berperan dalam membentuk sikap primordial. Di satu sisi, sikap primordial memiliki fungsi untuk melestarikan budaya kelompoknya. Namun, di sisi lain sikap ini dapat membuat individu atau kelompok memiliki sikap etnosentrisme, yaitu sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaannya sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain, mereka akan selalu memandang budaya orang lain dari kacamata budayanya.

Hal ini terjadi karena nilai-nilai yang telah tersosialisasi sejak kecil sudah menjadi nilai yang mendarah daging (internalized value) dan sangatlah susah untuk berubah dan cenderung dipertahankan bila nilai itu sangat menguntungkan bagi dirinya.
Terdapat 2 jenis etnosentris yaitu: 1. etnosentris infleksibel yakni suatu sikap yang cenderung bersifat subyektif dalam memandang budaya atau tingkah laku orang lain, 2. Etnosentris fleksibel yakni suatu sikap yang cenderung menilai tingkah laku orang lain tidak hanya berdasarkan sudut pandang budaya sendiri tetapi juga sudut pandang budaya lain.
Dalam kehidupan bergereja kita melihat gejala yang sama di mana banyak yang mencari kembali primodialisme agama yang mempercayai atau berpegang teguh pada agamanya sendiri dan cenderung fanatik, contoh: Sekelompok orang yang menganggap agamanya paling benar dan unggul dari agama lain dan menyebabkan konflik karena pemikirannya. Menguatnya primodialisme dapat juga mengakibatkan munculnya diskriminasi sebagai upaya untuk membedakan golongan-golongan yang berkaitan dengan kepentingan tertentu yang dilakukan dengan sengaja.
Bentuk diskriminasi dilakukan dengan memperlakukan golongan-golongan secara berbeda yang di dasarkan pada ras, suku bangsa, agama, mayoritas, minoritas dalam bentuk kehidupan bergereja di samping mencari pelarian emosional sebagai kompensasi kejenuhan kehidupan modern. Di satu segi kelihatannya gereja ada manfaatnya untuk mengisi kehausan emosional dan kebutuhan primordialisme, tetapi sebagai “Hamba Allah” jelas gereja demikian tidak menjadi “berkat” bagi masyarakat bila ia tidak mempunyai kepekaan lingkungan dan kepedulian sosial.

Belum Ada Tanggapan to “Perlukah Primordialisme dalam Gereja?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: