TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Nama Allah dalam Perjanjian Lama


Nama El, nama yang paling sederhana yang dengannya Allah disebut dalam Perjanjian Lama adalah nama ‘El’
Dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris di pakai kata God atau god (‘Allah atau Dewa’) Kata padanan ini mempunyai bentuk yang sama asalnya dari bahasa-bahasa Semitis lainnya, dan berarti suatu allah atau dewa dalam pengertian yang paling luas. Karena sifatnya yang umum ini maka kata ini sering dihubungkan dengan kata sifat (ajektif) dan sebutan (predikat) tertentu.
Misalnya Ulangan 5:9 mencatat ‘Aku, Tuhan (Yahweh), Allah-mu (Elohim), adalah Allah (El) yang cemburu. El adalah kata benda nama diri, nama dari ‘Allah akbar’ orang Kanaan yang anaknya adalah Ba’al. Bentuk jamak dari El adalah Elohim dan bila dipakai sebagai jamak, diterjemahkan ‘dewa-dewa’.

Nama Elohim, adalah kata benda jamak maskulin bermakna Allah (Mazmur 86:12), ilah-ilah (1 Samuel 5:7), dewa (1 Raja-raja 18:24), hakim-hakim (Keluaran 22:8), dan malaikat-malaikat (Mazmur 8:6). Kata ini muncul lebih dari 2.600 kali dalam Tanakh Ibrani (Perjanjian Lama), bentuk tunggalnya adalah ‘Eloah’ yang berarti ‘dilingkupi ketakutan’ dan ini menunjuk kepada Allah sebagai Dia yang kuat dan berkuasa, atau merupakan objek dari rasa takut.

Nama Elohim jarang sekali muncul dalam bentuk tunggal, kecuali dalam puisi. Meskipun bentuk kata אלהים – ‘ELOHIM adalah jamak, kata itu terutama jika merujuk kepada TUHAN Allah berarti tunggal dengan menggunakan kata kerja tunggal. Kejadian 1:3, Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi.
Kata tersebut dari sudut tata bahasa dianggap kata benda biasa, mengandung pengertian yang mencakup segala sesuatu yang termasuk konsep Allah, yang berbeda dengan manusia (Bilangan 33:19) dan makhluk-makhluk ciptaan lainnya.
Penggunaan nama ini mengacu kepada hubungannya dengan kosmik dan semesta dunia (Kejadian 1:1), karena hanya ada satu Allah Yang Mahatinggi dan benar, dan Ia adalah sang Pribadi; ‘elohim mendekati sifat kata benda nama diri, sedangkan kualitas abstrak dan konseptualnya tidak hilang.

Nama Elyon, nama Elyon ini berarti: ‘ke atas, ditinggikan’ dan menunjuk Allah sebagai Dia yang tinggi dan dimuliakan (Kejadian 14:19-20, Bilangan 24:16, Yesaya 14:14). Nama ini terutama ditemukan dalam bentuk puisi. Nama itu juga dipakai untuk menunjuk kepada berhala (Mazmur 95:3, 96:5), untuk menunjuk manusia (Kejadian 33:10, Keluaran 7:1), dan tentang penguasa (Hakim-hakim 5:8, Keluaran 21:6, 22:8-10, Mazmur 82:1). Elyon yang juga berarti Allah Yang Mahatinggi adalah gelar Allah seperti yang disembah oleh Melkisedek. Elyon terdapat dalam Bilangan 24:16, dalam Mazmur 7:17 sebutan ini dirangkaikan dengan Yahweh.

Nama Adonai,, ini sangat erat hubungannya dengan nama El, Elohim, atau Elyon. Kata Adonai diturunkan dari kata ‘dun’ (din), atau ‘adan’ yang keduanya berarti menghakimi, memerintah dan dengan demikian menunjuk kepada Allah sebagai Penguasa yang kuat, kepada siapa semuanya harus berhadapan, dan kepadaNya manusia adalah hamba. Pada jaman dulu Adonai adalah nama yang biasa dipakai bangsa Israel untuk menyebut Allah. Tetapi kemudian diganti dengan nama Yehova atau Yahweh. Semua nama yang disebut itu menunjuk kepada Allah sebagai Dia yang tinggi dan dimuliakan.

Nama Shaddai/El-Shaddai. Nama Shaddai diturunkan dari kata ‘Shadad’ yang artinya penuh kuasa, dan menunjuk kepada Allah sebagai pemilik kuasa di surga dan di bumi. Akan tetapi ada juga orang lain yang berpendapat bahwa nama ini berasal dari kata ‘shad’ yang artinya ‘tuan’. Nama ini berbeda dengan Elohim, Allah dari ciptaan dan alam semesta, dalam arti bahwa nama shaddai menunjuk kepada Allah sebagai subjek dari semua kekuatan di alam dan memakai segala sesuatu yang ada di alam sebagai alat atau sarana bagi karya anugerah ilahi.

Walaupun menekankan kebesaran Allah, nama ini tidak mewakili Allah sebagai objek rasa takut atau kegentaran, tetapi sebagai sumber berkat dan kedamaian. Dengan nama inilah Allah datang kepada Abraham, bapa segala orang beriman. Keluaran 6:2 mengatakan: “Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri.”

Nama Yahweh, Kata Ibrani Yahweh kadang-kadang diterjemahkan Yehowa. Naskah asli bahasa Ibrani tidak membubuhkan tanda-tanda huruf hidup pada kurun waktu “tetragramaton”, (4 huruf) YHWH dianggap teramat suci untuk diucapkan jadi ‘adonay’ (Tuhan-ku) dipakai sebagai penggantinya bila membacakannya, dan huruf-huruf hidup dari perkataan ini digabungkan dengan huruf-huruf mati YHWH sehingga terbentuklah ‘Yehowa’ suatu bentuk yang pertama kalinya diperkenalkan pada permulaan abad 12 M.

Nama Yahweh juga berarti Allah menyatakan diriNya sebagai Allah anugerah. Nama ini dianggap nama yang paling sakral dan paling diagungkan di antara nama-nama yang lain, sebagai Allah yang tidak mungkin berubah. Orang Yahudi mempunyai rasa takut tersendiri untuk menyebut nama ini, karena mereka selalu ingat kepada Imamat 24:16 yang berbunyi: “Siapa yang menghujat nama Tuhan pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaat itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama Tuhan haruslah dihukum mati.”

Karena rasa takut itu maka dalam membaca Kitab Suci orang Yahudi menggantinya dengan ‘Adonai’ atau ‘Elohim’. Keluaran 3:14 mengatakan: ‘Aku adalah Aku’ atau bisa juga berarti: ‘Aku akan menjadi apa yang Aku akan menjadi’. Jika ditafsir dengan pengertian seperti itu, maka nama itu menunjuk kapada keadaan Tuhan yang tidak berubah.

Namun demikian, yang menjadi pokok persoalan bukanlah Allah tidak berubah dalam keberadaan esensiNya, seperti Dia tidak berubah dalam kaitan hubunganNya dengan umatNya melainkan nama itu mengandung jaminan bahwa Allah akan menjadi milik bagi umat Israel pada jaman Musa, sama seperti Allah menjadi Allah bagi Bapa leluhur mereka Abraham, Ishak dan Yakub.

Nama itu menekankan kesetiaan perjanjian Allah (Keluaran 15:3 “TUHAN itu pahlawan perang; TUHAN, itulah nama-Nya”, Mazmur 83:19, Hosea 12:6, Yesaya 42:8, “Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung”), dan dengan demikian nama itu tidak dipakai untuk siapapun, kecuali untuk nama Allah orang Israel. Sifat ekslusif dari nama itu muncul dari kenyataan bahwa nama itu tidak pernah muncul dalam bentuk jamak atau dengan awalan.

Nama Yahweh Tsebhaoth, ‘Tuhan semesta alam’ adalah gelar Allah, nama ini tidak terdapat dalam Kitab-kitab Pentateukh pertama kali muncul dalam 1 Samuel 1:3 sebagai gelar yang dengannya Allah disembah di Silo. Nama ini dipakai oleh Daud waktu ia menghadapi Goliat orang Filistin (1 Samuel 17:45) dan Daud menggunakannya lagi sebagai klimaks dari nyanyian kemenangan yang gilang-gemilang (Mazmur 24:10).

Nama ini biasa dipakai dalam Kitab Nabi-nabi (88 kali dalam Yeremia), dan dipakai untuk menunjukkan bahwa Tuhan setiap saat adalah Penyelamat dan Pelindung bagi umat-Nya (Mazmur 46:7,11). Arti harfiah Tsebhaoth ialah tentara, yang dimaksud mula-mula mungkin tentara Israel.
(Bandingkan dengan 1 Samuel 17:45 “Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu”). Tapi segera diperluas menjadi seluruh tentara langit, siap sedia untuk melaksanakan perintah Allah.

Satu Tanggapan to “Nama Allah dalam Perjanjian Lama”

  1. amaziiing


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: