TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Menjadi orang-orang pilihan Allah


Berbagai macam tanggapan, pendapat dan tafsiran tentang Yesus. Setiap generasi orang Kristen berusaha menyelami arti Kristus, dan masing-masing menampilkan-Nya melalui pengertian-pengertian yang cocok bagi zaman dan kebudayaannya.

Demikianlah ada yang melukiskan Yesus sebagai pelaku askese (menahan diri, menahan nafsu-nafsu badani secara sistematis), juga sebagai penderita, raja, kesatria, superstar, kapitalis, sosialis, revolusioner, gerilyawan, dan obat yang ajaib.

Beberapa dari lukisan itu saling bertentangan dan yang lain lagi hampir tidak mempunyai dasar historis. Itulah sebabnya kita perlu menemukan lukisan otentik dari Dia yang disebut Kristus yang historis dan alkitabiah.

Kita perlu melihat Dia dalam segala kegenapan-Nya yang paradoksal, penderitaan-Nya yang hina dan kemuliaan-Nya yang berjaya, status-Nya sebagai hamba dan status-Nya sebagai Raja, penitisan-Nya sebagai manusia biasa dan kepatuhan alam semesta kepada-Nya selaku penguasa.

Ia mengosongkan diri-Nya dari segala kemuliaan-Nya, dan merendahkan diri-Nya untuk melayani. Ia menjadi kecil, lemah dan mudah dimangsa, Ia masuk ke dalam kesakitan kita, keterasingan dan keterbukaan kita terhadap segala macam godaan. Ia bukan saja memproklamirkan kabar baik tentang kerajaan Allah, tapi juga mendemonstrasikan tibanya kerajaan itu dengan menyembuhkan orang sakit, memberi makan orang lapar, mengampuni orang berdosa, menjadi kawan dari orang yang tersisih, dan membangkitkan orang mati.

Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi kelepasan orang lain. Demikian juga Ia menjadi korban ketidak-adilan dalam mahkamah pengadilan dan ketika mereka menyalibkan-Nya, Ia berdoa bagi orang-orang yang memusuhi-Nya itu. Dan dalam kegelapan yang mengerikan karena sama sekali ditinggalkan Allah, Ia menanggung dosa-dosa kita dalam diri-Nya yang tanpa dosa itu.

Misi Kristiani harus mengikuti model misi Kristus, yang di dalamnya tercakup tuntutan yang sama seperti yang telah dipenuhi-Nya, yaitu bahwa kita harus memasuki dunia-dunia orang lain yang sama sekali berbeda dalam pemikiran, pemahaman, tradisi dan kebudayaan. Dan dalam pengabaran Injil ini berarti juga kita masuk ke dalam tragedi dan keputusasaan mereka, dengan tujuan menyatakan kepada mereka siapa Kristus.

Dalam bidang pelayanan sosial itu berarti menuntut kerelaan kita meninggalkan kemudahan dan keamanan dari latar belakang kebudayaan kita sendiri, agar dapat mengabdikan diri kepada kepentingan orang-orang dari latar belakang kebudayaan yang lain, misi ini nyata!

Apakah itu karena pekabaran Injil atau pelayanan sosial, menuntut pengidentifikasian diri dengan orang-orang dalam situasi aktual mereka. Yesus dari Nasareth amat iba hati-Nya melihat manusia-manusia yang menderita, entah itu karena sakit atau kehilangan seseorang, juga mereka yang lapar, tergoda atau tidak berdaya karena berbagai macam masalah yang datang dalam kehidupan mereka, semua itu menjadi perhatian Yesus dalam pelayanan-Nya.

Bukankah kita adalah umat-umatNya bagaimanakah sikap kita?

Banyak yang akhirnya pelayanan termotivasi karena kepentingan-kepentingan pribadi yang tidak tulus. Kepentingan akan jabatan di dalam pelayanan sudah terjadi sejak ke Kristenan di mulai bahkan penyalahgunaan keuangan di dalam pelayanan di mulai dari Yudas, salah satu murid Yesus sendiri. Bagaimana kita bisa menjadi berkat di dalam pelayanan kalau masih ada model misi Yudas dalam pelayanan kita.

Orang-orang pilihan Allah bukanlah orang –orang  yang memisahkan kehidupan mereka dengan dunia dan tinggal dengan jabatan-jabatan yang ekslusif dalam komunitas kudus dan puas dengan berkat-berkat yang melimpah, melainkan mereka adalah orang yang mau merendahkan hati mereka dan memberikan diri mereka dalam pelayanan yang tulus dan suci untuk kemuliaan nama Tuhan.

Filipi 2:1-8, mengatakan; “Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Mereka adalah orang-orang pilihan Allah yang di persiapkan untuk menjadi garam di tengah kebusukan dunia dan menjadi terang di tengah kegelapan dunia.

Belum Ada Tanggapan to “Menjadi orang-orang pilihan Allah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: