TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Di Bawah Otoritas



Berserah diri adalah kata lain dari tunduk atau takluk di bawah otoritas, kata tersebut menyiratkan makna kalah, dan tidak seorangpun ingin menjadi pecundang. Berserah diri menimbulkan gambaran tidak enak yaitu mengaku kalah dalam pertempuran, kalah dalam suatu permainan, atau menyerah pada musuh yang lebih kuat. Kata tersebut hampir selalu digunakan dalam konteks yang negatif.
Dalam budaya persaingan zaman ini kita diajar untuk tidak pernah menyerah dan tidak pernah tunduk, jadi kita tidak banyak mendengar tentang menyerah. Jika menang adalah hal yang amat penting, maka menyerah adalah hal yang tidak terpikirkan. Kita lebih suka bicara tentang soal menang, berhasil, mengalahkan, menaklukkan daripada tentang mengalah, tunduk, taat dan menyerah.
Tetapi menyerahkan diri kepada Allah adalah inti penyembahan. Dalam Roma 12:1 “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Allah menginginkan kehidupan kita seluruhnya.

Ada tiga penghalang yang merintangi penyerahan diri total kita kepada Allah yaitu:
– Ketakutan,
– Keangkuhan dan
– Kebimbangan.
Kita tidak menyadari betapa Allah sangat mengasihi kita, kita ingin mengendalikan hidup kita sendiri dan kita salah memahami makna dari berserah diri. Percaya adalah unsur yang sangat diperlukan untuk berserah diri, kita tidak akan berserah diri kepada Allah kecuali jika kita mempercayai-Nya, tetapi kita tidak bisa mempercayai-Nya sebelum kita mengenal Dia dengan lebih baik.

Penghalang Pertama adalah Ketakutan kita,
Ketakutan menghalangi kita untuk berserah diri, bahkan kita selalu menganggap Allah itu sebagai hakim yang kejam dan otoriter, tetapi kasih Allah membuang segala ketakutan. Semakin kita menyadari betapa besarnya Allah mengasihi kita maka akan semakin mudah dalam penyerahan diri kita kepada-Nya, karena Dia sangat peduli terhadap hidup kita sampai hal yang terkecil, Dia memberi kemampuan kepada kita untuk menikmati segala macam kesenangan, Dia memiliki rencana-rencana yang baik untuk hidup kita dan Dia penuh dengan kasih setia terhadap kita.
Allah mengasihi kita jauh lebih besar dari apa yang bisa kita bayangkan, pernyataan yang paling hebat tentang kasih Allah kepada kita ialah pengorbanan Anak Allah bagi kita. Roma 5:8 Berkata: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Allah bukanlah tukang perintah yang keras atau seorang penggertak yang menggunakan kekuatan dengan kasar untuk menghancurkan kehendak kita, tetapi Dia membujuk kita kepada diri-Nya agar kita bisa mempersembahkan diri kita dengan bebas kepada Dia. Bila kita sepenuhnya menyerahkan diri kita pada Yesus maka Dia akan membimbing menjaga, melindungi bahkan menyelamatkan kita.

Penghalang Kedua adalah Keangkuhan kita,
Kita tidak ingin mengakui bahwa kita hanyalah makhluk ciptaan dan tidak berkuasa atas segala sesuatu. Kehidupan merupakan pergumulan, tetapi apa yang tidak disadari oleh banyak orang adalah bahwa pergumulan kita seperti Yakub, yang sebenarnya merupakan pergumulan dengan Allah. Sadar atau tanpa sadar terkadang kita ingin menjadi seperti Allah, karena itu kita tidak akan pernah memenangkan pergumulan itu. Kita bukanlah Allah dan tidak akan pernah untuk menjadi Allah.
Kita adalah manusia ketika kita berusaha untuk menjadi Allah maka kita akhirnya menjadi seperti Iblis, yang menginginkan hal yang sama. Kita menerima kemanusiaan kita dengan akal dan secara emosional, ketika diperhadapkan pada keterbatasan-keterbatasan kita, kita bereaksi dengan jengkel, marah dan sakit hati. Kita ingin menjadi lebih tinggi, lebih cerdas, lebih kuat, lebih berbakat, lebih cantik, dan lebih kaya. Kita ingin memiliki semuanya dan melakukan semuanya dengan keangkuhan kita dan kita menjadi kecewa ketika hal tersebut tidak terjadi, lalu ketika kita melihat bahwa Allah memberi orang lain ciri-ciri khusus yang tidak kita miliki, kita mulai menanggapi dengan iri hati, cemburu dan mengasihani diri sendiri.

Penghalang Ketiga adalah Kebimbangan kita,
Kebimbangan tidak akan membuat kita berada dalam penyerahan diri atas rencana Tuhan dalam hidup kita. “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”
Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.” (Roma 4:18-22).

Menyerahkan diri kepada Allah bukan berarti pasrah secara pasif, fatalisme atau dalih untuk bermalas-malasan. Berserah diri bukanlah menerima status quo, berserah diri bisa berarti benar-benar kebalikannya: mengorbankan kehidupan kita, atau menderita demi mengubah apa yang perlu diubah. Allah sering kali memanggil orang-orang yang menyerahkan diri untuk melakukan pertempuran bagi Dia. Aspek lain dari kehidupan yang berserah diri adalah percaya. Abraham mengikuti pimpinan Allah tanpa tahu ke mana Ia akan membawanya.

Ketahuilah bahwa kita berserah diri kepada Allah bila kita bersandar kepada Allah untuk membuat hal-hal berhasil dan bukannya coba untuk memanipulasi orang lain, mendesakkan keinginan kita dan mengendalikan situasi. Kita melepaskan segala sesuatu dan membiarkan Allah bekerja, kita tidak harus selalu yang berkuasa. Alkitab berkata:
“Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” (Roma 6:13).

Belum Ada Tanggapan to “Di Bawah Otoritas”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: