TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Keadilan di Mata Allah


Semua manusia harus sama kita hormati baik ia kaya atau miskin, terkenal ataupun tidak, berpengaruh atau tidak berpengaruh, para penulis Alkitab sangat menekankan hal ini, misalnya nabi Musa, yang dengan tegas mengatakan: “Tuhan, Allah-mulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu…!’ Oleh sebab itu para hakim orang Israel juga tidak boleh membedakan, melainkan harus mendengarkan ‘baik perkara orang kecil maupun perkara orang besar’.

Tekanan yang sama diberikan dalam Perjanjian Baru, Allah adalah hakim yang tidak memandang bulu, Ia tidak menghiraukan penampilan lahiriah seseorang, Ia tidak pilih kasih, apapun latar belakang rasial atau sosial kita.

Ilustrasi yang juga bisa kita lihat terdapat dalam Kitab Ayub. Seruan terakhirnya yang memohon keadilan, ketika para penghiburnya telah menghentikan tuduhan-tuduhan mereka yang tidak layak, tidak ramah dan tidak benar itu, yang mengatakan bahwa Ayublah yang bersalah sehingga dia mengalami penderitaan yang hebat itu.

Tetapi Ayub berpegang terus pada pengakuannya bahwa ia tidak bersalah, sambil sekaligus mengakui bahwa Allah adalah Hakim yang adil.

Kata-kata Ayub: “Seandainya ia telah melanggar hukum-hukum Allah dengan berbuat serong, menyembah berhala atau menindas orang maka selayaknyalah Allah menjatuhkan hukuman atas dirinya”. Lalu ia lanjutkan “Jikalau aku mengabaikan hak budakku laki-laki atau perempuan, ketika mereka berperkara dengan aku, apakah dayaku, kalau Allah bangkit berdiri; kalau Ia mengadakan pengusutan, apakah jawabku kepada-Nya? Bukankah Ia yang membuat aku dalam kandungan, membuat orang itu juga? Bukankah satu juga membentuk kami dalam rahim? (Ayub 31:13-15). Ayub meneruskan kata-katanya dengan nada yang sama dalam kaitan dengan orang-orang yang miskin dan kekurangan, para janda dan yatim piatu.

Kita mempunyai hak yang sama karena kita mempunyai pencipta yang sama. Alkitab mengatakan bahwa baik kesamaan martabat maupun kesamaan derajat manusia adalah karena manusia itu memang sudah demikian diciptakan Allah. Penciptaan adalah pangkal kesamaan manusia. Sebab kita mempunyai Juruselamat yang sama pula. Paulus menyerasikan perilaku majikan dan budak dalam hubungannya satu sama lain dengan mengingatkan kedua-duanya, bahwa mereka mempunyai Tuhan sorgawi yang sama, dan ‘Ia tidak memandang muka’ (Efesus 6:9).

Yakobus berusaha menjauhkan perbedaan kelas dari ibadah dengan memberi peringatan sungguh-sungguh kepada para anggota jemaat supaya ‘jangan memandang muka’, karena pembedaan kaya dan miskin tidak boleh ada di antara orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus (Yakobus 2:1-9).

Namun kebenaran yang sama itu bisa juga kita temukan secara lumrah di antara orang-orang yang tidak percaya. Kesadaran akan kemanusiaan kita yang sama sudah mencukupi untuk melenyapkan ‘favoritisme’ dan hak-hak yang diistimewakan, serta menegakkan kesamaan status dan hak-hak.

Semua pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia adalah bertentangan dengan kesamaan hak dan derajat yang kita miliki berdasarkan ciptaan. “Siapa yang menindas orang yang lemah, menghina penciptanya” (Amsal 14:31). Fakta bahwa Allah tidak memandang muka merupakan fundamen dari protes yang dikumandangkan para nabi sepanjang sejarah Perjanjian Lama. Para nabi tidak kenal gentar dalam mencela tirani dalam diri para pemimpin, termasuk mereka yang terhitung dalam raja-raja Israel dan Yehuda.

Kenyataan bahwa mereka adalah raja dan bahkan ‘yang diurapi Tuhan’, tidaklah membuat mereka kebal terhadap kritikan dan amarah. Memang, para penguasa harus dihormati berdasarkan jabatan yang mereka pangku, namun setiap usaha dari pihak penguasa untuk mengubah wewenang menjadi kesewenang-wenangan harus ditolak dengan keras.

Daud adalah yang paling agung dari antara raja Israel, namun itu tidak memberikan kartu bebas kepadanya untuk membunuh Uria dan mencuri istrinya, Betsyeba. Allah mengutus nabi Natan untuk menyampaikan murka-Nya kepada Daud. Hal itu juga terjadi kepada raja Ahab yang membunuh Nabot dan merampas kebun anggurnya, dimana mata mereka hanya tertuju pada pengejaran untung, pemerasan, penganiayaan dan penumpahan darah orang yang tidak bersalah.

Firman Tuhan di dalam Mazmur 9:5  “Sebab Engkau membela perkaraku dan hakku, sebagai Hakim yang adil Engkau duduk di atas takhta”.

Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.” (Kisah Para Rasul 17:31)

Dia adalah Yesus yang akan menjadi Hakim yang adil di hari penghakiman.

Belum Ada Tanggapan to “Keadilan di Mata Allah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: