TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Menara Babel


61“Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.” Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan tér gala-gala sebagai tanah liat. Juga kata mereka: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.” (Kejadian 11:3-4).

Babel adalah tiruan palsu kota Allah, Abraham dipanggil untuk keluar dari kota palsu itu untuk mencari bukan sebuah kota duniawi, melainkan kota yang di rancang dan di bangun oleh Allah (Ibrani 11:10). Demikian pula dengan kita sebagai keturunan Abraham di panggil untuk mencari kota Allah, gereja yang sejati “kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga yang berhias bagaikan pengantin perempuan (Wahyu 21:2).

Ketika Roh Kudus dicurahkan pada hari pentakosta, seluruh surga dan bumi penuh dengan sorakan, “lihatlah kemah Allah ada ditengah-tengah manusia” (Wahyu 21:3). Gereja yang sejati, sebagai tempat kediaman hadirat Allah, telah datang.
‘Babel’ adalah nama dari salah satu kota penting yang didirikan oleh Nimrod di tanah Sinar (Sumer), Babilonia kuno. Babel disebut bersama Erekh dari Akad (Kejadian 10:10). Menurut tradisi Babilonia kota itu didirikan oleh dewa Marduk, dan dihancurkan oleh Sargon ± 2350 sM sewaktu ia mengambil tanah dari situ untuk mendirikan ibukotanya yang baru, Agade.

Sejarah pembangunan kota itu dengan menaranya yang tinggi, diceritakan dalam Kejadian 11:1-11. Di sana nama Babel (Ibrani בָּבֶל – BABEL) diterangkan secara etimologi populer, berdasarkan atas akar kata yang mirip bahasa Ibrani בָּלַל – BALAL, sebagai ‘kekacauan’ atau ‘pencampuran’. Dengan demikian Babel menjadi sinonim dengan kekacauan yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan bahasa yang merupakan bagian hukuman Tuhan atas kecongkakan manusia yang nyata pada pembangunan itu.

Babel adalah visi kota, namun visi itu digerakkan oleh roh manusia. Mungkin saja visi ini memiliki kesatuan dalam perkara-perkara eksternal namun sebuah visi dan juga strategi penjangkauan kota, yang secara internal tidak sesuai dengan kehendak Allah, maka hal itu tidak akan berjalan dengan baik. Mereka mengatakan: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi” (Kejadian 11:4).

Sangat kontras sekali dengan apa yang Tuhan Yesus katakan dalam Matius 28:19-20, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Orang-orang Babel memiliki kesatuan tujuan, tetapi tanpa ditopang oleh kesatuan roh dalam Tuhan. Pada kenyataannya mereka beralih dari toleransi akan perbedaan individu membentuk kesatuan kolaborasi dengan kedagingan tanpa melibatkan Allah dalam tujuan mereka, maka Allah sendiri turun mengacaukan rencana mereka. Mereka hanya ingin membangun suatu kesatuan pemerintahan duniawi dengan kepemimpinan tunggal yang tidak menyertakan Tuhan, dimana ada kepentingan diri sendiri, kesombongan dan keangkuhan manusia.

Pemimpin dari kota besar Babel adalah Nimrod, Kejadian 10: 6-12 menceritakan: “Keturunan Ham ialah Kush, Misraim, Put dan Kanaan. Keturunan Kush ialah Seba, Hawila, Sabta, Raema dan Sabtekha; anak-anak Raema ialah Syeba dan Dedan. Kush memperanakkan Nimrod; dialah yang mula-mula sekali orang yang berkuasa di bumi; ia seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN, sebab itu dikatakan orang: “Seperti Nimrod, seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN.” Mula-mula kerajaannya terdiri dari Babel, Erekh, dan Akad, semuanya di tanah Sinear. Dari negeri itu ia pergi ke Asyur, lalu mendirikan Niniwe, Rehobot-Ir, Kalah dan Resen di antara Niniwe dan Kalah; itulah kota besar itu”.

Nimrod adalah orang yang pertama kali berkuasa di bumi, ayat 9 mengatakan juga, ia adalah seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN, sebab itu dikatakan orang: “Seperti Nimrod, seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN.” Suatu fakta bahwa dia dahulunya adalah orang yang di pakai Tuhan luar biasa sehingga bisa menjadi seorang pemimpin yang besar dan perkasa menguasai kota-kota besar yang ada, tetapi keinginan daging untuk mencari kemuliaan diri sendiri dengan pendirian menara Babel, dan kesombongan serta keangkuhan hidupnya mengakhiri hubungannya dengan Tuhan.

Kalau kita membandingkan dengan keadaan Iblis yang mula-mula dikatakan di dalam Yesaya 14:1-32 dan Yehezkiel 28:1-26. Dari ayat-ayat itu ditafsirkan bahwa mula-mula Iblis adalah suatu malaikat yang tinggi kedudukannya, sangat mulia dan sangat bagus/elok, dan diciptakan sempurna, Akan tetapi oleh sebab kemuliaannya, timbullah kesombongan dan iri hati dalam hatinya sehingga ia menuntut penyembahan yang hanya patut diberikan kepada Allah diberikan juga kepadanya. Maka oleh sebab dosa itu ia jatuh dan kedudukan serta kuasa yang ada padanya diambil oleh Allah. Lalu ia menjadi musuh Allah dan manusia. (Kolose 1:16, 1 Timotius 3:6, 2 Petrus 2:4, Yudas 1:6,9).
Alasan dari kejatuhan itu adalah karena kesombongan dan kehendak diri yang ingin melebihi dan mencuri kemuliaan Allah.

Belum Ada Tanggapan to “Menara Babel”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: