TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Pernikahan tanpa kesetiaan dan pengampunan?



Apakah jadinya sebuah pernikahan tanpa adanya kesetiaan? Bagaimana jika yang terbaik yang bisa kita dapatkan dari pasangan kita adalah kalimat; “Aku berusaha untuk hidup benar, tetapi jangan mengandalkan hal itu.”
Pernikahan tidak akan pernah berhasil, kita akan dipenuhi dengan ketidakpastian jika kita tidak dapat mengandalkan kesetiaan pasangan kita. Pemeliharaan hubungan kita bergantung pada besarnya kesetiaan-kesetiaan mereka, kesetiaan kita, dan terutama kesetiaan Allah.
Kesetiaan Allah sangat penting untuk menyelematkan pernikahan kita, pikirkanlah itu. Bagaimana mungkin kita, pribadi-pribadi yang lemah dan terbatas sebagaimana adanya, dapat melihat semua ketidakpastian hidup di hadapan kita dan berkata, “Aku akan membuat satu hal yang pasti: kesetiaan kepada pasanganku?” Kita tidak mungkin dapat melakukannya, setidaknya tidak dengan kekuatan kita sendiri.
Kesetiaan bagaikan permata dengan banyak sisi, memperlihatkan kombinasi yang kompleks atas dimensi-dimensi yang saling berkaitan seperti: kepercayaan, komitmen, kebenaran, kesetiaan, penghargaan, dan perhatian. Akan tetapi kesetiaan kita satu dengan yang lain hanya dapat terpelihara dengan teladan kesetiaan Allah kepada kita. Saat seorang pria dan wanita saling mengikat janji, Allah menjanjikan kesetiaan kepada mereka, dan hal itu membantu pasangan tersebut memelihara iman.
Tidak ada cara lain untuk menekankan secara berlebihan pentingnya kesetiaan dalam karakter Allah. Hal itu terdapat dalam setiap bagian Alkitab-dari Kejadian, di mana Allah mulai membuat janji kesetiaan-Nya sampai Wahyu, Besarlah kesetiaan Allah, bahkan ketika kita tidak percaya, Allah tetap setia, “karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya. Kesetiaan perjanjian Allah, diwujudkan dalam pasangan kita, merupakan tempat peristirahatan bagi hati yang gelisah. Ia menerima jiwa kita seluruhnya dengan berkata, “Aku percaya kepadamu dan mengabdikan diriku kepadamu dalam susah maupun senang.”
Tanpa kesetiaan dan kepercayaan, pernikahan tidak akan bertahan, karena tidak ada satupun pasangan yang dapat memiliki kepercayaan yang kuat dalam kesetiaan mereka sendiri dan masing-masing hingga mereka terlebih dahulu mengenal kesetiaan Allah kepada mereka.
Selain itu harus ada pengampunan dalam suatu pernikahan karena pengampunan merupakan jantung pernikahan. Dua orang yang hidup bersama hari demi hari selalu tersandung oleh keberadaan masing-masing, terikat untuk menimbulkan luka, kadang-kadang berbuat salah, kadang-kadang tidak, dan jika pengampunan tidak diberikan untuk membersihkan jiwa pernikahan, penghukuman akan jatuh atas pernikahan tersebut. Sakit hati akan bertambah-tambah, hingga akhirnya kita menyalahkan pasangan kita bukan hanya karena perbuatan mereka yang keliru, melainkan juga karena kegagalan kita untuk mengampuni mereka.
Ini adalah Zona yang berbahaya. Pengampunan manusia tidak pernah dirancang untuk diberikan pada skala yang besar, pengampunan dalam pernikahan hanya dapat memberi hasil bila perhatiannya terpusat pada apa yang dilakukan pasangan kita, bukan pada diri mereka. Hal terbaik yang dapat dilakukan setiap pasangan adalah mengampuni tindakan-tindakan tertentu, Berusaha untuk mengampuni dengan kebebasan penuh dari usaha kita sendiri adalah merupakan hal yang bodoh. Tidak seorangpun yang dapat melakukannya selain Allah.
Kita sering kali terlalu membebani pengampunan, ketika kita berusaha mengampuni pasangan kita karena tidak menjadi pasangan seperti yang yang kita inginkan, dalam hal ini kita memerlukan dorongan semangat, empati, kesabaran, dan pengharapan, akan tetapi bagi manusia biasa, pengampunan dengan cara yang agung harus diserahkan kepada Allah karena pengampunan Allah yang menguatkan kemampuan kita untuk mengampuni pasangan kita, saat kita mengampuni pasangan kita, kita menyingkapkan kasih Allah kepadanya, bebas dari penghukuman.
Pengampunan manusia menunjuk pada pengampunan ilahi. Mencintai pasangan kita seperti mencintai diri kita sendiri kemungkinan adalah langkah satu-satunya yang dengan sepenuh hati akan kita lakukan untuk memenuhi kasih Allah. Langkah seperti itu, tentu saja tidak akan pernah terpikirkan tanpa anugerah Allah yang menyanggupkan hal itu.
Sementara banyak pernikahan yang diusahakan, tanpa kesadaran untuk bergantung pada pertolongan Allah, bagi kita dalam ke Kristenan tidak ada kemitraan yang berarti tanpa sentuhan rahasia anugerah Allah yang terus-menerus pada jiwa pernikahan kita.

Belum Ada Tanggapan to “Pernikahan tanpa kesetiaan dan pengampunan?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: