TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Penderitaan dan Kematian Yesus


Penderitaan dan kematian Yesus di atas kayu salib sudah sering kita dengar, tetapi seringkali hal ini tidak terlalu berkesan kepada kita karena: hanya diberitakan secara sepintas lalu, dan mungkin hanya kita dengar / baca dengan otak, tidak dengan hati bahkan tidak pernah kita renungkan. Penderitaan dan kematian Kristus suatu yang fenomenal, Matius 27:26 menceritakan tentang Yesus yang akan disesah.

Hal itu diceritakan begitu singkat, sehingga bisa saja kita menganggap itu sebagai penderitaan yang kecil! Tetapi sesungguhnya jelas tidak demikian. Dapat di katakan betapa hebatnya penyiksaan ini, gambaran Pencambukan Romawi adalah suatu penyiksaan yang hebat. Korban ditelanjangi, tangannya diikat kebelakang, lalu ia diikat pada suatu tonggak dengan punggungnya dibungkukkan sehingga terbuka terhadap cambuk.

Cambuk Romawi terdiri dari gagang kayu yang pendek yang diberi beberapa tali kulit, yang ujungnya dilengkapi dengan potongan-potongan timah atau kuningan dan potongan-potongan tulang yang diruncingkan. Pencambukan diberikan terutama pada punggung korban, yang ditelanjangi dan dibungkukkan. Biasanya 2 orang dipekerjakan untuk melaksanakan hukuman ini, yang seorang mencambuki dari satu sisi, yang lain mencambuki dari sisi yang lain, dengan akibat bahwa daging yang dicambuki itu kadang-kadang koyak / sobek sedemikian rupa sehingga pembuluh darah dan arteri yang terletak di dalam, kadang-kadang bahkan isi perut dan organ bagian dalam, menjadi terbuka / terlihat. Pencambukan seperti itu, yang tidak boleh dilakukan terhadap warga negara Romawi (bdk. Kis 16:37), karena sering berakhir dengan kematian.

Kalau seseorang dicambuki dengan cambuk biasa saja, maka itu sudah merupakan suatu penderitaan / penyiksaan yang hebat. Apalagi kalau seseorang dicambuki dengan cambuk Romawi. Pada waktu cambuk Romawi itu dicambukkan ke punggung yang sudah ditelanjangi, maka benda-benda tajam yang ada pada cambuk itu menancap di punggung dan menggoresnya / mengirisnya. Itu baru cambukan pertama.
Pada waktu cambukan kedua diberikan maka bisa saja benda-benda tajam pada cambuk itu menancap persis pada bagian yang sudah terluka / tergores / teriris oleh cambukan pertama tadi. Tentunya ini akan memperdalam luka tadi. Demikian seterusnya sampai punggung yang dicambuki itu secara hurufiah menjadi hancur / menjadi pita-pita atau bahkan menjadi bubur, dan pembuluh darah dan organ tubuh bagian dalam menjadi terbuka / terlihat.

Sekarang, bisakah saudara merasakan beratnya siksaan ini? Satu-satunya hal yang ‘enak’ dari penyiksaan ini adalah bahwa pencambukan sebelum penyaliban ini mempercepat kematian di atas kayu salib (karena darah yang keluar sangat banyak)!
Bayangkan dan renungkan penyesahan yang Yesus alami ini! Ia mengalami hal ini untuk menebus dosa-dosa kita! Masihkah kita meremehkan dosa?
Sebelum Yesus disalibkan, Ia sudah mengalami hinaan dan ejekan (Mat 27:28-31). Ada yang mengatakan bahwa mahkota duri bukan dimaksudkan untuk menyiksa tetapi hanya untuk mengejek, tetapi ada juga yang beranggapan bahwa mahkota duri dimaksudkan sebagai suatu hinaan / ejekan dan sekaligus juga sebagai suatu penyiksaan. Seseorang mengatakan bahwa disana tumbuh suatu tanaman dengan duri yang panjangnya antara 4-6 inci (10-15 cm)! Ia memperkirakan tanaman inilah yang dipakai untuk membuat mahkota duri yang lalu ditancapkan ke kepala Yesus!

Pada saat Yesus sudah ada di kayu salib, Ia-pun tetap masih menerima hinaan dan ejekan (Mat 27:39-44). Perhatikan kebodohan dari pengejek-pengejek itu dalam Mat 27:40,42! Mereka berkata bahwa mereka mau percaya kepada Yesus kalau Yesus turun dari kayu salib! William Booth (pendiri ‘Bala Keselamatan’) mengomentari bagian ini dengan mengatakan : justru karena Ia tidak mau turun maka kita percaya kepada Dia.

Memang, kalau Kristus tidak tahan terhadap hinaan / ejekan itu, dan Ia turun dari kayu salib, maka tidak ada Juruselamat / Penebus dosa bagi kita, dan tidak ada gunanya bagi kita untuk percaya kepada Dia. Semua ini akan menyebabkan kita semua akan masuk neraka! Tetapi, puji Tuhan, Ia mau menahan ejekan dan hinaan itu demi kita!
Sebelum disalibkan, Yesus diharuskan memikul kayu salib, ada 2 hal yang perlu diketahui tentang tradisi pemikulan salib: pertama, yang dipikul bukan seluruh salib, tetapi hanya bagian yang horizontal, sedangkan bagian yang vertikal ‘menunggu’ di tempat penyaliban. Tetapi bagian horizontal inipun cukup berat. Kedua, orang yang akan disalib itu harus memikul salibnya ke tempat penyaliban, dan ia digiring melewati route / jalur yang sejauh mungkin, dengan tujuan supaya bisa dilihat oleh sebanyak mungkin orang, sebagai suatu peringatan bagi orang-orang itu.

Ketika mereka sampai di tempat penyaliban, salib itu ditidurkan di atas tanah. Orang hukuman itu direntangkan di atasnya, dan tangannya dipakukan pada salib itu. Di antara kaki-kaki dari orang hukuman itu (diselangkangannya), menonjol sepotong kayu yang disebut sadel, untuk menahan berat orang itu pada waktu salib itu ditegakkan kalau tidak maka paku-paku itu akan merobek daging di tangannya.
Lalu salib itu ditegakkan dan dimasukkan di tempatnya – dan orang hukuman itu dibiarkan untuk mati … Kadang-kadang, orang-orang hukuman tergantung sampai satu minggu, mati perlahan-lahan karena lapar dan haus, menderita sampai pada titik dimana mereka menjadi gila.

Kematian di kayu salib merupakan kematian secara perlahan-lahan akibat kehabisan oksigen. Lengan yang direntangkan ke atas membuat terhukum sulit mengambil nafas. Setiap kali ia ingin bernafas, ia pun terpaksa mengangkat tubuhnya sedikit dengan menggunakan kakinya. Pada saat tubuhnya sedikit terangkat, otot-otot di lengannya akan menjadi sedikit lemas dan keadaan ini akan memudahkannya menarik nafas. Namun gerakan ini akan menimbulkan rasa sakit di kakinya, karena gerakan ini berarti ia harus menumpukan berat tubuhnya pada kedua tumitnya yang terpaku di salib.
Penyaliban menimbulkan rasa sakit yang tak terbayangkan, mulai dari proses pemakuan kaki dan tangan sampai pada menggantungkan tubuh pada kaki dan tangan yang dipaku. Setiap tarikan nafas akan membuat terhukum merasa sakit luar biasa di urat syaraf tangan dan kakinya. Selain itu, ia pun akan merasakan sakit, karena setiap kali bernafas, ia harus menggesekkan punggungnya yang terluka akibat cambukan pada kayu salib yang kasar.

Adakalanya terhukum akan hidup berhari-hari meski dalam kondisi setengah mati dengan rasa tercekik akibat kekurangan oksigen. Itulah sebabnya serdadu Romawi biasanya mematahkan kedua kaki terhukum guna mempercepat kematiannya (crurifragium). Dalam kasus Tuhan Yesus, kedua kaki-Nya tidak dipatahkan, karena kematian-Nya yang relatif cepat akibat penyiksaan yang dialami-Nya itu.
Penderitaan Kristus di kayu salib berlangsung selama kurang lebih enam jam; namun setiap menit dan detik, tubuh-Nya menderita sakit yang amat sangat. Kematian di kayu salib merupakan hukuman mati kekaisaran Romawi yang diperuntukkan bagi para budak dan kriminal kelas berat yang bukan warga Romawi. Dengan kata lain, penyaliban merupakan hukuman mati yang terhina, sebab hanya diterapkan bagi mereka yang dianggap paling hina. Tuhan, pencipta alam semesta dan isinya, lahir secara terhina dan mati secara terhina pula. Semua ini dilakukan-Nya oleh karena satu alasan saja, yakni untuk menebus dosa saya dan Saudara.

Persis sebelum Yesus disalibkan, Ia diberi minum anggur bercampur empedu, tetapi setelah mengecapnya, Ia menolak minuman itu (Mat 27:34). Alasan penolakan ini, yaitu: pada saat itu, untuk mematikan / mengurangi rasa sakit, orang hukuman itu diberi minuman anggur bius … sebagai tindakan belas kasihan … tetapi Ia tidak mau meminumnya, karena Ia telah bertekad untuk menerima kematian yang paling pahit dan seram dan untuk tidak menghindari sedikitpun rasa sakit.
Jadi, jelas bahwa Yesus sadar bahwa saat itu Ia sedang memikul hukuman dosa kita. Kalau Ia mau meminum anggur bius itu, maka rasa sakitnya akan dikurangi sehingga Ia tidak memikul seluruh hukuman dosa kita.
Kalau itu, terjadi, maka sekalipun kita sekarang percaya kepada Dia, maka tetap ada sebagian dosa yang harus kita tanggung sendiri! Itu pasti akan mengakibatkan semua kita masuk ke neraka! Tetapi puji Tuhan, Ia menolak minuman itu karena Ia mau memikul 100% hukuman dosa kita! Karena itu, kalau sekarang kita percaya kepada Yesus, maka 100% dosa kita diampuni (baik dosa-dosa yang lalu, yang sekarang, maupun yang akan datang) dan kita tidak mungkin akan dihukum (bdk. Ro 8:1)!

%d blogger menyukai ini: