TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Gereja Fungsional


_MG_3675
Pemahaman tentang gereja Fungsional direfleksikan dengan istilah gereja sebagai organisme. Ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana seharusnya gereja sebagai persekutuan Umat Allah yang telah mengorganisasikan diri dapat melakukan fungsi-fungsinya. Menurut Avery Dulles, organisasi (institusi) merupakan model gereja yang menekankan unsur kelihatan sebagai ciri suatu masyarakat konkret, yang harus memiliki seperangkat aturan, lembaga kepemimpinan dan sejumlah anggota yang menerima peraturan sebagai pengikat bagi mereka.

Sementara pikiran tentang struktur gereja dalam teks Perjanjian Baru, menurut Raymond E. Brown merupakan warisan dari surat-surat Rasul Paulus, khususnya Surat Pastoral kepada Timotius, Titus, yang memperlihatkan pentingnya struktur gereja dan surat kepada jemaat di Efesus dan Kolose memuat refleksi simbolik tentang gereja sebagai “tubuh Kristus yang dicintai”. Misalnya Efesus 2:19; “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” ayat ini secara eksplisit menurut Brown merefleksikan gereja sebagai “Keluarga Allah”. Dan segi kelembagaan dari refleksi ini diperkuat oleh ayat selanjutnya, “Yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”.

Sementara mengenai gambaran gereja sebagai “Tubuh Kristus”, seperti terefleksikan dalam Efesus 1:22, “Dan segala sesuatu telah diletakkanNya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada”.
Di sini terlihat gambaran simbolik tentang “Tubuh Kristus” sebagai kumpulan orang-orang. Gagasan utama yang dapat ditarik dari refleksi di atas bahwa surat Efesus mengembangkan gagasan tentang “Tubuh Kristus” sebagai tekanan untuk menunjuk fungsi-fungsi gereja dalam aspek kelembagaannya.

Dalam hal ini Raymond memperlihatkan suatu interpretasi dari surat-surat Rasul Paulus tentang “Tubuh Kristus” yang diproyeksikan menjadi segi-segi kelembagaan gereja. Mengenai aspek kelembagaan, tidak secara eksplisit gereja sebagai Tubuh Kristus, namun: Tubuh kita bukan organisasi melainkan organisme yang terdiri dari beberapa organ dan hidup secara organik. ide tentang gereja sebagai organisasi cukup samar-samar dan kelihatannya menghindari pemahaman bahwa Tubuh Kristus identik dengan organisasi gereja. Namun “Tubuh Kristus” yang dapat dipadankan dengan “tubuh kita” menjadi ungkapan simbolik terhadap gereja sebagai realitas masyarakat yang melakukan fungsi-fungsinya secara alamiah.

Secara definitif Allah telah melaksanakan karya keselamatan dunia ini dalam Yesus Kristus melalui kedatangan-Nya kedalam dunia. Karya keselamatan yang konkrit tersebut merupakan tindakan kemanusiaan, yaitu Allah yang dipahami solider dengan penderitaan manusia, sebagaimana cara hidup Yesus yang terlibat langsung dalam penderitaan sebagai sikap solidaritas bagi kelompok masyarakat yang terpinggirkan. Hal yang cukup menonjol dari sikap dan cara hidup yang dijalani bahwa Yesus sendiri berasal dari strata lingkungan keluarga kecil dan lingkungan pergaulan-Nya-pun adalah rakyat jelata.

Dalam kaitan gereja dengan Yesus Kristus sebagai pemberi mandat, pertanyaan dasar yang harus jelas yaitu tugas macam apakah yang patut direfleksikan oleh gereja, Kerajaan Allah merupakan situasi dan peristiwa penyelamatan, situasi maupun perjuangan untuk perdamaian dan keadilan, pengelolaan dan pemeliharaan alam, kesejahteraan dan kebahagiaan yang dirindukan oleh semua orang. Pengertian di atas searah dengan gagasan yang harus dikerjakan gereja dengan didasarkan pada figur Yesus.

Seluruh karya Yesus termasuk sengsara-Nya harus menjadi pola keberadaan gereja secara fungsional untuk mengembangkan sikap yang kritis terhadap kekuasaan dan terhadap sikap moral masyarakat umum. Gereja dalam semangat moralitasnya harus mengedepankan fungsi keberpihakannya untuk menjadi gereja bagi kaum miskin dan membela mereka yang lemah, dan kerelaan berkorban. Gereja hadir melalui keterlibatan dan aktifitasnya dalam proses perubahan masyarakat di mana penegakan keadilan bagi masyarakat kecil, mengupayakan perdamaian dan terpeliharanya keutuhan ciptaan demi kemanusiaan.

Gereja harus sungguh-sungguh mengerti hakikat karya Yesus yang membawa kabar suka cita bagi kaum miskin, pembebasan kaum tertindas/terpinggirkan berdasarkan Injil Lukas 4:18-19, yang memuat pesan tentang tindakan Allah untuk menyelamatkan manusia secara konkrit dan utuh. Gereja harus bersikap kritis karena sikap kritis adalah sikap asli Yesus”. Dalam kesadaran ini gereja sebagai gerakan umat tidak lagi bersekutu dengan penguasa, menindas umat.

Dari sudut kosmologi, dunia merupakan alam semesta yang menjadi tempat hunian umat manusia; atau dari sudut historisnya menjadi tempat berlangsungnya peradaban. Memahami hubungan gereja dan dunia tidak dimengerti sebagai hubungan dua ranah di mana dunia berada “di luar” gereja. Sebab jika dunia dimaksudkan sebagai tempat hunian umat manusia dan menjadi panggung sejarah peradaban, maka gereja termasuk dunia ini. Hubungan antara gereja dan dunia adalah pertama-tama mencerminkan dua pola dalam kehidupan umat manusia. Sebagaimana yang dirumuskan bahwa bidang pemisahan itu ditarik antara mereka yang pro Kerajaan Allah dan anti Kerajaan Allah. Bagi kita letak hubungan gereja dan dunia atau sebaliknya, ada pada manusianya.

Hidup gereja yang terlibat pada pembaharuan dunia adalah menyangkut fungsi gereja bagi kehidupan umat manusia, yaitu bagaimana menjadi sarana umat beriman untuk menghayati serta mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari dalam dunia yang konkret. Tujuan gereja bukan dirinya sendiri melainkan demi iman, yakni hubungan setia dengan Kristus. Namun kesadaran beriman baru menjadi nyata jika diterjemahkan dalam hidup sehari-hari. Iman adalah tindakan, bukan omongan. Tindakan manusia yang membuat manusia menjadi manusia. Gereja terlibat kepada pembaharuan dunia dalam rangka fungsinya sebagai tanda dan alat keselamatan bagi dunia. Sebagaimana Kristus demi Kerajaan Allah terlibat dan solider serta kritis dalam kondisi real kehidupan umat manusia, demikianlah semestinya sikap gereja.

Dalam konteks keterlibatan gereja kedalam pembaharuan dunia, ini menunjuk konteks peradaban masyarakat modern, di mana salah satu gejala masyarakat modern yang diberi catatan kritis dan menjadi peringatan terhadap keberadaan gereja adalah citra manusia. Nilai kemanusiaan yang dihargai sekarang ini telah mengikuti “harga pasar” berdasarkan kriteria sumber daya manusia. Kriteria tersebut diadopsi dari dunia industri yang memberi indikasi bagaimana manusia modern diperlakukan. Manusia baru bisa berharga apabila ia produktif sebagai mesin atau alat produktif. Akibatnya, zaman modern hanya akan menciptakan praktek mengeksploitasi dan dieksploitasi sebagai peristiwa umum.

Belum Ada Tanggapan to “Gereja Fungsional”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: