TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Mengelola Waktu


Tiap orang diberi kesempatan hidup hanya satu kali. Setiap hari kita diberi jumlah waktu yang sama. Oleh sebab itu kita patut lebih memikirkan tentang kualitas waktu dari pada kwantitasnya.
Waktu tidak lebih dari suatu gelombang peristiwa-peristiwa. Manusia tempo dulu mengukur waktu dengan terbitnya Matahari atau Bulan. Dan kini kita mengukur waktu dengan Arloji. Namun baik di ukur dengan terbitnya Matahari maupun Arloji, waktu tetap diukur dengan peristiwa atas peristiwa.

Ada waktu-waktu baik dan ada waktu-waktu buruk. Dan ada waktu-waktu terbaik ada juga waktu-waktu terburuk. Waktu tidak bisa disimpan maupun ditarik kembali, juga tak dapat meminjamkan dan dipinjamkan. Waktu harus digunakan. Masalahnya bagaimana kita menggunakannya; bagaimana kita menginvestasi apa yang telah diberikan kepada kita itu.
Waktu menjadi semakin berarti dikalangan masyarakat industri. Di dalam masyarakat industri kita di tuntut untuk mencocokkan waktu kita dengan waktu orang lain. Pandangan tentang waktu berbeda dalam tiap budaya. Pada masyarakat tertentu terlambat 5 menit dari waktu perjanjian sudah menuntut penjelasan. Di masyarakat yang lain terlambat 1 jam adalah hal biasa dan tak perlu minta maaf.
Jelas waktu semakin menjadi sesuatu yang terkait dengan hal lainnya. Waktu adalah milik kita yang sangat berharga. Berikut ini merupakan daftar dari penyebab pemborosan waktu kita.

1. Tidak ada tujuan (purpose) yang jelas
Tujuan: Apabila kita sedang berjalan tanpa arah maka setiap jalan akan membawa kita kemana saja. Dan tidak ada masalah dengan berapa jam kita telah berjalan. Tujuan yang merupakan alasan mengapa kita melakukan sesuatu tidak perlu terukur dengan jelas tetapi arahnya harus jelas.
Sungguh ironis jika kita telah berada di suatu titik di mana hampir semua kehidupan kita terletak di belakang kita lalu kita baru sadar bahwa kita tidak tahu mengapa dan untuk apa segala sesuatu yang telah terjadi sebelumnya. Tujuan kita dalam hidup adalah sesuatu yang dibangun oleh sasaran-sasaran, dan tanpa sasaran-sasaran kita tidak akan pernah efektif mengelola waktu kita dalam hidup ini.

2. Tidak ada sasaran (goals) yang jelas
Sasaran: Setiap orang memilikinya, walaupun tidak semua orang dapat mengungkapkannya apa itu. Tidak mempunyai sasaran sebenarnya merupakan sasaran juga.
Pengelolaan waktu harus dimulai dari sasaran-sasaran. Bagaimana kita menggunakan waktu harus selalu dibagikan dan dinilai dalam hubungan dengan sasaran, dan bila pengelolaan waktu adalah pengelolaan hidup kita, maka titik berangkatnya adalah sasaran-sasaran hidup kita.
Langkah pertama untuk mengelola waktu dengan baik adalah memikirkan dan mencatat apa yang ingin kita lakukan dan kita ingin menjadi apa sepanjang waktu hidup kita. Kita harus dapat membedakan antara hal-hal yang orang lain ajarkan kepada kita tentang bagaimana seharusnya kita, dengan yang telah Allah rencanakan dan ajarkan kepada kita yang Ia kehendaki bagi kita.
Karena sasaran itu berguna dalam pengelolaan waktu maka kita perlu mengetahui kapan kita telah mencapai atau menggenapinya ( atau gagal memenuhinya).
Suatu sasaran harus dapat dicapai dan terukur. Dapat dicapai artinya realistik, sesuatu yang dengan iman kita percaya dapat kita capai. Terukur maksudnya spesifik: kapan dilakukan dan bagaimana kita tahu bahwa hal itu telah dilakukan?
Perlu kita sadari bahwa semua sasaran berkaitan dengan sasaran yang lain. Tiap peristiwa harus terletak pada tempatnya dalam suatu barisan peristiwa. Jika tujuan kita adalah menjadi sukses dalam organisasi atau menjadi ibu yang berhasil bagi keluarga, maka langkah-langkah tertentu harus dilakukan untuk mencapainya. Langkah-langkah ini merupakan sub-sasaran untuk mencapai sasaran atau tujuan yang lebih besar. Ungkapkan sebagai “peristiwa” waktu dan isinya spesifik, dapat diukur dan dicapai, semua itu dapat menjadi patokan nilai dalam menuju sasaran-sasaran hidup kita.

Sasaran-sasaran itu jangan dipandang sebagai pedang yang membayangi kepala kita, dan kita pun tidak perlu takut gagal dalam menetapkan sasaran. Tidak satupun dari kita yang tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari, tetapi membayangkan tentang apa yang akan terjadi dikemudian hari dapat menjadi kekuatan yang mendorong.
Sasaran-sasaran umat Kristen adalah tanggapan iman kepada perintah-perintah Allah. Kita harus menyadari bahwa semua pernyataan kita tentang masa depan merupakan ungkapan iman. (Jika Tuhan menghendaki). Kesadaran ini membebaskan kita dari kekuatiran kita dalam hal “mencoba melaksanakan kehendak Allah” ketika kita menetapkan sasaran-sasaran.
Sasaran itu banyak macam, tipe dan ukurannya. Akan sangat menolong untuk melihat beberapa sasaran seperti: kita ingin menjadi apa atau ingin melakukan apa?

Sasaran ingin menjadi berhubungan dengan sifat-sifat kita misalnya: mengasihi, baik, benar, dan jujur. Selain itu juga menunjukkan posisi kita misalnya sebagai ibu, pengusaha, ataupun pekerja. Untuk hal-hal tertentu sasaran-sasaran ini hanya dapat diukur oleh standard kita sendiri. Secara objektif, semua itu diukur dengan apa yang kita lakukan untuk itu. Karena itu semua itu dapat dilaksanakan dengan sasaran-sasaran “melakukan” (bukan “menjadi”).
Sasaran “melakukan” merupakan hal-hal yang kita ingin capai atau kerjakan. Kebanyakan sasaran-sasaran kita tidak bisa dipisahkan dari seseorang dengan orang lainnya. Kehidupan ini harus dilihat sebagai keseluruhan. Sasaran-sasaran seseorang bagi pengusaha, pelayan Kristen, keluarga, ataupun teman-teman harus dilakukan dalam kebersamaan. Hidup ini seutuhnya adalah bermasyarakat, dan kebutuhan-kebutuhan dan problema-problema tiap orang dalam masyarakat saling terikat dan terkait.
Sasaran itu merupakan suatu proses. Dunia berubah-ubah. Situasi juga berubah-ubah. Keluarga kita juga berubah. Kitapun berubah. Tujuan utama menetapkan sasaran ialah memberi arah dan menguji apakah arah itu bertentangan dengan kebaikan Allah bagi kita.

3. Gagal untuk memanfaatkan kegagalan
Dalam upaya menggunakan waktu secara efektif, kita tidak perlu putus asa oleh kegagalan mencapai sasaran kita. Melainkan kita harus menganalisa mengapa kita gagal, tetapkan sasaran baru dan maju terus. Bukankah penetapan sasaran pribadi merupakan suatu proses? Kegagalan merupakan pengalaman berharga untuk memperbaikinya.

4. Tidak memiliki prioritas
Perkara paling mendasar dalam pengelolaan waktu adalah menetapkan prioritas. Hal ini tidak selalu mudah dilakukan. Sasaran-sasaran harus diurut berdasarkan prioritas. Prioritas pada dasarnya mengatur “kapan” dalam kehidupan kita. Ada prioritas waktu-hidup (lifetime), ada prioritas generasi, ada prioritas tahunan, bulanan, mingguan dan harian.
Menyelidiki waktu kita adalah sama dengan menyelidiki hidup kita. Bagi umat Kristen investasi waktu harus didasarkan pada prioritas yang Alkitabiah. Urutan prioritas Alkitabiah adalah sebagai berikut:
1) Taat (commitment) pada Kristus
2) Taat (commitment) pada tubuh Kristus, Jemaat-Nya.
3) Taat (commitment) pada pekerjaan Kristus.

Pengertian ini dapat kita temukan dalam surat-surat Rasul Paulus kepada Jemaat Roma, Korintus dan Efesus. Dalam ajarannya Paulus menekankan bahwa pekerjaan Kristus dilakukan oleh tubuh Kristus, bukan secara individual.
Banyak orang Kristen mencampur aduk urutan ini. Mereka lupa bahwa kekristenan itu pada dasarnya juga adalah hubungan. Allah lebih berkepentingan melihat siapa kita dari apa yang kita telah capai. Dan siapa kita diukur dari hubungan kita dengan orang lain seperti: kebaikan, kejujuran, kasih, dan kebenaran.

Jangan lupa waktu kita hanya 24 jam sehari. Jumlah pekerjaan yang dapat kita lakukan adalah terbatas. Ada pekerjaan-pekerjaan yang tak dapat didelegasikan kepada orang lain, sebab pekerjaan itu memang tanggung jawab kita atau hanya kita yang dapat melakukannya. Tetapi ada juga pekerjaan yang dapat didelegasikan kepada orang lain.
Jika kita tidak sanggup mengerjakan suatu pekerjaan yang ditawarkan kepada kita, jangan menerima pekerjaan itu. Jika ada orang lain yang dapat mengerjakan pekerjaan itu dengan lebih baik, delegasikanlah pekerjaan itu padanya. Delegasikan pada orang lain tugas-tugas yang bukan menjadi tanggung jawab kita.

Sudah sampai dimanakah kita mempergunakan waktu yang ada? Firman Tuhan katakan dalam Kitab Efesus 5:15-17 “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan”.

%d blogger menyukai ini: