TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Karakter Pekerja Kristus


FG-JUNE08-08
Kemajuan Zaman yang begitu pesat menuntut kesiapan kita sebagai seorang pekerja Kristus untuk memiliki karakter-karakter yang kuat dan berbeda dari pekerja-pekerja yang ada di dunia ini, seperti :

Rajin
Mungkin berlebihan kalau sifat rajin sangat penting harus dimiliki oleh seorang pekerja Kristus, namun kenyataannya seorang pemimpin harus seorang yang rajin atau seorang yang mempunyai kemauan untuk bekerja.
Kita coba lihat beberapa bagian dalam Alkitab tentang kerajinan ini :
Contoh: Mat 25 : 14-30 Bagian Alkitab ini menceritakan tentang tuan yang pergi jauh dan sebelum pergi memberikan uang kepada pegawainya 5 talenta, 2 talenta dan 1 talenta. Ketika tuannnya kembali orang yang diberikan 5 talenta dan 2 talenta memberikan hasil seratus persen. Namun yang diberi tanggungjawab satu talenta tidak mengusahakan uang tersebut, malah ditanam karena tuannya kejam dan menuai ditempat dimana tidak menabur, dan uang tersebut dikembalikan dan dalam ayat 26, tuannya berkata bahwa hamba tersebut “jahat dan malas…”

Bagian Alkitab ini menunjukkan bahwa agar kita setiap hambanya “rajin bekerja”.
Kemalasan merupakan sesuatu yang lazim di dunia ini, orang-orang yang malas tidak pernah mencari pekerjaan dan kalau ada pekerjaan mereka berusaha untuk mengelak. Tidak ada didalam kamus bahwa orang yang efektif itu malas. Orang yang efektif selalu berhati-hati agar waktu dan tenaganya tidak terbuang dengan percuma.
2 Pet 1 : 5-7 mengatakan: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk “menambahkan” kepada imanmu kebajikan dan kebaikan…. Ini semua penambahan, dan penambahan merupakan ciri daripada orang aktif atau rajin. Kalau kita perhatikan 2 Pet 1 : 5 – 7, ini terlihat bahwa Petrus berusaha untuk membangkitkan para pembaca dari apa saja yang membuat mereka pasif dan dia berkata jangan berhenti menambahkan jika telah mendapatkan sesuatu yang baik. Pengangguran hanya bisa diatasi dengan kerajinan. Keadaan menganggur yang negatif harus dilawan dengan kerajinan yang positif. Akar pengangguran adalah kemalasan dan obat “kemalasan adalah kerajinan”.

Mengasihi
Mengasihi orang lain adalah syarat utama dalam pelayanan. Kalau kita tidak mengasihi orang lain, mustahil kita mau berusaha agar orang tersebut seperti kita, seperti Paulus dan akhirnya seperti Yesus. Kalau kita tidak mengasihi yang kita layani, pelayanan tersebut akan menjadi beban buat kita dan kita tidak akan sungguh-sungguh membimbing ataupun berdoa agar orang tersebut bertumbuh.

Kasih adalah dasar dari segala sesuatunya. “Karena anak manusia datang juga bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Markus 10 : 45). Disini kita lihat sasaran Allah, pusat pemikiran Allah adalah manusia. Manusia sangat berharga dihadapan Allah, manusia sangat dikasihi Allah.
Persoalan yang sering terjadi saat ini pada pelayanan adalah kurangnya kasih, dan kita tidak menyadari nilai manusia tersebut dihadapan Allah. Markus 10 : 45, Lukas 19 : 10 Yesus datang ke dunia ini untuk kepentingan manusia, untuk melayani manusia, sampai menyerahkan nyawanya menjadi tebusan. Yohanes 10 : 10. Manusia tidak berbeda dihadapan Allah, (kaya, miskin, pintar, bodoh,…) sama dihadapan Allah, jadi kita tidak ada alasan yang membedakan manusia. Bukan statusnya yang menjadi persoalan tapi jiwanya. Kita harus dapat melihat kedudukan manusia dalam rencana Allah yang kekal.

Rela Menderita
Setiap pekerja Kristus harus rela menderita, sama seperti Kristus yang telah lebih dahulu menderita. “Jadi karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu juga harus mempersenjatai dirimu dengan pikiran demikian. (I Petrus 4 : 1)”.
Penderitaan disini harus kita bedakan antara penderitaan karena kesalahan kita atau karena dalam rencana Allah atau karena melakukan kehendak Allah. Rela menderita artinya demi Kristus, kita dengan suka rela memilih jalan yang penuh derita, berarti kita mempunyai hati yang rela menanggung sengsara oleh karena Kristus.

Persoalannya bukan banyaknya penderitaan yang kita hadapi, tapi sikap kita dalam menghadapi penderitaan itu. Kalau kita pergi melayani dengan harapan mendapat fasilitas khusus, maka kita akan mudah dikalahkan musuh. Tapi kalau kita pergi melayani dan kita sudah siap untuk mendapat fasilitas yang kurang baik, tapi pada kenyataan mendapat yang baik maka itu baik adanya.

Dalam pelayanan, kita hidup tidak boleh mencari keadaan yang menyenangkan, kita harus selalu siap (rela) mendapat perlakuan yang kurang baik. Rela menderita itu mempunyai arti juga melepaskan yang seharusnya diterima dan orang-orang seperti inilah yang paling ditakuti oleh Iblis yaitu orang-orang yang tidak memperdulikan kehidupannya (haknya) karena Iblis sangat susah untuk mengalahklan orang seperti ini, contoh “Ayub”. Iblis akan mengalahkan Ayub, jika Ayub mementingkan dirinya (Ayub 2 : 4 – 5 ).

Pendengar Yang Baik
Mendengar dengan perhatian adalah suatu persyaratan yang sangat dibutuhkan oleh pekerja Kristus.
Menjadi pendengar yang baik lebih sulit dari pada pembicara yang baik, karena manusia lebih suka didengar dari pada mendengar. kemajuan teknologi, kesibukkan, persaingan yang ketat membuat orang tidak mempunyai waktu mendengar.
Banyak orang saat ini yang ingin menceritakan beban atau masalah mereka, tapi kepada siapa? tidak ada yang punya waktu untuk mendengar. Dan karena masalah atau beban tersebut tidak keluar maka terjadilah stress, perceraian karena hubungan keluarga yang tidak punya waktu untuk bercerita.
Seorang hamba Tuhan tidak bisa menyimpulkan dan mencari jalan keluar jika ia tidak memperhatikan dengan baik setiap pembicaraan. Dalam pembicaraan kita harus dapat membedakan tiga hal :
Kata-kata yang diucapkan.
Kata-kata yang dijaga supaya tidak diucapkan.
Kata-kata yang dijaga yang tidak dapat diucapkan.
Sering kali kia telah menyimpulkan pembicaraan orang lain padahal dia belum selesai berbicara, karena kita kurang perhatian atau bosan mendengar sehingga kesimpulan kita salah dan jalan keluar yang kita ambil adalah salah.

Mengendalikan Diri
Banyak sekali pekerja-pekerja Kristus yang kegunaannya menjadi berkurang karena lidah yang tidak dikekang. Pelayanan kurang berkuasa karena kuasa telah bocor melalui percakapan-percakapan yang sembrono atau kosong. (II Tim 2 : 6).
Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama. (Yak 3 : 11)
Kalau kita telah menyerahkan hidup kita, tubuh kita untuk Tuhan hendaklah seterusnya bukan temporer (sewaktu-waktu). Jadi kita harus bisa mengendalikan diri kita karena setiap perkataan yang kita keluarkan dari mulut kita mengandung kuasa, bisa menjadi berkat atau juga bisa menjadi kutuk. Pembicaraan yang telah terlanjur keluar dari mulut kita, tidak dapat ditarik lagi akan terus menjalar seperti api yang bisa membakar apapun yang ada disekeliling kita.
Berbicara pengendalian diri, tidak saja hanya berbicara tentang pengendalian mulut kita tapi juga mencakup, pengendalian akan keinginan mata kita, telinga kita, hidung kita sampai hati, dan kedagingan kita. Semua ini memiliki celah untuk melemahkan kita, ketika mulut kita mengucapkan hal-hal yang negatif maka kita akan menghancurkan sesuatu yang kita targetkan untuk hancur sebaliknya ketika hal-hal yang positif kita ucapkan maka ada suatu hal yang baik akan terjadi. Hendaklah kita berpikir dahulu sebelum mengambil tindakan, baik itu ucapan atau perbuatan kita.

Belum Ada Tanggapan to “Karakter Pekerja Kristus”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: