TERANG TUHAN
Terang Tuhan Bersinar Bagimu

Pria & Wanita Sederajat?


Kesederajatan dan keserupaan adalah dua hal yang berlainan sekali.  Pria dan wanita berbeda satu sama lain, dan mereka saling mengisi melalui kualitas tersendiri dari seksualitas masing-masing, baik secara psikologis maupun fisiologis. Kenyataan ini mendasari peranan sejati kita yang berbeda-beda dalam masyarakat.
Wajar jika para feminis berontak terhadap asumsi bahwa kaum wanita harus mengacu pada peranan yang sudah diperuntukkan baginya dari semula. Sebab siapa pembuat acuan itu kecuali kaum pria? Itulah kaum wanita merasa dirinya wajib mengacu, dan itu adalah suatu bentuk paksaan kepada mereka oleh suatu masyarakat yang didominasi kaum pria.
Kultur kita tidak merelakan kaum wanita menerima atau memenuhi kebutuhan asasi mereka untuk bertumbuh dan menggenapi potensi-potensinya sebagai makhluk manusia.

Memang adalah panggilan ilahi untuk menjadi seorang ibu, dan panggilan ini menuntut pengorbanan-pengorbanan yang besar, namun bukan hanya itu yang menjadi satu-satunya panggilan kaum wanita, di luar itu masih banyak lagi bentuk-bentuk pelayanan yang dapat dilakukan kaum wanita terhadap masyarakat yang sama seriusnya dan tanpa pamrih.

Tidak ada petunjuk dalam Alkitab yang menunjukkan seakan-akan menyarankan bahwa kaum wanita sebaiknya jangan memburu karir atau mencari nafkahnya sendiri atau bahwa wanita yang sudah kawin harus melakukan semua kegiatan berbelanja, memasak dan membersihkan, sementara suaminya tinggal menikmati hasil jerih payah sang istri dengan berpangku tangan atau bahwa mengurus bayi adalah pekerjaan khusus yang eksklusif diperuntukkan bagi wanita, dan merupakan daerah terlarang bagi pria.

Dalam kitab Kejadian, TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”…. Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu (Kejadian 2:18-22).

Kejadian pasal 2 ini menjelaskan bahwa sepadan bukan berarti serupa, melainkan saling isi-mengisi.
Komplementer adalah kombinasi sepadan tapi berbeda, ini yang membuat kita sukar mempertahankannya. Namun kedua bagian itu bukan tak tersatukan, yang satu adalah pantaran dari yang lain. Karena laki-laki dan perempuan adalah sepadan (berdasarkan ciptaan dan di dalam Kristus), karena mereka adalah komplementer maka tidak mungkin ada soal keserupaan yang satu dengan yang lain.

Selanjutnya, kebenaran ganda ini mempertajam penglihatan kita terhadap hubungan pria-wanita serta peranannya masing-masing, karena mereka adalah yang diciptakan Allah dengan martabat yang sepadan, maka pria dan wanita harus saling menghormati, mengasihi, melayani dan bukan saling membenci karena mereka diciptakan secara komplementer, saling melengkapi, maka pria dan wanita harus mengakui perbedaan mereka dan jangan berusaha meniadakannya atau saling merebut ciri khas masing-masing.

Wanita bukan diciptakan dari kepala pria supaya mengepalai dia, bukan pula dari kakinya supaya diinjak-injak oleh dia, melainkan dari sisinya supaya berdampingan dengan dia, di bawah lengannya supaya terlindung, dan dekat kepada jantungnya supaya dikasihi.
Kesederajatan pria dan wanita ditegakkan oleh penciptaan (Kejadian Pasal 2) tapi kemudian dirusak oleh kejatuhan (Kejadian Pasal 3), dan ditegakkan kembali oleh keselamatan yang ada di dalam Kristus Yesus (Perjanjian Baru).

Maka dengan demikian pria dan wanita adalah mutlak sederajat dalam arti nilai di hadapan Allah, sama-sama diciptakan Allah dalam keserupaan dengan Allah, sama-sama dibenarkan oleh anugerah melalui iman, sama-sama mengalami regenerasi oleh Roh Kudus yang dicurahkan dan sama-sama merupakan pewaris anugerah Allah dalam Kristus Yesus.

5 Tanggapan to “Pria & Wanita Sederajat?”

  1. keren juga gambar yang ditampilkan. saya juga setuju dengan apa yang dikatakan penulis bahwa perempuan dan laki-laki mutlak sederajat dalam arti nilai di hadapan Allah. namun dalam pandangan masyarakat adat dan agama sebaiknya juga seperti itu, jika terjadi diskriminasi terhadap perempuan maupun laki-laki berarti kita tidak menjalankan perintah Allah.

  2. Thanks ya, sudah mau komentar….Tuhan Yesus memberkatimu.

  3. I THINK ITS SO GOOD
    I LOVE THIS… :)

  4. wwooww


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: