TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Menjadi Murid Yesus


Setelah meninggalkan kekayaan Sorga, Yesus dilahirkan dalam suatu keluarga yang miskin. Ketika Yusuf dan Maria pergi ke Bait Suci untuk mempersembahkan putranya kepada Allah, mereka berpegang kepada ketentuan hukum Taurat bagi orang miskin, mereka membawa korban persembahan mereka sepasang burung dara ketimbang seekor domba dan seekor burung dara.

Selama masa pelayanan-Nya sebagai pengkhotbah keliling, Yesus tidak punya rumah dan hanya sedikit harta benda. Kepada seorang yang memohon menjadi pengikut-Nya, Ia berkata: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Matius 8:20). Ia mengajar dari atas perahu pinjaman, memasuki kota Yerusalem dengan menggunakan keledai pinjaman, melewati malam terakhir dari hidup-Nya dalam suatu bilik pinjaman, dan Ia di kubur dalam makam pinjaman, untuk nafkah harian Ia berbagi pundi dengan para rasul-Nya, mereka juga bergantung pada bantuan sekelompok wanita yang kadang-kadang turut dalam perjalanan keliling mereka. Kemiskinan Yesus agaknya tak perlu diragukan lagi.

Namun profesi Yesus adalah tukang kayu, yang berarti Ia tergolong kelas pemilik ketrampilan. Yesus sendiri bukannya berasal dari kaum proletar pekerja harian dan buruh tani yang tidak punya tanah, melainkan dari kelas menengah masyarakat Galilea, yaitu pekerja terampil sama seperti Yusuf bapak-Nya, Ia adalah tukang, seorang “tekton” suatu istilah Yunani yang berarti tukang bangunan, tukang kayu dan pembuat kereta yang kesemuanya di gabung menjadi satu.

Sepanjang yang dapat kita ketahui para murid yang dipanggil-Nya untuk mengikut Dia asalnya dari lingkungan sosial yang sama, jadi Yesus bukanlah orang yang terlantar. Kepada mereka yang ingin menjadi pengikut-Nya, Ia berkata: “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku”. Kedua belas rasul telah berbuat demikian secara harfiah. Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. (Markus 1:18).

Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.(Markus 1:19, 20). Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia.(Markus 2:14).

Demikian juga Yesus menuntut dari penguasa yang kaya itu agar menjual apa yang dimilikinya dan memberikan hasil penjualannya kepada orang-orang miskin, lalu mengikuti Dia. (Markus 10:21). Adalah gara-gara ini Petrus berseru kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau” (Markus 10:28). Jadi apakah Yesus mengharapkan semua pengikut-Nya meninggalkan segala sesuatu kalau ingin mengikuti-Nya? Para rasul telah berbuat demikian, dan orang kaya itu telah ditantang untuk berbuat demikian.
Tapi apakah itu aturan universal?

Kita harus berjaga-jaga jangan sampai menghapus sedikit demi sedikit tuntutan Yesus yang radikal itu dan supaya terhindar dari perilaku demikian dengan salah menafsirkan ayat-ayat ini. Yesus mengatakan bahwa kita harus mengumpulkan harta di sorga dan bukan di bumi; bahwa kita harus mendahulukan pengabdian kita kepada hukum Allah dan kebesaran-Nya dari pada hal-hal yang jasmani; bahwa kita harus berjaga-jaga terhadap ketamakan; dan bahwa tidak mungkin melayani Allah dan uang secara simultan.

Dalam Matius 6:19 berkata: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” dan Matius 6:33 mengatakan: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” juga dalam Lukas 12:15 “Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

Ia tidak menginstruksikan semua pengikut-Nya untuk meninggalkan seluruh harta kekayaannya, contoh Yusuf orang Arimatea, dilukiskan sebagai “seorang kaya” sekaligus sebagai “murid Yesus” (Matius 27:57). Jadi kedua hal ini nyatanya tidak bertentangan satu sama lain. Zakheus, si pemungut cukai yang kaya raya menjanjikan akan mengembalikan empat kali lipat uang yang diperasnya, dan memberikan setengah dari miliknya kepada orang miskin, yang berarti bahwa sisanya yang setengah lagi, dikurangi dengan jumlah uang yang harus dikembalikannya kepada korban-korbannya, masih tetap di milikinya.

Namun Yesus mengatakan, bahwa keselamatan telah dianugrahkan kepada Zakheus (Lukas 19:8 dst). Jadi apabila Ia berkata bahwa seorangpun tidak dapat menjadi murid-Nya kecuali “meninggalkan” segala sesuatu yang dimilikinya, dan “membenci” orangtua dan saudara-saudaranya, maka kita harus mengartikan kedua kata kerja itu sebagai ucapan yang mendramatisasikan. Kita tidak dituntut supaya “membenci” orangtua kita secara harfiah, maupun meninggalkan harta kekayaan kita secara harfiah, yang dituntut dari kita ialah memprioritaskan Yesus Kristus di atas bahkan keluarga dan harta benda kita.

Belum Ada Tanggapan to “Menjadi Murid Yesus”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: