TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Kematian Manusia


Kejadian 2:17, “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati. Kematian masuk dalam kehidupan manusia karena dosa ketidaktaatan manusia terhadap perintah Allah.
Manusia Adam dan Hawa, diciptakan pada hari keenam. Kitab Kejadian 1:27-31 mengatakan: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka……Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.”

Pada hari ke tujuh Allah beristirahat dan menguduskannya, kehidupan manusia setelah hari ketujuh adalah kehidupan abadi sampai suatu ketika manusia melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat, pada akhirnya mereka diusir dari taman Eden (Kejadian 3:23). Sejak saat itu umur manusia mulai dihitung dan Alkitab mencatat dalam Kejadian 5:6 bahwa Adam mencapai umur 930 tahun kemudian mati.
Metusalah mencapai umur yang paling panjang dalam sejarah manusia yaitu 969 tahun. Bagaimana dengan manusia sekarang ini? Sadar ataupun tanpa sadar ketika kita lahir di dunia ini, kita sudah berada dalam antrian panjang untuk masuk dalam pintu kematian. Mau atau tidak mau kita sudah terikat dan tunduk kepada hukum kematian, Kejadian 3:19 mengatakan: “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”
Permasalahan sekarang sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk masuk ke dalam pintu kematian itu, karena di balik pintu itu kita sudah tidak bisa memperbaiki lagi kehidupan kita, apakah kematian kekal atau kehidupan kekal yang akan kita terima di balik pintu kematian itu tergantung kehidupan kita sekarang ini…. ada dua gambaran kematian manusia sebelum dia menerima kematian yang kekal.

Pertama, mati secara moral.
Kejadian 3:6-7, Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Ketidaktaatan akan perintah Tuhan menjadikan suatu tabiat yang baru bagi manusia, tabiat yang berdosa. Bahkan manusia mulai membentuk keinginan bawaan untuk mementingkan diri sendiri tanpa memperdulikan Tuhan atau orang lain sehingga saat ini kita bisa melihat dekadensi moral itu terjadi dimana-mana, manusia menciptakan ketidakteraturan dengan melanggar perintah Tuhan, dan merusak sistim standar hidup dan kehidupan manusia. Dengan berbagai kepentingan, manusia di paksa dan terpaksa untuk mengikuti atau ikut terjerumus pada arus kerusakan, kematian moral ini apabila tidak segera diperbaiki atau dipulihkan maka kematian kekal akan menunggu kita di balik pintu kematian.

Kedua, mati secara rohani.
Kejadian 3:8-10, Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.

Setelah moral manusia rusak atau mati maka hubungannya dengan Allah dengan sendirinya menjadi rusak, inilah yang dinamakan kematian rohani. Adam dan Hawa bersembunyi ketika mendengar bunyi langkah Tuhan, orang yang sudah merosot nilai moral keagamaannya juga demikian. Dia akan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah, tidak ada lagi persekutuan dengan Tuhan, kehidupan akan terasa hampa, tidak ada tujuan, dan cenderung melakukan dosa dalam kehidupannya, hanya Yesus yang sanggup memulihkan kematian rohani seseorang.

Kematian kekal.
Kematian kekal digambarkan dalam Kitab Matius 25:41 “Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya”

Markus 9:44 mengatakan: “di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam. Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. Karena setiap orang akan digarami dengan api.

Wahyu 14:10 mengatakan: “maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba. Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya.”

3 Tanggapan to “Kematian Manusia”

  1. Pertama, mati secara moral.
    Sebagaimana Adam dan Hawa melanggar tatanan yang Tuhan telah tetapkan dan Nikmatnya Dosa dan keengganan kita untuk memuaskan kedagingan kita sehingga kita kehilangan kemuliaan karena kita maunya berkancah dalam keinginan daging.sepertinya halnya kekacauan dalam dunia dan ketidak taatan kita dan pikiran kita terkadang merasa hebat sehingga kita lupa bahwa ada batasan yang tidak boleh dilanggar.Tzunami ada karena manusia juga yang melanggar dan manusia merasa hebat sehingga membuat tebok penahan gelombang jauh kedalam dengan tidak memperhatikan bahwa pasir disepanjang pantai adalah pembatas yang Tuhan buat antara samudera dengan daratan jadi walaupun air laut bergelora dgn dahsyat tetapi ketika melihat pasir pembatas yang Tuhan buat dia tidak bisa melampauinya.tapi karena manusia merasa pintar maka hal itu dibuatlah tanggul penahan gelombang jauh kedalam pada sangkanya kita bahwa itu akan bisa mengurangi dampak jika terjadi gelombang.tetapi kita lupa pasir pembatas yang Tuhan buat.Sehingga ketika laut bergelora air samudera tidak lagi melihat pasir pembatas yang Tuhan buat sehingga menerjang daratan tepatnya Tzunami.Yermia 5:20-29.sebagai Busur yang dipasang Allah yang merupakan Perjanjian yang Allah buat bahwa dunia ini tidak akan dimusnahkan lagi dengan air bah.demikian juga halnya dengan kita ketika kita sudah tidak menghormati yang lebih Tua,sesama,juga kepada orang tua terlebih menghoramati Tuhan dengan tidak menjaga kekudusan maka kekacuan dalam hidup kita,kekacauan karena keuangan,kekacauan dalam rumah tangga dst.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: