TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Menjadi seorang Murid


“Karena itu pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28 : 19 – 20)

Percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi bukanlah tujuan akhir pertumbuhan rohani seorang Kristen. Setiap orang Kristen harus menjadi murid Kristus, yang memiliki kerinduan untuk terus bertumbuh serupa dengan teladan agung kita, Yesus Kristus, Kolose 1:28-29 mengatakan: Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.

Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. (Efesus 4:11–16)

Hidup dalam keselamatan yang telah Allah anugerahkan, bukan sekedar hidup yang pasif, tetapi hidup yang aktif untuk hidup melakukan kehendak Allah. Ini bukanlah hal yang mudah, melainkan hidup yang membutuhkan suatu kesungguhan dan pengorbanan, untuk dapat berkata “YA” kepada kehendak Tuhan dan “TIDAK” kepada dosa atau keinginan diri sendiri. Panggilan hidup seperti inilah yang Yesus berikan kepada setiap orang yang menjadi murid-Nya. Ini adalah anugerah Allah, yang seharusnya diresponi dengan benar oleh setiap anak-anakNya.

Murid adalah seorang yang mau terus belajar. Murid bukan hanya tahu tentang pengajaran Kristen, tetapi juga melakukan apa yang dia ketahui. Kata “MURID” adalah suatu sebutan yang umum digunakan dalam Alkitab (secara khusus Perjanjian Baru) untuk menunjuk kepada para pengikut Yesus, sebelum mereka disebut dengan istilah “Kristen”. “Di Antiokialah, murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.” (Kis 11:26b).

Kata “MURID” (disciple-Ing, mathetes-Yun) muncul 73 kali dalam Injil Matius, 46 kali di Injil Markus, 37 kali di Injil Lukas, 78 kali di Injil Yohanes, dan 28 kali di Kisah Para Rasul. Status orang Kristen sebagai murid merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dihayati. Menjadi murid merupakan panggilan yang diberikan Tuhan kepada setiap orang yang mau mengikuti DIA, dan merupakan panggilan seumur hidup.
Sebutan murid, bukan hanya suatu terminologi kosong yang melekat pada diri orang Kristen. Setiap murid Tuhan, seharusnya juga menunjukkan kualitas murid yang sejati dalam kehidupannya. Menjadi murid berarti suatu penyerahan diri atau komitmen total kepada gurunya. Murid Yesus harus bersedia menerima syarat untuk mengikut Dia yaitu : “melupakan kepentingannya, memikul salib dan mengikut Aku” (Lukas 9:2, Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. /Markus 8:34). Kualitas murid yang sejati, mencakup suatu sikap yang disiplin dan rela berkorban (ada harga yang harus dibayar).

Jika kita membaca dan merenungkan tantangan menjadi murid yang diberikan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 14:25-33, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”.

Yesus tidak ingin pengikut-Nya terlibat dalam proses pemuridan tanpa memikirkan atau mengetahui apa yang ia sedang jalani. Setiap orang yang mengikut-Nya, sudah jelas harus melepaskan diri dari segala miliknya. Yesus tidak melemahkan semangat orang yang mau terlibat dalam pemuridan, Ia menginginkan mereka yang mengikuti-Nya menghitung harganya dan segala yang hilang jika akan mengikut-Nya.
Berapa banyak waktu yang sesungguhnya dipakai oleh Yesus beserta murid-murid yang dilatih-Nya? Kalau misalnya Tuhan Yesus memakai 12 jam sehari beserta murid-muridNya selama tiga tahun, itulah 4.380 jam setahun, dan 13.140 jam dalam tiga tahun itu. Perhatikan kenyataan berikut : bahwa menumbuhkan sebuah pohon jati memakan waktu bertahun-tahun lamanya, tetapi sebuah jamur payung dapat bertumbuh dalam semalam.
Membangun murid, pembina murid, dan pemimpin yang setia dan luar biasa akan memakan waktu lama.
Mungkin akan menghabiskan waktu kehidupan kita di dunia ini, tapi inilah kenyataan sebuah komitment menjadi murid Yesus, banyak yang sudah jatuh tapi akhirnya mereka bangun dan merangkak untuk berdiri kembali meraih predikat murid sejati, dimanakah posisi kita sekarang ini? Menjadi orang percaya pasif yang masa bodoh dengan dunia ini? Atau sudahkah kita berdiri menjadi murid Kristus yang aktif menyelamatkan dunia ini?

%d blogger menyukai ini: