TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Agu
23

Genre Mazmur adalah sebuah kelompok ayat-ayat yang sama dalam mood, isi, struktur atau susunan kata-katanya. Berikut ini adalah 7 macam genre Mazmur, beserta faktor-faktor yang perlu diperhatikan saat mempelajari mazmur :

1. Mazmur Pujian :
Mudah dikenali melalui kata-kata penuh sukacita yang ditujukan kepada Tuhan. Pemazmur mengutarakan semua perasaannya dengan penuh sukacita atas kebaikan Tuhan. Pujiannya penuh sukacita karena pemazmur menyadari kehadiran Tuhan.

Struktur umumnya :
(1) Panggilan untuk menyembah Tuhan.
Panggilan ini ditujukan kepada pemazmur sendiri atau kepada orang-orang lain yang percaya kepada Allah.
Sering dipakai sebuah pembukaan yaitu perintah “Pujilah TUHAN!” yang dalam bahasa Ibrani Haleluyah (113:1).
Ada suatu variasi tema panggilan menyembah Tuhan, yaitu pernyataan sederhana dari pemazmur bahwa dia ingin mempersembahkan pujian kepada Tuhan (92:2).

(2) Alasan mengapa Tuhan patut dipuji.
Tuhan dipuji bukan karena sesuatu yang abstrak, tetapi karena Ia sudah berbuat sesuatu dalam kehidupan pribadi atau kehidupan seluruh umatNya. Ini merupakan bagian pelajaran terpenting bagi kita, sebab itu, saat menyelidiki mazmur jenis ini kita harus mempelajarinya secara mendalam.
Bagian ini biasanya didahului dengan kata depan Ibrani ki, yang artinya sebab (92:2, 5; 96:1, 5).
Mazmur pujian bisa dibagi lagi berdasarkan alasan pujian yang disampaikan. Contohnya, Tuhan dipuji sebagai Pencipta semesta (Maz 8, 104, 148), Pelindung dan Pemelihara Israel (Maz 66, 100, 111, 114, 149), Tuhan atas Sejarah (Maz 33, 103, 113, 117, 147), atau Raja (Maz 47).
Alasan terpenting pemazmur memuji Tuhan adalah karena Tuhan sudah menyelamatkan Israel dari kesusahan; Ia telah menebus Israel dari musuh-musuhnya (Maz 98 yang merupakan pujian keselamatan).

(3) Ajakan untuk lebih lanjut memuji Tuhan.

2. Mazmur Keluhan (Ratapan) :
Ini merupakan ratapan pemazmur ketika berada dalam kesedihan. Ia tidak mempunyai tempat untuk menyatakan isi hatinya kecuali kepada Tuhan.
Ada 3 macam keluhan pemazmur dalam mazmur keluhan, yang harus kita identifikasikan saat menyelidikinya :
a. Pemazmur dibingungkan oleh pikiran dan perbuatannya (42:6 dan 12, 43:5).
b. Pemazmur mengeluh karena perbuatan-perbuatan musuh terhadap dia (42:4).
c. Pemazmur mengeluh karena perbuatan Tuhan yang membingungkan dia (42:10).

Struktur umumnya :
(1) Doa (Invocation).
(2) Permohonan minta tolong kepada Tuhan.
Pemazmur sering memulai dengan Invocation yang disatukan dengan sebuah permohonan minta tolong kepada Tuhan. Kecuali Tuhan, tidak ada seorangpun yang dapat menolong dia. (12:2, 17:1).
Kadang-kadang permohonan letaknya terpisah dari Invocation.
(3) Keluhan-keluhan.
Ini merupakan bagian penting karena menunjukkan motivasi pemazmur dalam memanjatkan doanya (22:7-8).
(4) Pengakuan dosa atau pernyataan tidak bersalah.
Bagian ini berisi pengakuan dosa pemazmur yang berkaitan dengan penderitaannya (69:6), atau sebaliknya, ia menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah atas hal itu (26:5).
(5) Kutukan pada musuh-musuh (109:8-9).
(6) Keyakinan pada respon Tuhan.
Meskipun pada umumnya “mood” keluhan adalah melankolik, tetapi terlihat pemazmur menyatakan penyerahannya atau keyakinannya kepada Tuhan (54:6).
(7) Pujian atau berkat.
Ketika pemazmur menyadari bahwa Tuhan dapat dan akan bertindak bagi dia, maka ia memuji Tuhan (26:12).

Kebanyakan keluhan adalah keluhan pribadi di mana pemazmur berbicara dalam kata ganti orang tunggal “aku” (3:6-8). Ada juga keluhan nasional, dan musuhnya ialah bangsa yang berusaha menghancurkan Israel (Maz 83).

3. Mazmur Pengucapan Syukur :
Mazmur ini adalah sebuah respon atas keluhan yang dijawab Tuhan. Juga ada hubungan yang erat antara pujian dan pengucapan syukur. Mazmur ini adalah pujian kepada Tuhan karena Ia sudah menjawab doa.
Strukturnya umumnya adalah :
(1) Pemazmur menyatakan maksudnya memuji Tuhan (34:2), atau dimulai dengan sebuah berkat (32:1).
(2) Pemazmur bersaksi tentang perbuatan besar Tuhan dalam hidupnya. Bahkan dia mengajak seluruh jemaat mengucap syukur kepada Tuhan bersama dia (30:5).
(3) Pengulangan keluhan yang sekarang telah dijawab oleh Tuhan (18:6-7).
(4) Sebuah catatan tentang keselamatan dari Tuhan (18:17).
(5) Pujian kepada Tuhan dan panggilan kepada orang lain untuk memuji Dia.

4. Mazmur Peringatan (Sejarah Penyelamatan) :                             Mazmur yang berpusat pada penebusan yang dilakukan Tuhan di masa lampau. Dalam mazmur-mazmur jenis ini, suatu rangkaian perbuatan Tuhan diperingati kembali. Isi pokoknya adalah perbuatan Tuhan yang ajaib (105:2).
Perbuatan-perbuatan Tuhan dicatat agar Israel dapat memuji Dia (105:1). Dan ada juga yang mengajar generasi masa depan untuk bertindak (78:7).

5. Mazmur Penyerahan (Keyakinan/Kepercayaan) :
Didominasi oleh rasa percaya kepada Tuhan. Pemazmur mengutarakan penyerahannya kepada kebaikan dan kuasa Tuhan. Dalam mazmur jenis ini, pemazmur menyatakan penyerahan kepada Tuhan meskipun ada musuh-musuh atau ancaman lain (11:2, 23:5).
Dalam kondisi demikian pemazmur tetap merasa damai karena Tuhan beserta dia (11:4, 23:4).
Mazmur-mazmur jenis ini berisi metafora-metafora indah yang memperlihatkan kesadaran akan hadirat Tuhan yang dekat dengan pemazmur. Tuhan adalah perlindungan (11:1, 16:1), gembala (23:1), terang (27:1), gunung batu (62:3) dan penolong (121:2).
Saat menyelidiki mazmur-mazmur ini, kita harus mengidentifikasikan faktor-faktor yang mengancam keselamatan pemazmur dan imageri-imageri Tuhan yang dipakai pemazmur untuk mengkomunikasikan keyakinannya pada Tuhan ketika ia menghadapi kesukaran.

 
6. Mazmur Hikmat :
Menekankan sebuah kontras dari pelbagai macam cara hidup yang menghasilkan akibat yang berbeda. Di satu sisi ada orang-orang jahat yang dikutuk Tuhan, di sisi lain ada orang-orang benar yang menerima berkat Tuhan (1:1, 6).
Sebagian mazmur jenis ini merenungkan tentang keindahan dan keajaiban hukum Tuhan (19:7). Ada yang menunjukkan kekaguman terhadap susunan dunia ciptaan Tuhan (19:1). Ada juga yang menyinggung tentang tentang kehidupan dan iman yang skeptis (Maz 73). Bahkan ada juga yang seperti Kidung Agung, yaitu dengan provokatif memberikan pujian kepada Tuhan untuk kasih antara manusia yang begitu intim (45:14-16).

7. Mazmur Raja :
Ada 2 macam :
(1) Yang berpusat pada raja Israel (Maz 20, 21, 45). Aspek kerajaan dari mazmur ini tidak segera terlihat, karena raja tidak menyebut dirinya “raja” melainkan “aku”.
(2) Yang memperlihatkan Tuhan sebagai Raja.

Kedua kelompok ini berhubungan erat karena raja adalah refleksi Tuhan di bumi. Sesungguhnya Tuhan adalah Raja (47:8).
Banyak Mazmur Raja memuji Tuhan sebagai Raja yang memberikan kemenangan dalam peperangan, sehingga mazmur ini dapat juga disebut Nyanyian Pahlawan Ilahi (Maz 98).
Karena mazmur merupakan puisi Ibrani, maka dalam mempelajarinya, kita harus memperhatikan ciri khas atau sarana-sarana dalam puisi Ibrani seperti yang telah diuraikan di atas. Dengan demikian mazmur harus dibaca sebagai satu unit sastra; diperlakukan sebagai satu kesatuan, tidak dipecah-pecah menjadi ayat-ayat tunggal atau pikiran tunggal.
Selain itu, perlu untuk mengikuti alur dan paralelisme dari suatu mazmur. Ini semua penting karena setiap mazmur memiliki pola pengembangan yang dengannya ide-ide disajikan, dikembangkan dan disimpulkan.

Mar
31

040912-buah-bibir1Growth in population and in particular the urban population in Indonesia has changed a lot of the social order, including the order of life are attending, particularly the urban community (urban parish). In the midst of rapid change so that an extraordinary impact, would not want the church is also confronted with a change of strategy and mission services that require adjustments and the anticipated deal with it.
Psychologically and spiritually we see that the urban society increasingly individualistic and diminishing concern for neighbors, many households are messy and lack the bond of love between parents and children caused many casualties.

Spiritual ministry felt increasingly less ‘bite’ due to career pressures cause a lack of human attention to religion. Stress work, career and saturation of modern life tends to produce spiritual community empty city that became an easy target emotional cults without having significant impact on the spiritual life.
In addition to the many churches, the increasingly lukewarm and empty, a lot of “communion” mushroomed in major cities, including in offices, restaurants and public buildings more, a lot of businessmen, the rich, important people attended, but didurban spiritual excitement it generates a repentant life? It is unquestionable, because even though many people are present in associations so it seems entrepreneurs are generally still does not reflect changes in how its trade even though he began diligently make offerings or tithe.
Morality cities is declining sharply, the law is increasingly becoming the city ethics and business ethics, and human cities will increasingly become a means of production and the growing loss of identity and conscious law is weak. Symptoms of urban spirituality thus points to the fact that the apparent where religion was searched and rewarding emotionally but was powerless to transform modern man in town.

Religion grow quantitatively but qualitatively questionable.
Residents modern city increasingly secularized, individualistic and materialistic and also they tend to look for groups of “primordial” such as ethnicity, religion and race, which is why in large cities tend to gather in tribal or compatriot become stronger as a brake on safety tendency modernization further eliminate human identity.

On the other hand the danger Primordialism is excessive tribal feeling, which ties a person in the first group with all the value obtained through socialization will play a role in shaping attitudes primordial. On the one hand, the primordial attitude has the function to preserve the culture of the group. However, on the other hand this attitude can make individuals or groups have the attitude of ethnocentrism, the attitude or outlook stem from the society and culture of its own, usually accompanied by attitudes that belittle people and other cultures, they will always look at other cultures of glassesculture.

This happens because of the values that have been socialized since childhood has become ingrained value (internalized value) and extremely difficult to change and likely to be maintained if the value is very beneficial for him.
There are two types of ethnocentric: 1. ethnocentric infleksibel which is an attitude that tends to be subjective in view of the culture or the behavior of others, namely a flexible 2. ethnocentric attitudes that tend to judge the behavior of others is not only based on their own cultural standpoint but also angle perspective of other cultures.
In the church life we see the same phenomenon in which many are looking back primordialism religious belief or cling to religion and tend to be fanatical, for example: A group of people who consider religion the most correct and superior to other religions and cause conflict because his thinking. The strengthening primordialism can also lead to the emergence of discrimination as an attempt to differentiate the classes related to special interests who do intentionally.
Forms of discrimination carried out by treating differently those groups that is based on race, ethnicity, religion, majority, minority in the form of church life in addition to seeking an escape emotional as compensation saturation of modern life. In some ways the church seems to be useful to fill emotional and needs primordial thirst, but as “servant of God” church clearly therefore not be a “blessing” for the community if he did not have the sensitivity of environmental and social concerns.

Mar
30

gereja-simultan-2Perkembangan penduduk dan khususnya penduduk perkotaan di Indonesia telah mengubah banyak tatanan sosial termasuk tatanan kehidupan berjemaat, khususnya jemaat perkotaan (urban parish). Di tengah-tengah perubahan cepat demikian yang menimbulkan dampak luar biasa, mau tidak mau gereja juga diperhadapkan dengan perubahan strategi dan misi pelayanannya yang membutuhkan penyesuaian dan juga antisipasi menghadapi hal itu.
Secara psikis dan spiritual kita melihat bahwa masyarakat perkotaan makin individualistis dan kepeduliannya kepada tetangga makin menipis, rumah tangga banyak yang berantakan dan kurangnya ikatan kasih antar orang tua dan anak menimbulkan banyak korban.

Pelayanan rohani makin kurang dirasakan “menggigit” karena tekanan karir menimbulkan kurangnya perhatian manusia pada agama. Stress pekerjaan, karir dan kejenuhan hidup modern cenderung menghasilkan masyarakat kota yang kosong rohani yang menjadi sasaran empuk ibadat-ibadat emosional tanpa memiliki dampak berarti bagi kehidupan spiritual.
Di samping banyak gereja, yang makin suam dan kosong, banyak “persekutuan” menjamur di kota-kota besar termasuk di kantor-kantor, restoran-restoran, dan gedung-gedung umum lainnya, banyak pengusaha, orang kaya, orang penting menghadirinya, tetapi apakah kegairahan spiritual perkotaan itu menghasilkan kehidupan yang bertobat? Hal ini perlu dipertanyakan, sebab sekalipun banyak orang hadir dalam persekutuan-persekutuan demikian kelihatannya para pengusaha itu umumnya tetap tidak menunjukkan perubahan dalam cara dagangnya sekalipun ia mulai rajin memberikan persembahan atau persepuluhan.
Moralitas kota makin merosot tajam, hukum rimba makin menjadi etika kota dan etika bisnis, dan manusia kota akan makin menjadi alat produksi dan makin kehilangan identitas diri dan sadar hukumnya lemah. Gejala demikian menunjukkan fakta spiritualitas perkotaan yang semu di mana agama memang dicari dan bermanfaat secara emosional tetapi tidak berdaya mentransformasikan manusia modern di kota.

Agama bertumbuh secara kuantitatif tetapi secara kualitatif masih dipertanyakan.
Penduduk kota modern makin sekular, individualistis dan materialistis dan juga mereka cenderung mencari kelompok-kelompok “primordial” seperti SARA, itulah sebabnya di kota-kota besar kecenderungan untuk berkelompok secara kesukuan atau sekampung menjadi lebih kuat sebagai rem pengaman kecenderungan modernisasi yang makin menghilangkan identitas diri manusia.

Disisi lain bahayanya Primordialisme adalah perasaan kesukuan yang berlebihan, dimana ikatan seseorang pada kelompok yang pertama dengan segala nilai yang diperolehnya melalui sosialisasi akan berperan dalam membentuk sikap primordial. Di satu sisi, sikap primordial memiliki fungsi untuk melestarikan budaya kelompoknya. Namun, di sisi lain sikap ini dapat membuat individu atau kelompok memiliki sikap etnosentrisme, yaitu sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaannya sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain, mereka akan selalu memandang budaya orang lain dari kacamata budayanya.

Hal ini terjadi karena nilai-nilai yang telah tersosialisasi sejak kecil sudah menjadi nilai yang mendarah daging (internalized value) dan sangatlah susah untuk berubah dan cenderung dipertahankan bila nilai itu sangat menguntungkan bagi dirinya.
Terdapat 2 jenis etnosentris yaitu: 1. etnosentris infleksibel yakni suatu sikap yang cenderung bersifat subyektif dalam memandang budaya atau tingkah laku orang lain, 2. Etnosentris fleksibel yakni suatu sikap yang cenderung menilai tingkah laku orang lain tidak hanya berdasarkan sudut pandang budaya sendiri tetapi juga sudut pandang budaya lain.
Dalam kehidupan bergereja kita melihat gejala yang sama di mana banyak yang mencari kembali primodialisme agama yang mempercayai atau berpegang teguh pada agamanya sendiri dan cenderung fanatik, contoh: Sekelompok orang yang menganggap agamanya paling benar dan unggul dari agama lain dan menyebabkan konflik karena pemikirannya. Menguatnya primodialisme dapat juga mengakibatkan munculnya diskriminasi sebagai upaya untuk membedakan golongan-golongan yang berkaitan dengan kepentingan tertentu yang dilakukan dengan sengaja.
Bentuk diskriminasi dilakukan dengan memperlakukan golongan-golongan secara berbeda yang di dasarkan pada ras, suku bangsa, agama, mayoritas, minoritas dalam bentuk kehidupan bergereja di samping mencari pelarian emosional sebagai kompensasi kejenuhan kehidupan modern. Di satu segi kelihatannya gereja ada manfaatnya untuk mengisi kehausan emosional dan kebutuhan primordialisme, tetapi sebagai “Hamba Allah” jelas gereja demikian tidak menjadi “berkat” bagi masyarakat bila ia tidak mempunyai kepekaan lingkungan dan kepedulian sosial.

%d blogger menyukai ini: