TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Nama Allah dalam Perjanjian Baru


Theos,
Pada mulanya nama Theos digunakan oleh penyembah berhala, namun dalam Perjanjian Baru Yunani digunakan sebagai nama, gelar, atau panggilan dari Allah yang benar. Penyembah berhala menganggap “ilah-ilah” adalah pencipta dan pengatur segala sesuatu. Orang-orang Yunani purba menggunakan kata ini baik dalam bentuk tunggal maupun jamak. Jika mereka menggunakan bentuk jamak, hal ini mengisyaratkan keyakinan mereka bahwa unsur-unsur ilah itu memiliki tugas penciptaan dan pengaturan masing-masing, misalnya ilah uang disebut ‘mamon’.
Perjanjian Baru biasanya juga memakai istilah Theos untuk Bapa, kadang-kadang ini juga dipakai untuk Yesus dalam keadaan-Nya yang ada sebelum semua ada (prainkarnasi), inkarnasi, atau paskah kebangkitan. Sebagaimana untuk Bapa, Theos adalah suatu nama. Sebagaimana untuk Yesus, Theos adalah sebutan umum (generik), yang mendeskripsikan genus Yesus sebagai yang tergolong kategori Ilahi. Dalam pemakaian ini theos menunjuk tidak kepada fungsi Kristus atau jabatan tetapi menunjuk kepada tabiat-Nya.
Dalam pemakaian kristologis theos, kita akan menemukan dasar dan puncak Kristologi Perjanjian Baru dimana Theos adalah gelar kristologis yang tegas dan menegaskan keilahian Yesus Kristus

Kurios,
Kata Kurios atau Kyrios dalam bahasa Yunani (κύριος) dapat berarti Tuhan, tuan atau master, yang juga digunakan baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kyrios muncul sekitar 740 kali dalam Perjanjian Baru, dan biasanya mengacu pada Yesus, selain menunjuk Allah sebagai Yang Mahakuasa, Tuhan, Pemilik, Penguasa yang berhak penuh dalam otoritas-Nya kepada semesta alam.

Penggunaan Kyrios dalam Perjanjian Baru telah menjadi bahan perdebatan di kalangan sarjana modern, Yang pertama adalah bahwa berdasarkan penggunaan Septuaginta, penunjukan ini dimaksudkan untuk menetapkan ke Yesus, atribut Perjanjian Lama Allah. Alasan di sini adalah bahwa pada saat Septuaginta ditulis, ketika membaca dengan suara keras, orang-orang Yahudi mengucapkan Adonai, kata Ibrani untuk “Tuhan”, dan ketika mereka menemui nama Allah, “YHWH” yang diterjemahkan kedalam bahasa Yunani mereka menyebutnya sebagai Kyrios/Kurios.
Yang kedua adalah sebagai Gereja awal, kekristenan banyak dipengaruhi kebudayaan Helenistik yang mengakibatkan perubahan dalam penggunaan istilah. Yang ketiga adalah bahwa Kurios/Kyrios adalah terjemahan dari judul bahasa Aram “Mari” yang diterapkan kepada Yesus. Dalam bahasa Aram sehari-hari, “Mari” adalah bentuk sangat menghormati atau sopan, jauh di atas “Guru” dan mirip dengan Rabi. Dalam bahasa Yunani ini telah diterjemahkan sebagai Kyrios. Sementara istilah “Mari” mengungkapkan hubungan antara Yesus dan murid-muridnya selama hidupnya, Kyrios datang untuk menyatakan Tuhan atas seluruh dunia.

Kyrios merupakan elemen kunci dari Kristologi Rasul Paulus. Kyrios mendefinisikan hubungan antara Yesus dan orang-orang yang percaya kepada-Nya sebagai Kristus: Yesus adalah Tuhan dan Guru mereka yang harus dilayani dengan segenap hati mereka dan yang suatu hari akan menghakimi tindakan mereka sepanjang hidup mereka. Kata Kyrios bagi Yesus adalah pusat pengembangan Kristologi Perjanjian Baru, untuk umat Kristen awal yang menempatkannya di tengah-tengah pemahaman mereka dan yang berusaha untuk memahami isu-isu lain yang terkait dengan kekristenan.

Bapak/Bapa,
Dalam perjanjian Baru sebutan Bapak/Bapa/Father (inggris) dipakai dalam pengertian khas dan sangat pribadi. Kristus memakainya terlebih dahulu, mengenai hubungan-Nya sendiri dengan Allah. Hubungan ini adalah unik dan tidak dapat dibagikan dengan makhluk apapun juga.
Allah adalah BapakNya melalui kelahiran yang kekal, suatu istilah yang menggambarkan hubungan yang hakiki dan abadi. Yesus dalam ajaranNya kepada 12 murid-Nya, tidak pernah memakai sebutan “Bapa kita” mencakup diri-Nya dan murid-muridNya. Dalam amanat-Nya setelah kebangkitan-Nya, Ia menunjukkan dua hubungan yang berbeda yaitu “Bapa-Ku dan Bapamu”.
Dalam Injil Yohanes 20:17, Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”

Kedua hubungan tersebut terangkai sedemikian rupa, sehingga yang satu menjadi dasar bagi yang lain. Ia sebagai Anak, meskipun dalam tingkat yang sama sekali unik, adalah dasar dari status murid-murid sebagai anak. Ajaran Yesus tentang ke-Bapak-an Allah (Allah Bapa) membatasi hubungan itu terhadap umat-Nya yang percaya. Tidak pernah dilaporkan bahwa Ia menganggap hubungan ini terjadi antara Allah dengan orang yang tidak percaya.

Ia bukan hanya tidak mengisyaratkan Allah sebagai Bapa yang menyelamatkan semua orang, tapi Ia mengatakan dengan sangat tajam kepada orang-orang Yahudi yang suka bertengkar, “Iblislah yang menjadi bapamu” (Yohanes 8:44). Dalam hubungan dengan kata ‘Bapa’ inilah, Perjanjian Baru menunjukkan segi-segi yang lebih lembut dari tabiat Allah, kasih-Nya, pemeliharaan-Nya, karunia-Nya dan kesetiaan-Nya.

About these ads

Belum Ada Tanggapan to “Nama Allah dalam Perjanjian Baru”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: