TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Agu
28

Roma 13:9-10, “Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.”

Sebagian dari cara menjadi persembahan hidup bagi Allah diterangkan secara praktis di dalam  Kitab Roma 13. Kita telah belajar bagaimana caranya kita dapat melayani Allah dengan karunia roh kita dan caranya kita harus hidup seperti di dalam Kitab Roma 12. Di Kitab Roma 13 kita diajarkan ketaatan kepada pemerintah dan caranya kita dapat mengasihi sesama manusia.

 Firman Allah bukan hanya memberikan kita perintah-perintah, firman itu juga memberikan kita contoh-contoh supaya kita sebagai manusia dapat mengerti dan mengingat apa yang Allah ingin kita lakukan.

Jadi setelah kita belajar diayat sebelumnya bahwa kasih itu memenuhi hukum, rasul Paulus mulai memberikan kita berbagai ilustrasi. Dia mengutip empat hukum langsung dari Sepuluh Perintah dan satu hukum dari buku Imamat.

Paulus mulai dengan mengatakan bahwa kasih Allah tidak berzinah, pada saat kita mengasihi Allah janganlah kita mengasihi sesuatu yang lain dengan kasih yang sama. Ketika kita mencemarkan diri kita dengan mengasihi uang atau kekuasaan, kita mengabaikan kesucian kasih kepada Allah.

Janganlah kita berzinah dengan orang lain jika kita sungguh mengasihi Allah. Jika kita mengasihi Allah janganlah kita berbuat sesuatu yang tidak benar secara moral. Berzinah itu bukan datangnya dari kasih melainkan dari hawa nafsu.

Dan keadaanya sama seperti mencuri dan membunuh. Ini bertentangan sekali dengan sifat kasih. Kasih tidak pernah mencuri atau membunuh. Kasih memberi dengan suka rela dan selalu membangun orang lain dan tidak menjatuhkan siapapun juga.

Kasih itu tidak mengingini, kasih tidak mengingini milik orang lain. Ulangan 5:21 mengatakan, “Jangan mengingini isteri sesamamu, dan jangan menghasratkan rumahnya, atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

  • Gejala pertama sifat mengingini adalah ketika kita selalu ingin lebih banyak lagi dari apa yang kita sudah miliki lebih dari cukup.
  • Gejala kedua sifat mengingini adalah kemauan untuk mendapatkan sesuatu yang kita tidak berhak memiliki.
  • Gejala ketiga dari sifat mengingini adalah bahwa kita memanfaatkan orang untuk mendapatkannya.
  • Gejala keempat dari sifat mengingini adalah bahwa kita selalu ingin memperoleh sesuatu untuk diri kita dan tidak pernah ingin membagikan milik kita dengan orang lain.

Ada kisah Yahudi tentang seorang yang miskin yang diberi tiga permintaan. Namun ada suatu kondisi, yaitu apapun yang diiginkan akan dikabulkan, namun tetangganya akan diberikan yang sama dua kali lipat.

Pertama dia inginkan isteri yang cantik dan dia mendapatkannya, namun tetangganya dapat dua isteri cantik. Kedua dia inginkan suatu istana dan dia mendapatkannya, namun tetangganya menerima dua istana. Jadi penuh dengan rasa iri hati dia dalam permintaanya yang ketiga minta untuk menjadi buta dalam satu mata dan memang itu terjadi, dan tetangganya menjadi buta dalam kedua matanya.

Iri hati itu sebaliknya dari kasih. Kasih selalu puas dengan apa yang telah diberikan kepada kita dari Allah, kasih selalu bersandar dan percaya kepada pemeliharaan Allah. Dan kasih tidak berhubungan dengan kejahatan apapun juga. 1 Korintus 13:6 mengatakan, “Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.”

Sifat mengingini barang orang lain tidak kelihatan dari luar dan pada saat kita mulai mengingini milik orang lain sering tidak ada yang tahu, namun Allah tahu. Dan ketika kita menginginkan sesuatu, kita pada dasarnya mengatakan bahwa Allah itu tidak adil, Allah tidak memberikan kita hal yang sama seperti yang diberikan kepada orang lain.

Yang penting kita perlu menyadari pada akhir kehidupan kita adalah: tidak ada sesuatupun yang bisa dibawa. Dan caranya mengukur sukses atau kegagalan hidup kita adalah dengan apa yang kita miliki pada saat kita meninggal. Di Matius 6:20 Yesus mengatakan, “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.”

Semua dosa berasal dari hati kita, Yesus mengatakan di Matius 15:19, “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” Namun memikirkan dosa atau merasa marah atau memiliki pikiran benci saja sudah dengan sendirinya merupakan dosa.

Yesus menjelaskan bahwa sebelumnya Anda berbuat dosa, pikiranmu sudah menyalahkan Anda sebelum dosa itu dilakukan. Matius 5:27-28 mengatakan, “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

Jika Anda benar mengasihi Allah, Anda tidak perlu merasa takut mendengar perintah-perintah itu. Karena jika Anda benar mengasihi Allah, dan benar mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri, otomatis Anda akan didorong Roh Kudus untuk mengikuti hukum-hukum ini.

Dalam perumpamaan orang Samaria yang baik, Yesus menerangkan bahwa tetangga kita itu adalah setiap orang yang ada hubungannya dengan kita, yaitu orang-orang ditempat kerja kita, orang-orang yang sering main sama kita, orang-orang yang duduk disebelahan kita di gereja dan juga orang-orang yang kita ketemu di toko-toko.

Mengasihi sesamamu manusia tidak memerlukan suatu pandangan diri yang tinggi. Malah ini memerlukan pandangan orang lain yang tinggi. Paulus mengatakan di Filipi 2:3-4, “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Maksud Paulus adalah jika kasih Allah benar berkuasa di dalam hati Anda, kasih Allah itu akan melindungi Anda dari dosa secara ilahi dan menunjukkan Anda secara otomatis kepada kebenaran. Orang Kristen taat kepada Allah bukan karena ketakutan akibat dosa mereka, akan tetapi karena mereka mengasihi Allah dan Dia telah memberikan mereka kasih-Nya supaya mereka dapat mengasihi tetangga mereka.

Ada beberapa orang Kristen yang dari luar kelihatannya hidup bermoral tinggi karena mereka ingin diterima-Nya berdasarkan kelakuan baik mereka. Namun tanpa adanya iman dari hati, semua itu percuma saja karena Allah lebih mementingkan hati.

Yesaya 29:13 mengatakan, “Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan.”

Kita mau menyenangkan siapa? Apakah kita ingin memberi kesan baik kepada orang-orang yang mengenal kita atau keinginan hati kita adalah mengasihi Allah dengan hati yang tulus? Kemanapun hati kita menuju, Allah langsung tahu juga.

Firman Allah penuh dengan janji-janji berkat dan hadiah bagi mereka yang beriman, walaupun itu tidak selalu terkabul sesuai dengan keinginan kita atau yang menyenangkan kebutuhan kedagingan kita.

Namun berkat-berkat seperti itupun bukan alasan baik untuk menaati dan mengasihi Allah. Orang-orang Kristen menolak kejahatan dan berbuat baik hanya karena ada kasih Allah didalam hati mereka yang mendorong mereka untuk melakukannya. Orang-orang Kristen dewasa pada akhirnya selalu akan melakukan apa yang diinginkan Allah.

Hidup menurut hukum dan hidup oleh kasih tidak terpisah, malah mereka itu tidak dapat dipisahkan. Hukum Allah tidak dapat ditaati jika kita tidak memiliki kasih. Kasih menurut Paulus adalah kegenapan hukum Taurat.

Kultur Barat telah mengalami kehilangan kepercayaan yang besar di dalam hukum dan agama, karena keduanya telah dipisahkan satu sama lain. Ketika kita menjauhkan diri kita dari konsep agama yang berotoritas atau konsep adanya Allah, kita tidak bisa mengerti adanya kebenaran mutlak.

Dan yang tinggal adalah konsep relativisme, yaitu semuanya bergantung kepada keadaan, yaitu suatu dasar yang selalu berubah yang mengakibatkan tidak ada fondasi bagi sistem hukum-hukum atau sikap moral. Hanya kebenaran Allah adalah fondasi kokoh yang dapat menopang sikap moral dan hukum. Peraturan-peraturan tanpa fondasi mutlak adalah peraturan tanpa otoritas, dan hanya dapat berotoritas dengan paksaan.

Yesus menerangkannya di Matius 5:17-19, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.”

Peringatan Yesus pada waktu Dia mulai dengan ayat 17, ‘Janganlah kamu menyangka’ menunjukkan bahwa orang-orang salah mengerti ajaran-ajaran-Nya. Karena guru-guru agama telah menambahkan banyak tradisi manusia, mereka kira Yesus menghilangkan hukum Taurat karena Dia tidak mengikuti tradisi-tradisi tersebut.

Para Rabi telah menciptakan tradisi-tradisi yang sebenarnya lebih gampang ditaati dari pada hukum Taurat, yang ada didalam lingkungan kemampuan manusia, yang dapat dilakukan sendiri berdasarkan kemampuan dan kekuatan sendiri. Namun sistim ini menjadi sistim kebenaran diri yang merendahkan standar Allah dan meninggikan yang mereka anggap adalah kebaikan diri.

Yesus menghilangkan semua tradisi seperti tradisi cuci, perpuluhan khusus, cara memperingati Sabat yang ekstrim, orang-orang berpikir bahwa Yesus dengan cara itu menggulingkan hukum Allah. Namun keinginan Yesus adalah untuk mengajarkan mereka hukum Taurat sebenarnya dan menjelaskan kepada mereka bahwa semua tradisi itu hanya embel-embel manusia saja yang tidak perlu.

Yang dikatakan Yesus adalah bahwa ada sesuatu yang mutlak yaitu hukum Allah yang berdaulat kekal. Allah telah mendirikan hukum-Nya yang mutlak dan kekal dan telah memberitahukannya kepada manusia. Dan sebagai Anak Allah, Yesus menyatakan bahwa Dia bukan datang untuk mengajarkan dan melalukan sesuatupun yang bertentangan dengan hukum Taurat itu, namun Dia datang untuk menggenapkannya seluruhnya.

Kita selalu mendengar bahwa sekarang keadaannya telah berubah dan Firman Allah sudah tidak berlaku lagi zaman sekarang ini. Malah kebenaran adalah sebaliknya. Alkitab selalu berpengaruh karena itu adalah Firman Allah yang sempurna dan tidak mungkin salah.

Dari luar kelihatannya dunia ini telah berubah banyak, namun sifat dasar manusia dan dosa dan pemberontakan manusia tetap sama saja dan tidak berubah sama sekali. Karakter pendosa itu sama dosanya seperti dulu. Pencuri di zaman Alkitab melakukan pencurian yang sama seperti sekarang. Mungkin dia pencuri yang lebih pintar sekarang, namun hatinya sama seperti dulu.

Dan konsep kasih masih berlaku sama seperti dulu. Yesus tidak menyamakan diri-Nya dengan orang-orang Farisi atau dengan Herodes atau Roma; malahan Dia dengan cara terbuka dan dengan penuh kasih menyamakan diri-Nya dengan mereka yang dibuang, yang sakit, yang berdosa dan yang membutuhkan bermacam-macam pertolongan.

Yesus memproklamirkan anugerah dan belas kasihan. Semua rabi lain membicarakan persyaratan luar, hanya Dia membicarakan masalah hati. Mereka meninggikan dirinya diatas orang-orang lain dan mereka ingin dilayani, sementara Yesus merendahkan diri-Nya terhadap orang lain dan menjadi Hamba mereka.

Yesus menggenapkan hukum Taurat dengan ajaran-ajaran-Nya, dimana Perjanjian Lama dipenuhi dengan lebih banyak penjelasan. Yesus menggenapkan hukum dengan mengartikannya lebih mendalam. Yesus menjelaskan arti asli hukum itu menjadi sesuatu yang selalu berhubungan dengan hati orang dan bukan kelakuan luar.

Yesus juga menggenapi hukum Taurat dengan memenuhi semua persyaratannya. Di dalam kehidupan-Nya Dia menjalankan setiap bagian hukum, tidak ada seorangpun yang mampu melakukan itu dan tidak ada orang yang akan dapat melakukan itu. Kebenaran-Nya sempurna dan Dia tidak pernah melanggar bagian terkecilpun dari hukum. Dia adalah teladan kebenaran yang sempurna.

Yesus menggenapkan hukum bukan saja dengan mengajarkannya sepenuhnya dan bukan saja dengan memenuhinya sepenuhnya. Dia sendiri adalah hukum sepenuhnya. Yesus sebagai Allah adalah kebenaran ilahi. Apa yang Dia katakan dan apa yang Dia lakukan mencerminkan siapakah Dia dulu, sekarang dan selama-lamanya.

 Khotbah di Bukit Dia mengajarkan apa yang sering disebut ‘Hukum emas’ di Matius 7:12, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Kasih Allah yang sempurna dicerminkan terbaik di dalam anak-anak-Nya pada saat mereka memperlakukan orang lain sama seperti mereka ingin diperlakukan juga. Dan caranya kita memperlakukan orang lain bukan bergantung kepada cara biasanya mereka memperlakukan kita atau bagaimana kita pikir mereka akan memperlakukan kita akan tetapi dengan cara kita sendiri ingin diperlakukan.

Ada suatu perubahan dimana Yesus memberikan kita perintah emas ini yang sebelumnya belum pernah ada. Prinsip dasar sebelum ini selalu disarankan secara negatif. Confucius mengajarkan, “Janganlah memperlakukan orang lain, jika Anda sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu.” Rabi Hillel mengatakan, “Apa yang dibenci Anda sendiri, janganlah Anda melakukan terhadap orang lain.” Ahli filsafat Yunani bernama Epictetus mengatakan, “Penderitaan yang Anda hindari, janganlah Anda memberi kepada orang lain.’

Semua pernyataan-pernyataan ini hanya mementingkan diri dan bukan merupakan pernyataan kasih. Bentuk-bentuk negatif dari peraturan ini bukan emas, karena semua ini bukan bermotivasi kasih namun bermotivasi ketakutan dan penyelamatan diri dan berdasarkan keasyikan dan kenyamanan diri saja.

Hanya Roh Kristus sendiri dapat memberikan kita kuasa untuk lebih mementingkan orang lain; dan mengasihi seperti Dia mengasihi kita. Yohanes 13:34 mengatakan, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”

Yakobus 2:8 menamakannya “hukum utama” ketika dia membicarakan mengasihi sesamamu manusia. “Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik.” Jadi kasih memenuhi kedua hukum, yaitu perintah emas dan hukum utama.

Mar
22

An almost absurd question how can humans change God’s time? God always goes on in His plan and time in this world, who is human? who can change God’s time. Are we among those who wait for God’s time? There have been thousands of years in this world, as long as that sin remains. The devil and his accomplices have never fallen asleep to rule the world and mislead many people.

Believers wonder, when is the day of the coming of the Lord? Is God temporarily delaying judgment? Are we among those who are changing God’s time? extend or shorten his time?

God has time to carry out His will, fulfill His Word, Do we also have the ability to change God’s time? The Gospel of John 2: 1-5 tells about; On the third day there was a marriage at Cana in Galilee, and Jesus’ mother was there; Jesus and His disciples were also invited to the marriage.

When they lacked wine, Jesus’ mother said to Him: “They ran out of wine, Jesus said to him:” What do you want from me, mother? When I have not arrived. “But Jesus’ mother said to the servants:” What is said to you, make it! “There were six jars provided for washing according to the custom of the Jews, each containing two three jars. Jesus said to the servants: “Fill the jars full of water.” And they filled them to the brim.

There are three things to change God’s time:

1). Love

What is love? Love in the human or divine sense is the deepest form of personality as well as the closest and closest personal relationship. It may be easier to write and talk about love than to do it. But Mary taught us how the application of love in her faith could change God’s plan. When the marriage in Cana lasted they ran out of wine, Mary the mother of Jesus was part of this family and of course so was Jesus, Mary knew who Jesus was but there was a difference of interest here between Mary and Jesus, when Mary told Jesus that they were running out of wine.

Mary, the mother of Jesus, loved the family of the bride so much, she did not want them to be humiliated in front of invited guests so she had to encourage Jesus to declare His glory, perhaps a subtle rebuke to His mother, “Do you want me, Mother? when I have not arrived “, the rebuke does not make Maria discouraged. Verse 3 states that he came as a loving mother to the family of the bride and received her rebuke lovingly, John 15:12 says: “This is my commandment, that you love one another, as I have loved you, and verse 5 declares Mary to come as a faithful person who believes in God. In his words to servants; “What is said to you, make it!” We can see here that love can change His time God, when Mary loved the family of the bride, Jesus changed His time and performed the first miracle in Cana because He loved His mother and family bride.

There are various kinds of problems in life, which make us ask, when is my time restored? When will I be blessed by God? We always ask God, but we never ask ourselves when we love God. We will not be able to change God’s time for our lives to be better if we never have that love. And that character of love is clearly illustrated in 1 Corinthians 13: 4-8.

The fall of man in sin does not necessarily eliminate God’s love for humans, but God designs human salvation on a large scale through Jesus. John 3:16 says; Because God so loved the world that He gave His only begotten Son, so that everyone who believes in Him will not perish but have eternal life.

2). Believe

The verb in Indonesian “PERCAYA” in Hebrew is אָמַן – ‘AMAN, verb which is the basic word. In Greek the word PERCAYA is: πιστευω – PISTEUÔ, verb, this word comes from πεiθω – PEITÔ, verb. Trust / belief is a noun, in religious terms often referred to as “FAITH”, noun / noun. The word IMAN according to the large Indonesian dictionary is: belief and trust in God, prophets, books, or determination; determination and equanimity.

In this case we see that Jesus’ mother was so full of confidence that Jesus was able to solve the problems that occurred at that time, this personal relationship between mother and child was one of the things that triggered Maria to have firm beliefs, even though the answers received were a subtle form of rejection. but the basis of this belief dismantling Jesus’ defense in his official path that actually “when I have not arrived”.

One of the things that so many Christians face is the problem “Before I see it, I don’t believe it”. So that the problems faced only arrive at the logic and way of thinking we are wrong and can never solve the problem, the concept of surrendering or surrendering fully to Jesus has never been done, all only collided with human logic itself. Hebrews 11: 1 says; Faith is the basis of everything we hope for and evidence of things that we do not see.

We do not need concrete proof for a miracle to happen, all we need is faith or the basis of trust that we hope for where we do not or have not seen it. Miracles in Cana are the first miraculous deeds on the basis of a mother’s faith, to change God’s time.

this is one of the things that can change God’s time for us, no matter what our current problems are. God only asks for full trust or surrender fully to Him, let Him complete everything and do not limit His power to our logic, then we will see miraculous things that will happen in our lives.

3). Act

This act or action when dealing with the issue of Marriage in Cana is very clear, that it is not enough to love this family and believe Jesus is able to solve this problem, but Jesus’ mother instructed the servants to do what Jesus would command to do.

This is a pretty crazy problem when measured by human logic where in reality empty jars are filled with water and then brought to the party leader and served to the invitees, we see here faith works together with actions (James 2:13), if only the servants did not do what Jesus commanded, would that miracle happen?

Often we become the opposite of those servants, so much we read and hear about the truth of God’s word but in reality to obey it requires a very long time and maybe for the rest of our lives we never obey? Don’t be surprised if miracles have never happened in our lives, our lives are mediocre, the economy in the family has never been increased, which is always only a problem and a problem that never ends.

Do we realize that we are temporarily washed away from God? only because of our actions that do not want to obey God. And maybe we think while dancing to please God with love and faith in the church community or prayer meeting or Christian institutions that are financially protected, in fact we never step out of our place and just look for a safe and comfortable place.

Mary, the mother of Jesus and the servants felt uncomfortable with the problems that were taking place in front of them, they loved the family of the bride, they believed Jesus was the way out, and they were obedient to what Jesus commanded, this would change God’s time for our lives.

Mar
20

Suatu pertanyaan yang hampir tidak masuk akal bagaimana mungkin manusia bisa mengubah waktunya Tuhan? Tuhan senantiasa berjalan dalam rencana dan waktu-Nya di dalam dunia ini, siapakah manusia? yang bisa mengubah waktunya Tuhan. Apakah kita termasuk orang-orang yang menunggu waktunya Tuhan? Sudah ribuan Tahun dunia ini ada, sepanjang itu juga dosa tetap ada. Iblis dan antek-anteknya tidak pernah tertidur untuk menguasai dunia ini dan menyesatkan banyak orang.

Orang percaya bertanya-tanya, kapan hari kedatangan Tuhan itu? Apakah Allah sementara menunda penghakiman? Apakah kita termasuk orang-orang yang sedang mengubah waktunya Tuhan? memperpanjang atau memperpendek waktu-Nya?

Allah punya waktu untuk melaksanakan kehendak-Nya, menggenapi Firman-Nya, Apakah kita juga punya kemampuan untuk mengubah waktunya Tuhan?  Injil Yohanes 2:1-5 menceritakan tentang;  Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. 

Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur, Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat Ku belum tiba. “Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung.Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan mereka pun mengisinya sampai penuh.

Ada 3 hal untuk mengubah waktunya Tuhan:

1). Kasih

Apakah kasih itu? Kasih dalam pengertian insani atau pun ilahi merupakan bentuk ungkapan yang paling dalam dari kepribadian sekaligus hubungan pribadi paling akrab dan paling dekat. Mungkin lebih mudah menulis dan membicarakan tentang kasih ketimbang melaksanakannya. Tapi maria mengajarkan kita bagaimana penerapan kasih dalam imannya itu bisa mengubah rencana Allah. Ketika perkawinan di Kana berlangsung mereka kehabisan anggur, maria ibu Yesus adalah bagian dari keluarga ini dan tentunya demikian juga dengan Yesus, maria tahu siapa Yesus tetapi ada perbedaan kepentingan disini antara Maria dengan Yesus, ketika Maria menyatakan kepada Yesus bahwa mereka kehabisan anggur.

Maria ibu Yesus begitu mengasihi keluarga mempelai ini, dia tidak ingin mereka dipermalukan di depan tamu undangan sehingga dia harus mendorong Yesus untuk menyatakan kemuliaan-Nya, mungkin suatu teguran yang halus untuk ibu-Nya, “Mau apakah engkau dari pada-Ku, Ibu? saat Ku belum tiba”, teguran itu tidak membuat Maria tawar hati. Ayat 3 menyatakan dia datang sebagai seorang ibu yang penuh kasih terhadap keluarga mempelai dan menerima teguran anaknya itu dengan penuh kasih, Yohanes 15:12 katakan: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu, dan ayat 5 menyatakan Maria datang sebagai seorang yang penuh iman percaya kepada Tuhan. Dalam perkataannya kepada pelayan-pelayan; “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” Kita bisa melihat disini bahwa kasih bisa mengubah waktu-Nya Tuhan, ketika Maria mengasihi keluarga mempelai, Yesus mengubah waktu-Nya dan melakukan mujizat yang pertama kali di Kana karena Dia mengasihi ibu-Nya dan keluarga mempelai.

Ada berbagai macam persoalan dalam hidup, yang membuat kita bertanya, kapan waktunya saya dipulihkan? Kapan saya diberkati Tuhan? Kita selalu bertanya kepada Tuhan tapi kita tidak pernah bertanya pada diri kita sendiri kapan kita mengasihi Tuhan. Kita tidak akan bisa mengubah waktu-Nya Tuhan untuk kehidupan kita menjadi lebih baik kalau kita tidak pernah memiliki kasih itu. Dan karakter kasih itu sudah tergambar jelas di dalam Kitab 1 Korintus 13:4-8.

Kejatuhan manusia dalam dosa tidak serta merta menghilangkan kasih Allah kepada manusia, tetapi Allah merancangkan keselamatan manusia secara besar-besaran melalui Yesus. Yohanes 3:16 katakan; Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

2). Percaya

Kata kerja dalam Bahasa Indonesia “PERCAYA” dalam bahasa Ibrani adalah אָמַן – ‘AMAN, verb yang merupakan kata dasar. Dalam bahasa Yunani kata PERCAYA adalah: πιστευω – PISTEUÔ, verba, kata ini berasal dari πεiθω – PEITÔ, verba. Kepercayaan/ keyakinan adalah nomina, dalam istilah religius sering disebut dengan istilah: “IMAN”, kata benda/ noun. Kata IMAN menurut kamus besar bahasa Indonesia, adalah : keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, atau ketetapan hati; keteguhan dan keseimbangan batin.

Dalam hal ini kita melihat bahwa ibu Yesus begitu percaya penuh bahwa Yesus sanggup menyelesaikan persoalan yang terjadi pada waktu itu, hubungan personal antara ibu dan anak ini merupakan salah satu yang memicu Maria memiliki keyakinan teguh, walaupun jawaban yang diterima merupakan suatu bentuk penolakan secara halus, tetapi dasar dari kepercayaan ini membongkar pertahanan Yesus dalam jalur resminya bahwa sebenarnya “saat-Ku belum tiba”.

Salah satu yang dihadapi begitu banyak orang Kristen adalah persoalan “Sebelum aku melihat maka aku tidak mempercayainya”. Sehingga persoalan-persoalan yang dihadapi hanya sampai di logika dan cara berpikir kita yang salah dan tak pernah bisa menyelesaikan persoalan itu, konsep untuk menyerahkan atau berserah penuh kepada Yesus tidak pernah terlaksana, semua hanya terbentur pada logika manusia itu sendiri. Ibrani 11:1 mengatakan; Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Kita tidak perlu pembuktian yang konkrit untuk suatu mujizat bisa terjadi, yang kita butuhkan adalah iman atau dasar kepercayaan yang kita harapkan di mana kita tidak atau belum melihatnya. Mujizat di Kana adalah perbuatan ajaib yang pertama atas dasar iman seorang ibu, untuk mengubah waktunya Tuhan. inilah salah satu hal yang bisa mengubah waktunya Tuhan untuk kita, tidak peduli apa pun persoalan kita saat ini. Tuhan hanya meminta percaya penuh atau berserah penuh pada-Nya, ijinkan Dia menyelesaikan semuanya dan jangan batasi kuasa-Nya dengan logika kita, maka kita akan melihat perkara-perkara yang ajaib akan terjadi di dalam kehidupan kita.

3). Perbuatan

Perbuatan atau tindakan ketika menghadapi persoalan Perkawinan di Kana ini sangat jelas sekali, bahwa tidak cukup sampai mengasihi keluarga ini dan percaya Yesus sanggup menyelesaikan persoalan ini, tetapi ibu Yesus menginstruksikan kepada pelayan-pelayan untuk melakukan apa yang akan diperintah oleh Yesus supaya dilakukan.

Ini persoalan yang cukup gila kalau diukur dengan logika manusia di mana kenyataannya tempayan-tempayan kosong cukup di isi dengan air kemudian dibawa kepada pemimpin pesta dan dihidangkan kepada para undangan, kita melihat di sini iman bekerja bersama perbuatan (Yakobus 2:13), jika saja para pelayan tidak melakukan apa yang diperintahkan Yesus, apakah mujizat itu akan terjadi?

Seringkali kita menjadi kebalikan dari para pelayan itu, begitu banyak kita baca dan dengar tentang kebenaran firman Tuhan tetapi pada kenyataannya untuk menaatinya memerlukan waktu yang sangat lama dan mungkin juga seumur hidup kita tak pernah taat? Jangan heran kalau mujizat tidak pernah terjadi dalam kehidupan kita, kehidupan kita yang biasa-biasa saja, ekonomi dalam keluarga tidak pernah ada peningkatan, yang selalu ada hanya masalah dan masalah yang tak pernah habisnya.

Sadarkah bahwa kita sementara terhanyut meninggalkan Tuhan? hanya karena perbuatan kita yang tidak mau taat kepada Tuhan. Dan mungkin kita berpikir sementara menari-nari menyenangkan hati Tuhan dengan penuh kasih dan iman dalam suatu komunitas gereja atau persekutuan doa atau pun lembaga-lembaga Kristen yang terlindungi secara finansial, sesungguhnya kita tidak pernah melangkah meninggalkan tempat kita dan hanya mencari tempat aman dan nyaman.

Maria ibu Yesus dan para pelayan merasa tidak nyaman dengan persoalan yang sementara berlangsung di hadapan mereka, mereka mengasihi keluarga mempelai, mereka percaya Yesus adalah jalan keluar, dan mereka mau taat apa yang Tuhan Yesus perintahkan, inilah yang akan mengubah waktu-Nya Tuhan bagi kehidupan kita.

%d blogger menyukai ini: