TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Generasi Kristus


Ada banyak pendapat yang diberikan, jika kita membahas mengenai pemuda. Misalnya mengenai batasan usia yang masih dapat disebut Pemuda. Berapakah sebenarnya usia pemuda?
Jika kita merujuk dunia internasional, maka usia 15 hingga 30 tahun dan belum menikah adalah standar usia jika ingin disebut sebagai pemuda. Sesuai standar PBB, kategori pemuda maksimal berusia 26 tahun. Di Malaysia kriteria pemuda berusia maksimal 28 tahun, dan di Asia Tenggara rata-rata 30 tahun. Sepanjang zaman, kita melihat Allah memakai banyak orang muda untuk membangun kerajaan-Nya.

Pemuda seharusnya memiliki karakteristik, bertanggung jawab, kritis (tidak mudah untuk langsung menerima, senang untuk berpikir, bernalar), dinamis, inovatif (kemampuan untuk mengembangkan sesuatu), kreatif (dapat berpikir di luar kebiasaan), dekat dengan kemajuan teknologi. Pemuda juga memiliki potensi yang begitu besar, baik untuk membangun maupun untuk merusak. Selain itu mereka juga perlu memiliki kedewasaan dalam berbagai segi : fisik, mental dan spiritual . Tapi tanpa kita sadari, generasi muda sekarang telah masuk ke dalam “baby sitting generations”.

Kita dapat belajar dari teladan Daniel dan teman-temannya di dalam Alkitab. Mereka hidup dengan penuh integritas (transparan hidup luar dan dalam). Daniel dan teman-temannya memilki : kualitas yang baik luar dan dalam. Beberapa diantaranya : Kemampuan akademis yang baik, kemampuan kerja yang baik, integritas yang baik (moralitas, jujur, berani menyatakan kebenaran, tidak mencari nama), kerohanian yang baik (tidak mau kompromi dan tetap menjaga kekudusan hidup, juga memiliki hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan dan sesama)
Bagi Daniel dan teman-temannya, tidak ada alasan untuk hidup rusak atau tidak benar hanya karena lingkungan disekitarnya tidak benar. Juga tidak ada alasan karena minoritas maka mereka tersingkir dari arena kehidupan. Semua ini dapat mereka alami karena hidup mereka connected / linked to GOD. Kualitas belajar dan kerja mereka diilihat sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan.
Kehidupan seorang pemuda kristen tidak luput dari berbagai tantangan kehidupan baik itu pekerjaan, keluarga, gaya hidup (materialisme = menempatkan materi sebagai yang paling utama dalam hidup; konsumerisme = mendapatkan sesuatu dengan mudah dan segera, sulit membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan; pragmatisme = orientasi pada hasil bukan pada proses, etika situasi misalnya: bohong demi kebaikan; hedonisme = kesenangan adalah segala-galanya; budaya instant = yang penting cepat dan mudah)

Gereja Tuhan sangat membutuhkan SDM yang berkualitas tinggi dan generasi muda adalah generasi yang seolah-olah cuma punya 3 pilihan dalam menghadapi status quo dan kemapanan di sekitar mereka yang pertama melarikan diri, yang kedua menghanyutkan diri dan yang ketiga menjadi amat reaktif dan agresif.
Generasi muda kita sekarang ini dipacu dan diburu untuk mengejar sukses … sukses dalam arti eksternal dan material. Meraih kedudukan setinggi-tingginya, memiliki kekayaan sebanyak-banyaknya, menikmati kemewahan dan kesenangan sebesar-besarnya.

Sukses yang lebih banyak ditentukan oleh what you have, bukan oleh what you are; oleh how much you have, bukan oleh how good you are. Sebab itu, siapa yang berbicara tentang karakter sekarang ini? Di dalam masyarakat kita sekarang, karakter seperti kejujuran, integritas, moral, keberanian, dan sebagainya justru menutup banyak pintu kesempatan dan kemungkinan. Sebaliknya, sukses membuka lebar-lebar hampir semua pintu. Bagaimana orang tidak tergoda ?
Membangun sebuah masyarakat hanya berdasarkan sukses-sukses kuantitatif yang bersifat material dan eksternal adalah ibarat membangun sebuah menara Babel; yang puncaknya menggapai langit namun dengan fondamen keropos, semakin tinggi menara itu, tingkat kehancurannya akan berakibat semakin fatal. Fondamen itu adalah karakter… Kapan kita terakhir berbicara mengenai karakter ? Generasi kita sedang kita biarkan tumbuh tanpa karakter ! Apakah tantangan generasi muda masa kini ?

Sekaranglah tantangan untuk menjadi generasi Kristus yang kreatif dan mandiri, generasi yang berkarakter dan bermoral kuat, dan generasi yang memiliki kesadaran solidaritas kebersamaan yang tinggi! Generasi yang teruji baik kualitatif maupun kuantitatif, harus lebih baik dari generasi sebelumnya.

Di dalam setiap zaman, kita harus senantiasa dapat melihat kesempatan, krisis dan segala kemungkinan potensi dari zaman itu. Tuhan, tidak melahirkan kita di zaman yang sudah lalu dan Tuhan juga tidak melahirkan kita di zaman yang akan datang. Maka “aku” yang dilahirkan di dalam zaman ini, harus dikaitkan dengan zaman ini. Mengapa saya tidak dilahirkan 50 tahun yang lalu, atau dilahirkan 100 tahun yang akan datang? Mengapa saya bisa menjadi pemuda yang dilahirkan pada zaman ini? Pasti ada maksud Tuhan di balik semua itu. (Stephen Tong).

Berapa banyak pemuda yang sadar atau insyaf akan pentingnya masa ini? Di usia 17 tahun, seringkali seseorang masuk ke dalam situasi keraguan, skeptik dan tidak tahu mau kemana mengarahkan hidupnya, sehingga begitu banyak kesulitan dan pemberontakan yang timbul. Sesudah itu, pada usia 18-19 tahun, merupakan periode yang terakhir dimana anak muda akan memikirkan untuk mau kembali kepada Tuhan, sehingga ketika memasuki dunia universitas, ia akan terus mengejar kebenaran. Atau jika ia menolak, maka ia akan terjerumus ke dalam arus dunia ini.

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa generasi demi generasi datang dan berlalu, tetapi bumi tidak berubah (Pkh. 1:4). Satu generasi datang dan satu generasi digeser, namun bumi ini tetap tidak mengalami perubahan. Kalimat ini memberikan suatu sifat relativitas, yaitu yang dapat berlalu dan yang masih ada. Siapakah saya? Apakah saya adalah tuan rumah dari bumi ini, ataukah saya hanya sekedar seorang tamu bagi bumi ini? Apakah saya yang menguasai bumi ini, atau saya yang akan dikuasai oleh bumi ini? Apakah saya yang akan menggeser zaman ini, ataukah zaman ini yang akan menggeser saya?

Mengapa ketika kita mempelajari sejarah, kita mempelajari tokoh-tokoh yang begitu hebat, yang begitu berpengaruh, yang pikirannya tidak luntur dan selama beribu-ribu tahun tetap memberikan pengajaran dan inspirasi kepada manusia. Mereka adalah orang-orang yang tidak digeser oleh zaman, tetapi mereka yang menggeser zaman. Meskipun tubuh mereka bisa mati, jasmani mereka dikuburkan, tetapi pikiran mereka terus mempengaruhi seluruh umat.

Yesus Kristus menyinggung orang orang yang hidup di zaman-Nya dengan berkata, “Rupa langit kamu tahu membedakannya, tetapi tanda-tanda zaman tidak” (Mat. 16:3b). Melalui kalimat ini, Yesus ingin mengajak manusia untuk peka: mengapa ia ada dan hidup di dalam zaman itu, lalu kemudian berusaha mengerti tanda-tanda zaman di mana ia berada, apa saja krisis dan potensi yang terkandung di dalam zaman itu, dan apa tugasnya di dalam zaman itu.

%d blogger menyukai ini: