TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Internasionalisme Kristiani


Visi ini diuraikan rasul Paulus secara menyeluruh dan terinci dalam khotbahnya yang terkenal yang dialamatkannya kepada para filsuf Yunani di Athena (Kisah Rasul 17:22-31). Athena purba merupakan pusat pluralisme etnik, kultural, dan religius. Sejak abad ke-5 sM, Athena adalah negara kota yang sangat penting di Yunani, dan ketika digabungkan menjadi bagian dari kerajaan Romawi, Athena menjadi salah satu kota metropolitan yang sangat terkemuka  di seluruh dunia.

Sehubungan dengan kehidupan beragama, adalah mudah menyimak komentar Paulus bahwa penduduk Athena “sangat religius”, sebab menurut seorang satirist (seorang yang suka menyindir), adalah lebih mudah menemui seorang dewa di Atena dari pada seorang manusia. Kota itu penuh dengan kuil keramat, altar, lambang dan patung dewa-dewa.

Lalu bagaimana sikap rasul Paulus terhadap situasi multirasial, multikultural, dan multireligius ini?

Yang pertama, ia memproklamasikan kesatuan ras manusia, atau Allah sebagai Tuhan atas ciptaan. Allah adalah khalik dan Tuhan atas bumi dan segenap isinya. Ia yang memberikan kepada semua makhluk manusia hidup dan nafas mereka dan segala sesuatu yang dibutuhkan. Dari satu orang Dia telah menjadikan semua bangsa, untuk mendiami seluruh muka bumi, supaya mereka mencari Dia dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada dan kita adalah keturunan-Nya”. Dari gambaran tentang Allah sebagai pencipta, pemelihara, dan Bapak dari seluruh umat manusia.

Meskipun dalam arti hubungan pribadi yang akrab, Allah adalah Bapak dari mereka yang Ia angkat sebagai anggota keluargaNya semata-mata atas dasar anugerah, namun dalam arti lebih luas Allah adalah Bapak dari seluruh umat manusia, karena semua manusia adalah keturunanNya – artinya, yang ada karena di ciptakan oleh Dia – dan semua manusia adalah saudara kita, karena sama-sama diciptakan oleh Dia dan segambar dengan Dia, maka dalam pandanganNya kita semua setaraf dalam nilai dan martabat dan karena itu memiliki hak yang sama untuk dihormati dan diberikan perlakuan yang adil.

Yang kedua, Paulus memproklamasikan kebhinekaan kultur-kultur etnik, atau Allah sebagai Tuhan atas sejarah. Allah yang hidup bukan saja telah menjadikan semua bangsa dari satu orang untuk mendiami seluruh muka bumi. melainkan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka (Kisah Rasul 17:26). Jadi zaman dan tempat tinggal bangsa-bangsa ada dalam tangan Allah. Kultur adalah komplemen alam. Yang ‘alami’ itu adalah segala sesuatu yang datangnya dari Allah dan kita warisi, sedang ‘kultural’ adalah buatan manusia dan yang dipelajari.

Kultur adalah campuran kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai, adat kebiasaan dan lembaga-lembaga yang dikembangkan oleh setiap masyarakat serta diteruskan kepada generasi berikutnya. Kultur manusia adalah Dubious (bersifat meragukan), manusia adalah makhluk ciptaan Allah, maka dalam kulturnya terdapat berbagai keindahan dan kebaikan tetapi karena ia telah jatuh ke dalam dosa, maka segala sesuatu dalam kulturnya tercemar oleh dosa.

Yang ketiga, Paulus memproklamasikan finalitas Yesus Kristus, atau Allah sebagai Tuhan atas penyataan. Ia mengakhiri khotbahnya dengan panggilan Allah untuk pertobatan universal sehubungan dengan peradilan universal yang mendatang, yang harinya maupun hakimnya sudah ditetapkan Allah (Kisah Rasul 17:30, 31). Paulus menolak berdiam diri terhadap pluralisme religius orang-orang Athena, pemujaan patung-patung berhala di kota itu amat menyedihkan hatinya (Kisah Rasul 17:16) karena itu sebagai hujatan terhadap Allah yang hidup. Sebab itu ia berseru kepada orang-orang Athena itu supaya bertobat dan berpaling dari patung-patung berhala mereka kepada Kristus.

Kesediaan kita penuh hormat menerima kebhinekaan kultur-kultur tidak otomatis mengimplikasikan penerimaan yang sama terhadap pluralisme religius/kebhinekaan agama-agama. Kekayaan khusus masing-masing kultur dan keunikannya, memang harus dihargai namun bukan termasuk penyembahan kepada berhala yang mungkin tersembunyi dibalik kebolehannya sebagai kultur yang harus kita terima.

Bagi kita pantang ada yang bisa menyaingi Yesus Kristus, sebab kita percaya bahwa Allah telah berfirman secara penuh dan final melalui Dia dan bahwa Dialah Juruselamat satu-satunya, yang telah mati dan bangkit kembali dan suatu hari kelak akan datang menjadi Hakim dunia.

Yang keempat, Paulus memproklamasikan  kemuliaan gereja Kristus, atau Allah sebagai Tuhan atas keselamatan. Pemberitaan bahwa Yesus mati dan bangkit kembali untuk menciptakan umat yang baru dan diperdamaikan dengan Allah memang sangat jelas, dengan lahirnya gereja maka arus sejarah telah diputar balik. Kitab Perjanjian Lama adalah kisah tentang manusia yang diserakkan, tentang penyebaran bangsa-bangsa, tentang perselisihan satu sama lain. Tapi Kitab Perjanjian Baru adalah kisah tentang pemersatuan bangsa-bangsa menjadi suatu masyarakat internasional yang tunggal.

Kisah Rasul 17:34, menceritakan bahwa beberapa orang menjadi percaya diantaranya Dionisius anggota majelis Areopagus (lembaga pengadilan paling tua di Athena berasal dari zaman legenda), dan seorang perempuan bernama Damaris dan juga orang-orang lain bersama dengan mereka.

Jadi disinilah inti masyarakat yang baru itu, di mana pria dan wanita dari segala usia, dari segala asal muasal rasial, kultural, dan sosial, menemukan kesatuan mereka dalam Kristus. Karena Allah yang menjadikan semua bangsa dan menetapkan zaman dan kediamannya masing-masing sekaligus juga Ia memanggil kita untuk suatu internasionalisme baru yaitu internasionalisme Kristiani panggilan itu bukan berarti komitment kita kepadaNya dan gerejaNya akan menghapuskan nasionalitas kita, kita tidak akan kehilangan kemaskulinan atau kefeminiman kita sementara kekhususan rasial, nasional, sosial, dan seksual kita tetap utuh, semua itu tidak lagi memisah-misahkan kita, semua kekhususan itu telah terangkat ke dalam ketunggalan kita sebagai keluarga Allah (Galatia 3:8). Melalui Dia kita telah dipanggil Allah kedalam suatu persatuan yang baru dan lebih luas lagi.

Belum Ada Tanggapan to “Internasionalisme Kristiani”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: