TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Senyuman Allah dalam Ketaatan…


“Karena Iman, Nuh membangun bahtera di tengah-tengah tanah kering…..Kitab Ibrani 11:7 mengatakan: Karena iman, maka Nuh — dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan — dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.

Kita bisa membayangkan situasi dimana pada suatu hari Allah mendatangi Nuh dan berkata, “Aku kecewa dengan umat manusia. Di seluruh dunia, tidak seorang pun kecuali kau yang memikirkan-Ku. Tetapi Nuh…, ketika Aku melihatmu, Aku mulai tersenyum. Aku senang dengan hidupmu, jadi Aku akan meliputi dunia dengan air bah dan memulai kembali kehidupan ini dengan keluargamu. Aku ingin kau membangun sebuah perahu raksasa yang akan menyelamatkanmu beserta binatang-binatang.”

Sebenarnya dalam logika manusia, ada masalah-masalah yang bisa menyebabkan Nuh bimbang.
Pertama, dia harus melewati konflik batinnya dalam ketaatan karena iman,, Nuh tidak pernah melihat hujan, Karena sebelum air bah, Allah mengairi bumi dari dasar bumi (Kejadian 2:5 “belum ada semak apa pun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu”).
Kedua, Nuh hidup ratusan mil dari samudera terdekat. Meskipun dia bisa belajar membangun bahtera, bagaimana dia bisa membawanya ke air?
Ketiga, ada masalah dalam mengumpulkan seluruh binatang dan kemudian memeliharanya. Selain itu dia harus menunjukkan otoritasnya sebagai kepala keluarga yang harus diikuti setiap anggota keluarganya, kemana masa depan keluarganya akan dibawa?

Mungkin suatu waktu kita diperhadapkan keadaan seperti Nuh, berkat yang akan kita terima menuntut ketaatan penuh dengan iman dan ketegasan dalam ketaatan kepada Allah sebagai kepala keluarga untuk bisa mengambil keputusan-keputusan yang besar untuk membawa keluarga kita ke dalam perjanjian dengan Allah, dimana kita menerima pembaharuan hidup dan kelimpahan berkat Tuhan.
Masalah tidak akan berakhir selama kita masih berada di dalam dunia dan Tuhan ingin melihat sikap hati kita. Masalah-masalah yang datang itu mungkin akan menyita tahun-tahun kehidupan kita, kadang membuat kita terasa sangat berat untuk melewatinya tapi kita tetap harus melewatinya dengan ucapan syukur.

Nuh tidak mengeluh atau membuat alasan. Dia mempercayai Allah sepenuhnya, dan hal tersebut membuat Allah terseyum. Mempercayai Allah sepenuhnya berarti memiliki iman bahwa Dia tahu apa yang terbaik bagi kehidupan kita. Kita berharap bahwa Dia memelihara janji-janjiNya, membantu kita dalam setiap masalah dan melakukan hal yang mustahil bila perlu.
Alkitab berkata, “Tuhan senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya (Mazmur 147:11). Nuh memerlukan 120 tahun untuk membangun bahtera tersebut. Kita membayangkan bahwa dia menghadapi banyak hari yang melelahkan, tanpa adanya tanda hujan tahun demi tahun. Dengan kasar mereka mengkritik dia sebagai ‘seorang yang gila yang berpikir bahwa Allah berbicara kepadanya.’

Kita membayangkan anak-anak Nuh sering kali malu dengan perahu raksasa yang sedang dibangun didepan mereka, namun Nuh tetap mempercayai Allah. Percaya adalah tindakan penyembahan, sama seperti orang tua disenangkan ketika anak-anak mempercayai kasih dan hikmat mereka, iman kita membuat Allah senang. Alkitab berkata: “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. (Ibrani 11:6)

Menyelamatkan populasi binatang dari air bah seluruh dunia membutuhkan perhatian besar terhadap logistic dan rincian. Segala sesuatu harus dikerjakan sama seperti yang Allah tentukan. Dan Nuh adalah orang yang taat, dia menaati dengan tepat (dengan cara dan waktu yang Allah inginkan agar bahtera itu selesai).
Andaikata Allah meminta kita untuk membangun sebuah perahu besar, kita mungkin memiliki beberapa pertanyaan, keberatan, ataupun keengganan. Tetapi Nuh tidak, dia menaati Allah dengan segenap hati, itu berarti mengerjakan apapun yang Allah minta tanpa keengganan dan keraguan. Ketika Nuh menaati perintah Allah dengan membangun sebuah bahtera yang hampir tidak masuk akal dalam pemikiran manusia saat itu pula dia sudah mulai menghadapi konflik.
Allah tidak berhutang pada kita suatu penjelasan atau alasan untuk segala sesuatu yang Dia minta untuk kita lakukan. Pemahaman bisa menanti, tetapi ketaatan tidak bisa, ketaatan yang segera akan mengajar kita tentang senyuman Allah daripada diskusi Alkitab seumur hidup.

Belum Ada Tanggapan to “Senyuman Allah dalam Ketaatan…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: