TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Teladan Seorang Rasul


Matahari kehidupan Paulus sang rasul Kristus Yesus mulai terbenam di langit Barat. “… saat kematianku sudah dekat,” katanya kepada Timotius (II Timotius 4:6). Masa hidupnya tidak lama lagi. Bagi kebanyakan manusia, inilah saatnya untuk berhenti bekerja. Beristirahat sambil menikmati seluruh hasil keringat, tetapi bagi sang rasul tidak.
Di balik teralis penjara yang tanpa belas kasihan memisahkan dirinya dengan dunia luar, dengan rantai-rantai yang dengan kejam membatasi ruang geraknya, di hadapan kenyataan ditinggalkan oleh rekan-rekan sekerjanya justru pada saat-saat dia sangat membutuhkan kehadiran mereka, serta dalam kesepian yang benar-benar menyengsarakan jiwa, si tua Paulus belum juga berhenti memperhatikan kepentingan orang lain.
Dia belum juga mulai memperhatikan kepentingannya sendiri. Tubuhnya jauh dari manusia-manusia yang dikasihinya, tetapi hati dan pikirannya selalu tertuju kepada mereka.

Seiring mulai terbenamnya matahari kehidupan sang rasul, kegelapan mulai menyelimuti gereja-gereja di Propinsi Asia, termasuk kumpulan orang-orang percaya di Efesus, tempat Timotius melayani. Krisis iman dan sekaligus krisis keteladanan, serta krisis ajaran mulai melanda perjalanan hidup umat Allah di sana.
Kengerian menyaksikan penderitaan demi nama dan pekerjaan Tuhan yang dialami oleh sang rasul, ketakutan membayangkan bagaimana bila hal yang sama menimpa diri sendiri, serta mundur secara teraturnya para pemimpin umat dari tanggung jawab menjadi teladan hidup beriman bagi orang-orang yang mereka pimpin, benar-benar siap menghancurkan visi dan misi Kristiani di dunia ini.
Belum lagi menyusupnya ajaran baru yang membuka peluang bagi gereja untuk menjalani hidup dengan semangat hedonis, membiarkan diri dikuasai oleh berbagai nafsu jahat. Ajaran macam ini akan menghasilkan generasi pecinta diri, pecinta harta, pecinta nafsu dan bukan pecinta Allah (II Timotius 3:2-5).
Bagaimana mengusir kegelapan yang mulai menyelimuti gereja tersebut? Tidak ada jalan lain, “terang dunia” harus tetap hadir. Selama ini, Rasul Paulus telah menjadi terang bagi dunia yang gelap. Kepada Herodes Agripa II, raja beberapa wilayah di bagian Timur Laut Palestina, dia mengisahkan panggilannya.
Kristus Yesus Tuhan yang bangkit, mengutusnya kepada bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain “untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah …” (Kis 26:18). Panggilan itu merupakan awal dari perjuangannya memberitakan kepada bangsa-bangsa “bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu” (Kis 26:20).
Hidup sang rasul sudah berakhir. Tetapi itu bukan berarti berakhirnya kehadiran “Terang Dunia”. Masih ada Timotius, murid Kristus hasil gemblengan sang rasul. Di dalam dirinya, Rasul Paulus telah menginvestasikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan hidupnya. Di dalam dirinya, sang rasul telah melipat gandakan dirinya (bdk. II Timotius 3:10: “… engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku”).
Matahari mulai terbenam, tetapi Allah Pencipta dan Pemelihara jagad raya belum pernah tertidur dan berhenti bekerja. Matahari masih akan terbit lagi. Rasul Paulus sudah mati, tetapi Allah yang adalah Pemilik dan Penguasa ladang belum berhenti berkarya. Pekerja baru akan dibangkitkan-Nya. Timotius sang murid, yang di dalam jantung dan pembuluh-pembuluh darahnya mengalir jiwa dan semangat sang rasul, juga telah menerangi dunia yang gelap ini.
Kita adalah murid Kristus yang sama seperti Timotius, dipanggil untuk menjadi “Terang Dunia”. Dipanggil untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus dan mengajak manusia berdosa untuk bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu, demi orang-orang pilihan Allah … mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.

%d blogger menyukai ini: