TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Perceraian


Matius 10:2-12, mengatakan: “Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?”

Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Apa perintah Musa kepada kamu?”

Jawab mereka: “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.”

Lalu kata Yesus kepada mereka: “Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu.

Lalu kata-Nya kepada mereka: “Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.”

Dalam khotbah di Bukit, dimana ajaran-Nya tentang perkawinan dan perceraian diberikan-Nya sebagai salah satu dari keenam antitesa, diawali dengan “kamu telah mendengar Firman…..tetapi Aku berkata kepadamu…..”. Yang di tentang-Nya dalam antitesa itu bukan Alkitab, melainkan tradisi bukan penyataan Allah, melainkan tafsiran para ahli taurat yang memutarbalikkan kebenaran.

Distorsi yang mereka lakukan tujuannya adalah untuk mengentengkan tuntutan-tuntutan hukum Taurat sehingga menjadi menyenangkan. Dalam antitesa Yesus mengenai perceraian (Matius 5:31) Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. Abreviasi dari nats dalam Ulangan pasal 24 sengaja dibuat para ahli Taurat supaya disalah mengerti, sehingga kesan dari abreviasi itu ialah seakan-akan perceraian sudah diperbolehkan, juga atas alasan-alasan yang sepele asal memenuhi satu syarat yaitu bahwa surat cerai diberikan.

Hal ini ditolak mentah-mentah oleh Yesus, apa kata Yesus?

Yesus menggarisbawahi keberlakuan perkawinan ini untuk selama-lamanya. Ia tidak memberikan jawaban langsung kepada orang-orang Farisi atas pertanyaan mereka tentang perceraian. Ia malahan berbicara kepada mereka tentang perkawinan dengan merujuk kepada Kitab Kejadian pasal 1 dan 2, Ia bersikap seakan-akan terheran-heran bahwa mereka tidak pernah membaca kedua bab itu.

Ia mengarahkan perhatian mereka kepada dua fakta, bahwa seksualitas manusia adalah ciptaan ilahi dan perkawinan manusia adalah peraturan ilahi. Sebab Ia menggabungkan dua nats Kejadian 1:27 “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”. Dan Kejadian 2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah (ditaruh dibawah satu kuk), tidak boleh diceraikan manusia.

Ikatan perkawinan adalah lebih dari sekedar kontrak insan, ikatan perkawinan itu adalah kuk ilahi dan diletakkan diatas bahu pasangan yang kawin itu dan bukanlah dengan menciptakan semacam kesatuan mistik, melainkan dengan menyatakan tujuan-Nya dalam Firman-Nya.

Merosotnya hubungan perkawinan yang disebut “kematian hubungan” juga itu tak kunjung dapat dianggap cukup kuat menjadi alasan untuk pembatalan suatu pernikahan atau yang kita sebut perceraian. Sebabnya ialah karena dasar kesatuan pasangan suami istri bukanlah pengalaman insani yang pasang surut seperti perkataan: “aku cinta kau” dan kemudian kita berkata juga: “aku tidak cinta kau lagi” melainkan semua itu dasarnya adalah Firman Allah “mereka menjadi satu daging”.

Yesus juga menyatakan ketentuan yang ditetapkan Musa dalam ikhwal perceraian sebagai suatu konsesi yang bersifat sementara terhadap dosa manusia. Respon orang-orang Yahudi atas kutipan dari Kejadian pasal 1 dan 2 itu ialah mengajukan pertanyaan kedua: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?”

Menghadapi pertanyaan ini, Yesus menjawab: “Karena ketegaran hatimu musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tapi sejak semula tidaklah demikian”.

Yesus merujuk ke peraturan Musa sebagai konsesi terhadap dosa manusia, yang tujuannya untuk membatasi akibat-akibatnya yang buruk, maka mustahillah itu dapat diambil sebagai indikasi untuk membuktikan bahwa perceraian tidak bertentangan dengan kehendak Allah. Memang, itu adalah konsesi ilahi, sebab menurut Yesus, apa kata Musa, itu adalah dari Allah. Namun konsesi ilahi terhadap perceraian bertolak belakang dengan institusi ilahi tentang perkawinan ‘sejak semula’.

Kekeliruan para rabi itu terletak dalam ketidakmampuan mereka membedakan antara kehendak Allah yang mutlak (Kejadian 1 & 2) dan ketentuan hukum yang ditetapkan bagi pelanggaran kehendak itu oleh manusia. ‘Kegagalan manusia memenuhi perintah Allah yang mutlak, itulah dosa dan itu berada dibawah peradilan Allah. Ketentuan yang dirancang Allah dalam kemurahan hati-Nya untuk membatasi konsekuensi-konsekuensi dosa manusia janganlah sekali-kali ditafsirkan sebagai perkenan ilahi atas perbuatan dosa’.

Yesus menyebut perkawinan kedua sesudah perceraian sebagai ‘zinah’ Seorang perempuan yang menceraikan suaminya dan kawin lagi, sama juga berbuat zinah (Markus 10:12) selanjutnya seorang laki-laki yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, adalah berbuat zinah (Matius 5:32, Lukas 16:18). Semua ucapan ini sama keras nadanya, ucapan-ucapan itu secara terus terang memperlihatkan akibat-akibat logis dari dosa. Jika perceraian dan perkawinan kedua berlangsung, yang tidak diizinkan Allah, maka setiap penyatuan menjadi suami istri yang menyusul kemudian karena tidak sesuai dengan hukum Allah maka itu adalah perbuatan zinah.

Belum Ada Tanggapan to “Perceraian”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: